Dalam setiap kehidupan, ada kesedihan dan kebahagiaan, ada hari dimana kita kehilangan kepercayaan kita, hari dimana teman kita melawan diri kita sendiri. Tapi hari itu tak akan pernah datang saat kita membela suatu hal yang paling berharga dalam hidup ~ @MotivatorSuper
Tampilkan postingan dengan label Culture. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Culture. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 01 Maret 2014

Seni Tari Melayu: Struktur dan Refleksi Keindahan


Yang mendukung studi tari masih sangat langka, apalagi yang membahas tentang estetika tari Melayu. Padahal tari Melayu yang hidup dan berkembang sekarang, terutama tari Melayu Riau dan Sumatera Timur, memungkinkan

Oleh : Dr. Sal Murgiyanto, MA.

Penulis risau, karena bahan rujukan yang mendukung studi tari masih sangat langka, apalagi yang membahas tentang estetika tari Melayu. Padahal tari Melayu yang hidup dan berkembang sekarang, terutama tari Melayu Riau dan Sumatera Timur, memungkinkan untuk diolah dan dibentuk. Pengolahan dan pembentukan tersebut akan menambah kekayaan ekspresi dari bentuk-bentuk yang ada. Meskipun demikian, jatidiri tari daerah tetap perlu dipelihara sebagai perwujudan kehidupan budaya daerah. Di lain pihak, tari karya baru tidak perlu menutup diri dari pengaruh budaya luar.

1. Pendahuluan

Tari adalah salah satu sakaguru seni pertunujukan tradisi Indonesia. Tari yang merupakan cabang seni pertunjukan tertua lahir bersamaan dengan lahirnya kebudayaan manusia. Ironisnya, sebagai disiplin studi, tari justru merupakan disiplin yang paling muda.

Perguruan tinggi tari pertama di Indonesia adalah ASTI Yogyakarta (kini Jurusan Tari, Fakultas Kesenian, Institut Seni Indonesia) yang baru didirikan pada tahun 1963. Oleh karena itu, literatur yang mendukung studi tari masih sangat terbatas, apalagi yang membahas keindahan atau estetika tari-tari Melayu.

Berbeda dengan hasil karya seni rupa yang dapat dinikmati oleh pembuat dan peminatnya sepanjang mereka mau, maka tari hanya dapat dinikmati sekali saja pada saat dipergelarkan. Sebuah pertunjukan tari memang dapat diulangi, tetapi pergelaran ulang sesungguhnya tidak pernah sama dengan pergelaran sebelumnya. Baik suasana, kondisi penari, tempat pertunjukan, maupun waktunya. Karena alasan di atas, maka pembahasan ini didasarkan pada pengamatan terhadap tari-tari Melayu yang hidup dan berkembang hingga 1985, terutama yang tampil di kota Jakarta sejak tahun 1977.

Jenis-jenis tari yang diamati tidak terbatas pada tari-tari Melayu Riau dan Sumatera Utara yang disebut sebagai daerah asal dan pusat Budaya Melayu, tetapi juga kelompok Melayu dari Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, bahkan yang berasal dari Malaysia.

2. Estetika Dan Keindahan Seni

Perlu ditegaskan bahwa pembahasan akan dititikberatkan pada tari dalam fungsinya sebagai karya seni yang dihayati untuk mendapatkan pengalaman estetika dan bukan dalam fungsinya yang lain, seperti untuk upacara, hiburan, pergaulan, penerangan, pendidikan, dan lain-lain, karena istilah estetika secara universal hampir selalu diasosiasikan dengan karya seni, meskipun penghayatan keindahan bukan monopoli karya seni. Di bidang seni, estetika sering menimbulkan penafsiran yang bermacam-macam.

Penilaian estetika seseorang dipengaruhi oleh ketajaman penghayatan, suasana emosional, kebebasan, selera, pengalaman, keleluasaan apresiasi, ide keindahan, kebenaran, kenikmatan, realitas, sistem nilai, dan rasa aman, karena nilai-nilai tradisi yang telah mapan dalam moral, agama, prinsip, politik, sosial, dan elemen-elemen magis mungkin tidak disadari adanya. Menurut Ellfeldt (1976: 136), estetika membahas tentang teori filosofis tanpa memberi rumus objektif atau bukti-bukti, yang sasarannya untuk membahas aspek-aspek nilai dari sebuah penghayatan.

Pembahasan yang menitikberatkan fungsi utama tari Melayu bukan berarti melupakan kaitan nilai-nilai keindahan tari dengan nilai-nilai budaya Melayu yang lain, karena pertama, sebuah karya seni tidak bertanggung jawab atas kualitas dan penerimaannya oleh penonton. Tanggung jawab ini dipikul oleh keadaan budaya asal karya tersebut. Karya seni bukan sebuah benda yang ditempelkan begitu saja kepada sekelompok masyarakat. Kedua, karya seni timbul dari kualitas yang menjadi ciri-ciri pokok dari masyarakat induknya. Jika masyarakat yang menghasilkan berantakan, maka karya seni yang dihasilkan akan mencerminkan gambaran di atas. Jika masyarakat yang menghasilkannya kokoh dan moralistik, maka keseniannya pun akan menggambarkan hal yang serupa (Nikolais, 1956: 74).

Hal ini menyebabkan Chairul Harun menyarankan untuk mengamati karya-karya tari Indonesia secara artistikantropologis. Saran tersebut didukung oleh pengamat tari lain. Pendekatan semacam ini memang tengah ramai dibicarakan, terutama di kalangan para ahli antropologi tari, seperti pernyataan berikut:

Tari adalah salah satu ekspresi budaya yang sangat kaya, tetapi paling sulit untuk dianalisis dan diinterpretasikan. Mengamati gerak laku sangat mudah, tetapi tidak mengetahui maknanya. Tari dapat diinterpretasikan dalam berbagai tingkat persepsi. Untuk memahami maksud yang hendak dikomunikasikan dari sebuah tarian, orang perlu tahu tentang kapan, kenapa, dan oleh siapa tari dilakukan. Dalam mengukur kedalaman sebuah tarian atau menjelaskan sebuah pertunjukan dari kebudayaan lain dituntut pemahaman cara dan pandangan hidup masyarakat yang menciptakan dan menerima tarian tersebut (Kuper via Snyder, 1984: 5).

3. Jenis-Jenis Tari Melayu

Pusat-pusat pemerintahan atau Kerajaan-kerajaan Melayu hampir seluruhnya terletak di tepi sungai atau di tepi pantai, dan sejak dulu orang Melayu ahli berdagang. Kedua hal ini menyebabkan kebudayaan Melayu terbuka terhadap pengaruh luar. Salah satu pengaruh besar yang kemudian meresap dalam bidang religi adalah pengaruh Arab-Islam. Pengaruh ini seakan-akan menghapus budaya Hindu dan Budha, sehingga budaya Hindu-Budha tinggal penghias dalam kebudayaan Melayu. Kesenian Zapin (Gambus), Kasidah, Rodat (Barodah), dan Zikir Barat adalah pengaruh dari kebudayaan Islam tersebut (Sinar, 1982: 3).

Jauh sebelum Islam masuk, hubungan Melayu dengan Siam sudah terbina cukup baik. Pengaruh Siam yang masuk melalui Kedah dan Perlis terlihat dalam bentuk pertunjukan Makyong, Menora, dan Mendu di wilayah Luhak Teluk Aru di Langkat dan di Kerajaan Deli Serdang. Pengaruh India, dalam hal ini Keling atau Tamil, India Selatan, terus berlanjut, sesudah Islam identik dengan Melayu. Pada akhir abad ke-19 pengaruh India ditandai dengan berkembangnya pertunjukan wayang Parsi, Bangsawan, dan sebagainya.

Selanjutnya T. Luckman Sinar (1982: 5–12) membagi tari-tarian Melayu dalam empat kelompok. Pertama, kelompok tari yang masih bersifat magis-religius. Tari dipimpin oleh pawang yang mengucapkan mantra-mantra tertentu, seperti yang dilakukan dalam upacara mengambil madu lebah, jamu laut, jamu bendang atau dalam tarian keliling sambil menginjak-injak padi (Ahot-ahot). Dalam pertunjukan Makyong, pawang mendapat bagian yang menghadap rebab. Kedua, kelompok tari perang. Tari yang termasuk jenis ini adalah tari silat dan tari pedang yang ditarikan oleh laki-laki dengan memakai senjata (pisau, keris, atau pedang). Tarian ini dilakukan untuk menyambut tamu penting atau untuk mengarak pengantin. Tari Inai dengan gerakan silat sambil memegang lilin yang ditarikan di depan pelaminan dalam “Malam Berinai Besar” termasuk dalam kelompok ini. Ketiga, tari pertunjukan. Tari ini dibedakan menjadi tari yang bersifat semireligius dan tari yang semata-mata bersifat hiburan. Barodah dan Zikir Barat yang menyanyikan syair pemujaan kepada Allah dan Rasullulah dalam bahasa Arab dan bersumber dari kitab Barzanzi masuk dalam tari semireligius. Adapun tari yang bersifat hiburan semata-mata yaitu Zapin. Keempat, kelompok tari-tari Ronggeng untuk menandak, antara lain tari Lagu Senandung, tari Lagu Dua, tari Lenggang Mak Inang/Cik Minah Sayang, tari Pulau Sari, tari Patam-patam, dan Gubang. Tari Lagu Senandung, tari Lagu Dua, tari Lenggang Mak Inang/Cik Minah Sayang, dan tari Pulau Sari ini sering dilakukan dalam satu rangkaian dan disebut sebagai tari Melayu “empat serangkai”.

Dalam khazanah tari Melayu dikenal empat istilah yang berarti tari, yaitu tandak, yang menekankan pada langkahlangkah kaki; igal, yang menekankan pada gerakan-gerakan tubuh; liuk, yang menekankan pada gerakan merendahkan tubuh dan mengayunkan badan dan tangan seperti menggelai dan melayah; dan tari, yang ditandai dengan gerakan lengan, tangan, dan jari-jari yang lemah gemulai. Istilah tari juga digunakan untuk menyebut tari Melayu pada umumnya (Sheppard, 1972: 82).

Untuk Riau, kelompok tari pertama ditambah tari Mayang (Berasik) yang berfungsi untuk mengobati sakit menahun secara tradisional; tari Bandabus; tari Alu; tari Lukah; dan tari Topeng Binatang. Kelompok kedua ditambah tari Cecah Inai dan tari Olang-olang, sedangkan untuk golongan tari pertunjukan ditambah tarian istana, seperti tari Air Mawar yang dipakai untuk menyambut tamu-tamu penting dan tari Menjunjung Duli (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, t.t.: 123–25).

Menurut almarhum Tengku Nazly A. Mansur, dari beberapa jenis tari di atas, yang sudah digarap dan dikembangkan baru tari Tandak. Tari Tandak digarap dan dikembangkan oleh almarhum Sayuti dan almarhum Tengku Rajih Anwar pada tahun 1950-an. Tari ini kemudian melahirkan tari Serampang XII yang dikenal hampir di seluruh wilayah Indonesia. Walaupun masing-masing kelompok tari memiliki ciri khas, tetapi bagi yang menguasai tari Tandak dapat dengan mudah mempelajari jenis tari Melayu yang lain, sehingga tari Tandak memegang peran penting dalam tari Melayu (Mansur, t.t.). Semula, tari Tandak dimainkan oleh penari upahan dengan mengumpulkan uang sewa. Pada masa lalu tari ini menarik perhatian kalangan istana yang kemudian mengolahnya menjadi tari Joget.

4. Struktur Dan Estetika Tari Melayu

Dalam pembicaraan tentang estetika atau keindahan tari, jenis-jenis tari yang dilakukan sebagai pelepas kekuatan emosional dan fisikal tidak akan dibahas, karena dalam tingkat ini keperluan teknik gerak belum disadari. Keterampilan gerak biasanya dikuasai secara instingtif dan intuitif. Tari sebagai ungkapan seni mulai hadir ketika orang mulai sadar akan pentingnya teknik atau keterampilan gerak, dan ketika itu orang mulai mengatur gerak, artinya mulai ada tuntutan keteraturan atau bentuk. Sejalan dengan pertumbuhan itu mulai tumbuh kepekaan nilai pengalaman dan perasaan yang dihayati secara lebih mendalam. Masalah dasar dalam kesenian adalah pengaturan yang terkendali dari suatu medium dalam rangka mengkomunikasikan imaji-imaji dari pengalaman manusia (Ellfeldt, 1976: 160).

Dalam Diskusi Tari Tradisi yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta pada Desember 1975, sejumlah ahli tari kita merumuskan pengertian dasar unsur estetika tari yang meliputi medium (bahan baku), penggarapan, isi, dan penyajian (Dewan Kesenian Jakarta, 1976: 157).

a. Medium atau Bahan Baku

Medium atau bahan baku tari adalah gerak yang setiap hari kita lakukan. Berdasarkan fungsinya, gerak dapat dibedakan atas tiga macam, yaitu gerak bermain yang dilakukan untuk kesenangan pelakunya, gerak bekerja yang dilakukan untuk memperoleh hasil, dan gerak tari yang dilakukan untuk mengungkapkan pengalaman seseorang atau masyarakat agar dihayati secara estetika oleh penikmat atau penontonnya. Sebuah gerakan dinilai baik jika tujuan gerak tersebut dapat dipenuhi dengan efisiensi maksimal dengan usaha yang sekecil-kecilnya, sehingga gerakan tersebut dapat dilakukan dengan mudah dan terkendali tanpa gerak tambahan yang tidak perlu. Ellfeldt (1976: 136) menyebutkan bahwa yang melahirkan gerakan-gerakan yang gemulai, anggun, indah adalah pengendalian tenaga dalam melakukan gerak.

Dalam kehidupan sehari-hari, orang hampir tidak pernah menganalisis keindahan gerak yang dilihatnya. Mereka lebih bereaksi dengan menyatakan kekaguman atau ketidaksenangannya tanpa penjelasan lebih jauh.

Teknik Gerak

Salah satu hal yang membuat kita dapat merasakan keindahan sebuah gerak tari adalah ketika pelakunya mampu menarikan dengan kekuatan, kelenturan, dan koordinasi yang sempurna, sehingga rasa gerak yang dilakukan merambat dan dirasakan oleh penonton. Kalau penari menggambarkan gerakan terbang, maka penonton pun seakanakan ikut terbang bersama penari.

Faktor pertama yang mempengaruhi estetika gerak tari adalah keterampilan atau kemahiran melaksanakan gerak. Penari Jawa menyebutnya wiraga dan dalam literatur Barat disebut teknik gerak atau teknik tari. Berbeda dengan gerakan dalam olahraga, gerakan tari bukan saja harus dilakukan secara benar, tetapi “bagaimana gerakan itu dilakukan” harus terpenuhi. Dengan kata lain, “kualitas” dan “gaya” dalam melakukan gerakan menjadi hal yang sangat penting.

Sebagaimana halnya tari tradisi lain, ada dua hal utama dalam membicarakan tari tradisi Melayu. Pertama, adanya pola-pola gerak yang menjadi dasar penyusunan tari. Kedua, adanya aturan dan konvensi yang menentukan pengaturan pola-pola yang membangun ragam-ragam gerak. Sebagai contoh, dalam tari Zapin dikenal ragam gerak alip, anak ayam patah, catuk, geliat, pecah lapan, pusing tengah, seribut, siku keluang, sut depan sut gantung, tahto, tongkah, dan lain-lain (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1978/1979: 239).

Teknik dalam tari tradisi dimaksudkan sebagai keterampilan mengkoordinasikan gerakan-gerakan tubuh untuk melakukan ragam gerak sesuai dengan aturan dan konvensi yang berlaku dalam tarian yang bersangkutan. Sebagai contoh, keterampilan penari zaman dulu diukur dari kemampuannya melakukan ragam gerak catuk. Diduga gerak ini diilhami dari cara ayam mencatuk makanan. Penilaian tersebut dilakukan dengan menyuruh dua penari pria menari dengan sebatang rokok pada masing-masing mulutnya. Seorang penari dengan rokok yang sudah menyala, penari lain dengan rokok yang belum menyala. Pada waktu membawakan ragam tari catuk, penari dengan rokok yang belum menyala harus menghidupkan rokoknya dengan jalan mencatukkan rokoknya ke rokok pasangannya. Mencatuk hanya boleh dilakukan sebanyak tiga kali dan apabila penari belum berhasil menghidupkan rokok di mulutnya, ia dianggap belum cukup terampil sebagai penari Zapin (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1978/1979: 157).

Penilaian keindahan gerak tari tradisi sering dipengaruhi oleh faktor sosial, kesukuan, emosional, agama, dan kepercayaan setempat. Dalam menarikan tari Tandak dan tari Zapin misalnya, pasangan penari pria dan wanita bergerak berdekatan, tetapi tidak boleh saling bersentuhan. Dalam tari Melayu juga dibedakan gerak tari ideal pria dan tari wanita. Mansur (t.t.) berpendapat, penari wanita sebaiknya menonjolkan sikap badan dan gerakan yang lemah lembut, sedangkan penari pria dengan sikap badan dan gerakan yang gagah. Dalam Zapin, penari pria menari dengan tempo lebih cepat daripada gerak penari wanita.

Pengaturan Irama

Medium tari adalah gerak, sedangkan alat yang digerakkan adalah tubuh. Oleh karena itu, untuk dapat memahami tari, orang harus memahami bagaimana menggunakan “alat” tersebut. Esensi tari adalah integrasi tubuh dan jiwa, serta integrasi antara pengalaman batiniah dan pengalaman lahiriah secara konseptual dan estetika.

Proses sebuah tarian diawali dengan pengalaman jasmaniah yang secara naluriah mengatur dirinya secara ritmik. Dengan demikian pengaturan ritmik merupakan unsur pokok tari. Seorang penari harus mendengarkan bunyi gendang, dan bila benar-benar memperhatikan dan mendengarkan bunyi gendang, maka dalam dirinya akan hadir gema gendang dan baru dapat benar-benar menari (Thompson, 1974: 262; Snyder, 1974: 9).

Dalam berkata-kata kita memerlukan jeda/perhentian, cepat lambat, dan intonasi suara agar dapat menghadirkan kalimat yang bermakna. Dalam tari pun demikian juga. Gerak sebagai penyusun ragam tari dapat dihasilkan karena pengaturan irama cepat lambat, jeda/perhentian, awal pengembangan, dan klimaks dari tiga unsur gerak (ruang, waktu, dan tenaga). Pengaturan irama semacam ini sangat membantu penari dalam mengingat dan menghafalkan rangkaian gerak, sehingga penari dapat melakukannya dengan penghayatan maksimal. Pengaturan semacam ini juga memudahkan penonton dalam mengikuti dan memahami ungkapan-ungkapan gerak yang dilakukan penari. Seorang penari Jawa, di samping terampil gerak atau wiraga, juga harus menguasai wirama yang terkandung dalam gerak tari maupun irama musik pengiringnya.

Dalam tarian Melayu dikenal istilah rentak, yaitu motif irama (musik) tertentu yang mendasari motif gerak tertentu (Dewan Kesenian Jakarta, 1978: 99). Rentaklah yang membangun suasana dan identitas tari Melayu. Rentak yang dikenal antara lain rentak Zapin, rentak Joget, rentak Ghazal, rentak Melayu, rentak Mak Inang, rentak Nobat, dan sebagainya. Semua rentak di atas masih dapat dibagi dalam tiga garis besar, yaitu rentak cepat, rentak sedang, dan rentak lambat (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, t.t.: 124). Dalam Lokakarya Tari Melayu tahun 1976 yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta telah disepakati klasifikasi tari Melayu atas dasar rentak Senandung, rentak Mak Inang dengan variasi Cik Minah Sayang, dan rentak Lagu Dua dengan variasi Pulau Sari (Dewan Kesenian Jakarta, 1976: 99). Tengku Luckman Sinar (1982) dalam tulisannya menjelaskan rentak-rentak tersebut sebagai berikut.

Pertama, tari Lagu Senandung, berirama pelan dengan nyanyian dan pantun nasib yang merayu-rayu yang dibawakan oleh penari. Peralatan musik yang digunakan adalah biola atau akordeon, dua buah gendang ronggeng bulat satu sisi yang terdiri dari induk dan anak, dan sebuah gong atau tawak-tawak. Irama senandung ini khas Melayu dan sudah ada dalam Makyong yang masuk ke tanah Melayu pada abad ke-16. Dalam rentak Senandung lebih diutamakan gerakan tangan dan jari yang lemah gemulai daripada gerakan kaki.

Kedua, tari Lenggang Mak Inang, dilakukan dengan tempo dan lagu yang dinyanyikan dalam empat baris chorus. Gerak lenggang tangan yang lemah gemulai dikembangkan dengan memegang saputangan atau selendang dan temponya dipercepat. Salah satu variasinya adalah lagu Cik Minah Sayang.

Ketiga, tari Lagu Dua, dilakukan dengan irama 2/4 yang bernada gembira dengan pantun-pantun jenaka. Dalam tarian bertempo cepat ini gerakan kaki yang dihenjut-henjutkan dan agresif lebih diutamakan, terutama bagi laki-laki. Kadang-kadang langkah kaki berbunga (double step) seolah-olah tidak menjejak dan badan seperti melayang. Angkatan tangan sebatas pinggang hingga bahu. Salah satu variasi rentak Lagu Dua adalah Pulau Sari. Pulau Sari merupakan rentak Lagu Dua yang kecepatannya dilipatkan sehingga tidak pernah diiringi nyanyian lagi. Gerakan kaki penari yang meloncat-loncat ringan sangat diutamakan.

Uraian di atas adalah mengenai struktur tari Melayu jenis tandak/ronggeng yang sering dipentaskan sekarang sebagai tari pertunjukan, sedangkan bentuk tari ronggeng yang asli dilakukan oleh penari wanita dengan tamu lelaki yang datang membayar. Di Riau, tari ini dilakukan dengan urutan berikut (1) Pembukaan dengan lagu “Tuanku E Lenggang”; (2) Berjoget dengan iringan lagu “Serampang Laut”; (3) Ledah dengan memberi rokok keliling oleh penjoget dengan lagu “Cik Siti”; (4) Berjoget lagi; (5) Ekstra (selingan) dengan menonjolkan pertunjukan akrobatik; dan (6) Penutup dengan lagu “E Lenggang Penutup” (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, t.t.: 124).

b. Penghayatan dan Isi

Tarian seorang penari di atas panggung merupakan wujud atau citra yang dinamis. Segala hal yang dilakukan seorang penari menghasilkan sesuatu yang aktual dan dapat diamati oleh penonton yang mempunyai hubungan tempat, waktu, gaya berat, tenaga, tata rupa, pengendalian otot, pengaturan cahaya, dan sebagainya. Namun, sebuah tarian dikatakan berhasil sebagai karya seni bila wujud fisik dalam pentas seakan-akan tidak ada. Semakin sempurna sebuah tarian, semakin sedikit aktualitas yang dapat ditangkap (Langer, 1957: 5–6).

Seorang penari yang baik sering dikatakan dapat menghidupkan sebuah tarian. Hal ini dapat dimengerti, karena wujud luar tarian yang diamati pada hakekatnya adalah perwujudan dari isi atau makna tarian. Kesan hidup tersebut dapat hadir dalam tarian, jika tarian tersebut berhasil menemukan bentuk seninya, yaitu jika pengalaman batin pencipta atau penarinya berhasil menyatu dengan pengalaman lahirnya.

Dalam seni, bentuk memang tidak hadir untuk kepentingan bentuk itu sendiri. Bentuk mengikuti fungsi dan sebaliknya, fungsi terikat pada bentuk. Kita ambil contoh bentuk tarian yang paling sederhana, yaitu sebuah lingkaran. Bentuk lingkaran mensugesti dan menyimbolkan aspek sosialisasi tari. Lingkaran merupakan bentuk yang mengikat sekelompok orang dan meleburkan pribadi-pribadi menjadi kelompok yang satu. Jadi, gerakan lingkaran yang dilakukan akan sangat lemah sebagai bentuk ekspresi jika tanpa penghayatan solidaritas atau rasa kebersamaan antarpenari.

Penari dikatakan berhasil menjiwai sebuah tarian jika mampu menghayati isi atau makna tarian yang dibawakan dan berhasil mengkomunikasikannya kepada penonton. Dalam tari Jawa, penghayatan ini disebut wirasa. Seorang penari tidak sama dengan seorang olahragawan yang hanya bergerak untuk kepentingan otot-otot atau untuk menang dalam sebuah permainan. Seorang penari harus mampu menghayati dan merasakan setiap gerak yang dilakukan.

Gerak tari Jawa yang ideal adalah semeleh, artinya semua gerak tari harus dilakukan dengan perasaan tenang dan tenteram tanpa ketegangan. Seorang penari Jawa yang tidak sabar dan selalu tergesa-gesa, jelas tidak akan dapat mencerminkan ideal kehidupan orang Jawa. Oleh karena itu, dulu tari Jawa dipakai sebagai sarana edukasi untuk mendidik generasi muda dalam hal sopan-santun dan tata-cara, tetapi, “Apakah nilai-nilai semacam itu masih dipertahankan oleh masyarakat sekarang?” Tentu hal ini masih harus diselidiki. Jika dalam tari Jawa garapan baru timbul suasana dan kualitas gerak yang lain, berarti tradisi Jawa hidup. Hal ini tentu harus dibuktikan lewat perjalanan waktu.

Dalam mengamati tari Melayu yang bagus, penulis merasa terbawa oleh gerakan penari yang melayang ringan bagaikan berselancar meniti aliran air, meloncat ringan bagaikan riak gelombang yang pecah membentur karangkarang kecil. Komposisinya berkembang dari tempo yang perlahan, merambat lebih cepat, dan mencapai klimaks kecepatan di akhir bagian.

Kualitas gerak untuk memperindah tari Melayu jenis Tandak dan Zapin sesungguhnya masih dapat dikembangkan dan diperluas, mengingat banyaknya jenis tari Melayu yang belum dijelajahi kualitas geraknya, seperti Silat, Makyong, Rodat, dan tarian istana yang memungkinkan untuk dibangkitkan kembali.

5. Masalah Penggarapan Dan Kemungkinan Di Masa Mendatang

Telah disebutkan di depan bahwa dari sekian banyak tari Melayu, yang telah digarap dan dikembangkan baru jenis tari Tandak/Ronggeng. Kita masih ingat akan tari Serampang XII yang dikenal luas hampir di seluruh pelosok Indonesia. Kepopuleran tari Serampang XII sebagai tari “nasional” di samping menimbulkan kebanggaan, ternyata juga menimbulkan kesulitan langkah pembinaan. Jenis-jenis tari Melayu lain yang juga potensial menjadi tersisih dan usaha penyebaran telah mengalahkan usaha pendalaman.

Dalam tari tradisi beberapa waktu silam, termasuk tradisi Melayu, terdapat kecenderungan yang menganggap pola sebagai ketentuan bentuk yang mutlak. Padahal penggarapan tari seharusnya berpola dari bahan yang lebih dasar daripada pola, yaitu mediumnya (Dewan Kesenian Jakarta, 1976: 157). Medium tari adalah gerak dengan aspekaspeknya yang meliputi ruang, waktu, dan tenaga.

Tari tradisi seharusnya tidak diperlakukan sebagai warisan keramat yang tidak bisa diusik, melainkan sebagai kekayaan yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan tuntutan perkembangan zaman. Penggarapan tari Melayu baru bukannya tidak ada, karena tari Melayu baru tersebut juga tampil dalam Pekan Tari (Seni Pertunjukan) Rakyat Tingkat Nasional yang diselenggarakan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan setiap tahun sejak tahun 1977 dan dalam forum Pekan Penata Tari Muda Dewan Kesenian Jakarta.

Upaya untuk memperluas materi garap telah dilakukan oleh Jose Rizal Firdaus dalam menggarap Simpai Geri yang ditampilkan dalam Pekan Penata Tari Muda tahun 1984 dengan memanfaatkan gerakan tari Hadrah, Inai, Silat, Ahoi, Gubang, dan Sarah, tetapi penampilan dan penggarapan dari sudut estetika masih belum memuaskan. Hal ini tampak dari kesan dan tanggapan beberapa penonton. Nani Lubis dari Jakarta menanyakan ada tidaknya niat untuk memperbaiki teknik gerak para penari, sedangkan Bagindo Fahmi dari Padang berpendapat bahwa sebagai sebuah garapan, karya Jose Rizal Firdaus belum diolah dengan bumbu atau resep pilihan. Artinya, masih ada kekurangan dalam segi teknik dan estetika penggarapan (Dewan Kesenian Jakarta, 1985: 24–29).

Dua tahun sebelumnya, T. Sitta Syaritsa tampil di forum yang sama dengan menyajikan dramatari Putri Bungsu. Soenarto Timoer yang berasal dari Jawa Timur berkomentar bahwa ekspresi karakter dalam garapan Sitta belum terlihat. Tokoh pria yang diperankan wanita bergerak lemah gemulai, sehingga kurang mendukung karakterisasi. Lagipula penyusunan adegan terpotong-potong dan tidak menghadirkan garapan yang utuh (Murgiyanto (Ed.), 1982: 40).

Terlepas dari ketidaktahuan Soenarto bahwa T. Sitta Syaritsa menggarap dramatarinya berdasarkan Makyong yang hampir seluruh tokohnya dimainkan wanita, kekosongan tersebut terjadi karena dalam Makyong yang asli pada bagian yang terpotong tersebut diisi dialog. Dari pendapat di atas diketahui bahwa aspek penghayatan dan penggarapan Putri Bungsu belum berhasil. Barangkali karena terbiasa dengan tari-tari berdurasi pendek, seperti tari Senampang XII, maka usaha penggarapan tari berdurasi lebih panjang (30–45 menit) masih belum maksimal karena penggarap belum terbiasa.

Ketika menjadi pengamat dalam salah satu Pekan Tari Rakyat Tingkat Nasional, penulis gembira mengamati penampilan peserta Riau yang menggarap materi-materi tradisi daerahnya secara kreatif, tetapi penulis sempat terhenyak ketika melihat ragam gerak dari luar Riau diserap begitu saja. Memasukkan unsur-unsur dari luar daerah tentu bukan hal tabu, tetapi karena tidak terolah dengan baik, maka hasil yang ditampilkan tampak asing dan terpisah dari ragam Melayu. Dalam mengolah sebuah garapan sebenarnya harus memperhatikan tiga elemen dasar gerak yakni ruang, waktu, dan tenaga.

Menurut Murgiyanto (1977: 5–6), sebuah tarian tampak indah dan menarik, karena, pertama hubungan waktu ritmis, terdiri dari sekuen-sekuen gerak panjang dan pendek yang dikuatkan oleh aksen-aksen secukupnya; kedua pengaturan ruang sebuah sekuen gerak disusun atas unsur besar kecil, tinggi rendah, kanan kiri, dan muka belakang secara ritmis. Kombinasi berbagai arah ini dapat dilakukan oleh satu orang atau sekelompok penari dan tetap di tempat atau melintasi ruang, dan ketiga perubahan-perubahan penggunaan tenaga dalam tubuh penari, sehingga dinamika sebuah rangkaian gerak yang memberikan kontras antara menegang mengendur, aktif pasif, berat ringan, dan sebagainya akan tampak.

Walaupun unsur waktu, ruang, dan tenaga tersebut dapat ditampilkan secara lebih menarik, tetapi pada hakekatnya ketiganya tidak bisa dipisahkan. Bagaimanapun sederhananya sebuah gerak, ia akan tetap menggunakan ketiga unsur tersebut. Sebuah tarian yang digarap dengan jelas dan bersih akan memiliki daya pesona yang tinggi, baik bagi penonton awam maupun bagi para ahli tari.

Uraian di atas memberikan kesadaran kepada kita, betapa pentingnya mempelajari aspek penggarapan baru, di samping kewajiban untuk memperdalam pemahaman nilai-nilai tradisi sendiri. Dari sumber pustaka yang sangat terbatas diketahui bahwa tari-tarian istana Melayu di masa lalu menuntut ketekunan dan keterampilan teknis yang cukup tinggi. Para penari Ashek yang dipilih dari dara-dara di wilayah sebuah kerajaan, tinggal di istana tidak hanya untuk belajar menari, tetapi juga belajar tata-cara dan adat kraton. Mereka harus belajar kurang lebih empat tahun agar diizinkan menari di depan raja. Penari-penari istana yang lain, khususnya penari Joget yang pernah terkenal di istana Johor, Riau, dan Lingga konon menguasai lebih dari 30 macam tarian (Sheppard, t.t.: 83, 91).

Pelestarian dan pengembangan tari tradisi pada intinya harus berpijak pada ukuran kehidupan kesenian, dengan tetap menyadari adanya ukuran-ukuran lain. Dalam tari tradisi diperlukan kelanjutan yang bersifat kreatif serta mengandung unsur pembaharuan, keutuhan, dan kemantapan sesuai dengan jiwa masa kini (Dewan Kesenian Jakarta, 1975: 158).

Suhaimi bin Magi, seorang mahasiswa Malaysia ketika sedang belajar tari di Institut Kesenian Jakarta pernah menulis:

Tari-tarian Melayu yang kita kenal sekarang ini tidak lebih dari fotokopi dari tari-tarian sebelumnya. Gaya dan bentuk serupa tetap muncul tanpa kehadiran karya-karya baru yang bisa dibanggakan. Usaha-usaha yang dilakukan tidak bertujuan untuk melihat hasil yang sudah baik agar dapat menjadi lebih baik lagi (Magi, 1985: 7– 8).

Tulisan di atas mungkin terasa pahit, tetapi semoga dapat menjadi cambuk dalam melangkah agar lebih mantap. Pengolahan tari Melayu di Sumatera, Jakarta, maupun Malaysia menurutnya lamban jika dibandingkan dengan tari daerah lain seperti Minangkabau dan Aceh yang berkembang cukup pesat melalui tangan-tangan generasi muda. Padahal tari Melayu memiliki peluang untuk diolah dan dibentuk untuk menghadirkan karya-karya baru yang menambah kekayaan ekspresi dan bentuk-bentuk yang telah ada sebelumnya. Usaha semacam ini merupakan langkah yang harus diambil jika tari Melayu ingin meraih kegemilangannya kembali, seperti yang telah diraih pada tahun 1950-an. Sekarang kita dituntut untuk mampu berbicara dalam dua bahasa, yaitu bahasa ibu yang akrab dengan pengalaman batin kita dan bahasa nasional atau bahkan bahasa internasional yang memungkinkan kita untuk mengkomunikasikan pengalaman dan perasaan kita kepada seluruh bangsa di dunia.

Dalam usaha pembinaan, identitas tari daerah memang perlu dipelihara sebagai suatu perwujudan kenyataan kehidupan budaya daerah yang wajar, tetapi hal ini tidak menutup kemungkinan adanya pengaruh dari daerah lain atau bertambahnya karya-karya tari baru yang tidak memiliki ciri-ciri tradisi daerah yang bersangkutan. Katherine Kuh seperti yang dikutip Ellfeldt (1976: 131) mengatakan bahwa dalam kesenian memang tidak ada jawaban akhir, yang ada hanya pertanyaan terus-menerus yang membimbing kita ke arah pemahaman baru.

Daftar Pustaka

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1978/1979. Ensiklopedi Musik dan Tari Daerah Riau. Jakarta: Proyek Penelitian dan Pencatatan Tari Daerah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

–––––––––. T.t. Monografi Daerah Riau. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Dewan Kesenian Jakarta. 1976. Festival Desember 1975. Jakarta: Dewan Kesenian Jakarta.

–––––––––. 1978. “Rumusan Lokakarya Tari Melayu” dalam Pesta Seni 1976. Jakarta: Dewan Kesenian Jakarta.

Ellfeldt, L. 1976. Dance: From Magic to Art. Dubuque, Iowa: W.C. Brown.
Firdaus, J. R. 1985. “Penata Tari Muda 1984” dalam Simpai Geni. Jakarta: Dewan Kesenian Jakarta.

Kuper, H. 1984. “Celebration of Growth and Kingship” dalam Art d`Afrique.

Langer, S. K. 1957. Problems of Art. New York: Charles Scribner`s Sons.

Mansur, T. N. A. t.t. Meninjau Beberapa Jenis Tari Melayu. Naskah lepas. Murgiyanto, S. 1977. “Cara Menilai Seorang Penari “.Kompas 19 Juli 1977, Jakarta.

–––––––––. 1983. Hasil Diskusi Penata Tari Muda. Jakarta: Dewan Kesenian Jakarta.
Nikolais, A. 1956. “No Man From Mars” dalam The Modern Dance: Seven Statements of Belief. Connecticut: We Leyan Press.

Sheppard, M. 1972. Taman Indera. Kuala Lumpur. Oxford University Press.

Sinar, T. L. 1982. Latar Belakang Sejarah dan Perkembangan Seni Tari Melayu di Sumatera Timur. Makalah Pekan Penata Tari dan Komponis Muda Dewan Kesenian Jakarta.

Snyder, A. F. 1984. Examining the Dance Event From A World Perspective. Ceramah di Grand Salon, Renwick Gallery.

Syaritsa, T. S. 1982. “Putri Bungsu: Sebuah Tari Melayu Kreasi Baru” dalam Penata Tari Muda 1982. Jakarta: Dewan Kesenian Jakarta.

Thompson, R. F. 1974. African Art in Motion. Berkeley: University of California Press.
_________
Dr. Sal Murgiyanto, MA., lahir di Solo, Jawa Tengah, 27 Desember 1945. Ayahnya, R.M. Sukamto Kartotenoyo, adalah juru masak Istana Mangkunegaran, Surakarta dan pernah dikirim pihak Istana ke Negeri Belanda untuk belajar memasak. Ini salah satu pendorong Sal untuk berusaha mendapatkan kesempatan belajar di luar negeri.

Selesai SMA tahun 1963, Sal beberapa kali pindah kuliah. Pertama di Fakultas Teknik Sipil, Universitas Gadjah Mada, hanya setahun (1963). Tahun 1964 sampai 1968 di Sekolah Tinggi Perkebunan dan di sini ia mendapat gelar sarjana muda (B.Sc.). Gelar Seniman Seni Tari ia peroleh di ASTI (Akademi Seni Tari Indonesia) Yogyakarta (1975). Seluruh biaya kuliahnya ditanggung dari kebolehannya menari. Ketika Sendratari Ramayana di panggung terbuka Candi Prambanan berjaya (1962-1972), Sal tercatat sebagai penari Hanoman –tokoh wayang yang sangat ia gemari sejak kecil. Pernah pula bersama grup tari Sardono W. Kusumo ia berkeliling Eropa mempertunjukkan Dongeng dari Dirah.

Keahliannya dalam menari menggerakkan Universitas Colorado jurusan tari dan teater memberinya beasiswa penuh, sampai ia meraih M.A. di tahun 1976. Perguruan tinggi di Los Angeles itu akhirnya mempercayai Sal menjadi pengajar tamu tahun 1984. Menjadi Asisten Pengajar AST (1970–1975), Purek Bidang Akademis Institut Kesenian Jakarta, dan Sekretaris I Dewan Kesenian Jakarta (1977–sekarang), dan menjadi dosen tamu Universitas California, AS (1984). Jabatan lain adalah sebagai Wakil Presiden Asian Dance Association (1983- 1984). Beberapa karya tulisnya antara lain, Koreografi, PMK dan P&K, (1980), Penata Tari Muda (ed), PT Harapan dan DKJ (1982), Seni Menata Tari, terjemahan Doris Humprey, DKJ (1983). Sedangkan karya koreografinya, antara lain, Damarwulan, Chandrakirana.
__________
Makalah ini disampaikan pada Seminar “Masyarakat Melayu Riau dan Kebudayaannya”, yang diselenggarakan di Tanjung Pinang, Riau

Minggu, 10 November 2013

”Sejarah dan Budaya Melayu sebagai Pemersatu”

Prof Suwardi MS
[ArtikelKeren] CULTURE/NEWS - Kecintaannya terhadap sejarah dan budaya Melayu membuat pria asal Kabupaten Kuantan Singingi itu menghasilkan puluhan karya bernilai estetika tinggi. Eksistensinya yang tunak dalam sejarah dan budaya tersebut mengantarnya menjadi seniman/budayawan penerima Anugerah Sagang 2013.

TIDAK banyak tokoh yang mengabdikan diri pada dunia sejarah dan budaya secara bersamaan. Prof Suwardi MS berhasil mengkombinasikan itu dalam profesinya sebagai akademisi, sejarawan, ilmuan dan budayawan. Dia tahu betul memposisikan budaya Melayu sebagai warisan sejarah negeri ini.

Pria yang merupakan guru besar Universitas Riau itu menilai pengembangan sejarah budaya Melayu merupakan bagian yang sangat penting. Pasalnya,bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu yang terpusat di Riau.

‘’Melalui momen sumpah pemuda ini, sejarah budaya Melayu perlu kita angkat lagi. Yang harus kita ketahui itu, sumbangan Riau kepada bangsa ini bukan hanya dari sumberdaya alam, tetapi juga menyumbangkan budayanya, salah satunya bahasa Melayu,’’ papar pria yang telah menuliskan puluhan buku bernuansa Melayu tersebut.

Menurutnya, Melayu dapat mengintegrasikan segala macam etnis. hal ini terlihat karena etnis lain di Indonesia dapat menerima itu. Sehingga budaya Melayu berperan sebagai pemersatu dan mempererat silaturahim.

Sosok yang dikenal tunak dalam bidang sejarah itu mengaku senang dan mengucapkan terima kasih atas Anugerah Sagang yang diberikan kepadanya. Dari karya-karyanya terlihat komitmennya yang tinggi dalam memberikan yang terbaik dalam bidang sejarah budaya Melayu. Hal itu diwujudkan dengan puluhan karya yang telah dituangkannya dalam buku, karya penilitian dan makalahnya tentang sejarah dan budaya Melayu di Riau.

Saat berbincang dengan Riau Pos, pria yang memiliki lima orang anak itu menceritakan tentang buku sejarah Riau yang disusunnya bersama rekan-rekan penulis. Buku itu mencakup aspek sosial, politik, budaya, seni, religi. kemudian karyanya dilanjutkan dalam penulisan buku sejarah perjuangan rakyat Riau dari tahun 1942-2002.

‘’Sekarang kami ditugaskan Mendikbud menulis sejarah Riau kembali sebagai sejarah lokal. Buku ini sekitar 300 halaman. Intinya dari ketiga buku itu dari pra serjarah sampai zaman mutkahir. Memang di Riau lanyak melahirkan sejarah dan nilai-nilai budaya,’’ urai pria berkaca mata itu.

Suwardi menilai, anugerah dari Yayasan Sagang merupakan apresiasi yang berharga. Pasalnya, Sagang sebagai suatu institusi yang mempunyai eksistensi dalam memberikan penghargaan kepada pelaku-pelaku budaya dan seniman. Hal itu menunjukkan kemajuan budaya di Riau terus terlihat dari waktu ke waktu.

‘’Komitmen itu juga menjadi bagian kewajiban kita dalam mewujudkan visi Riau 2020. Jadi seluruh pihak harus mendukung itu, karena Yayasan Sagang merupakan suatu momen yang menunjukkan kemajuan budaya di Riau dari hasil penilaiannya,’’ imbuh pria yang juga sebagai pakar rujukan di Akademi Seni Melaka dari Akademi Seni Melaka itu.

Dia menilai, perkembangan budaya Melayu di Riau terus memperlihatkan tren positif. Itu terlihat dari pemakaiann baju Melayu setiap hari Jumat, arsitektur bangunan dan dari aspek pendidikan. Hanya saja, untuk mengoptimalkan itu, perlu dikembangkan dengan kajian-kajian yang lebih mendalam, seperti dengan penerapan dalam muatan lokal di sekolah.

‘Yang penting itu bagaimana mendalami naskah-naskah Melayu dalam kehidupan sehari-hari. Ini penting, karena naskah Melayu terkandung nilai-nilai luhur budaya Melayu itu. Mulai dari aspek sistem pertanian, sistem politik, kepemimpinan, sistem kekerabatannya, sistem keagamaan dan kepercayan serta sistem seni dan kebudayaanya,’’ ungkapnya.

Dia mengaku baru saja mengikuti Festival Seni dan Budaya di Batam. Di sana, Suwardi melihat partisipasi generasi muda cukup tinggi. Hal itu dinilai sebagai modal dasar untuk membantu melestarikan budaya lokal sebagai warisan sejarah.

‘’Selaku budayawan dan sebagai pendahulu, ya kita menghimbau dan berkewajiban memberikan bekal selalu kepada generasi muda secara berkelanjutan. Baik secara formal maupun secara informal dari lembaga kesenian dan kebudayaan. Para seniman dan budayawan juga diharapkan terus berkarya dalam pengembangan budaya melayu,’’ sambung pria yang juga pernah mendapatkan penghargaan Satya Lencana Karya Satya 30 Tahun dari Presiden Republik Indonesia.

Semenjak menjadi dosen FKIP Unri tahun 1966, berbagai jabatan penting pernah dilakoninya antara lain Pembantu Dekan Fakultas Keguruan, Dekan Fakultas Keguruan, Guru Besar di FKIP sejak tahun 1988, Kepala Pusat Pengabdian Kepada Masyarakat dan Pembantu Rektor IV Unri.

Selain di dunia akademik, Suwardi MS juga aktif dalam berbagai organisasi sosial kemasyarakatan, antara lain Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Daerah Cabang Provinsi Riau. Selain itu sebagai sekretaris bidang pendidikan tinggi dan anggota PGRI dan pernah menjadi pengurus Lembaga Adat Melayu Riau serta beberapa organisasi sosial kemasyarakatan lainnya.

Menurutnya, sumber sejarah, nilai-nilai budaya, adat-tradisi yang turun temurun dari generasi ke generasi dalam masyarakat Melayu dapat dijadikan petunjuk untuk mengenal dan menjadi modal dasar mengembangan sejarah budaya melayu. Sebagai sosok sejarawan dan budayawan, Suwardi MS telah melahirkan banyak karya tulis, baik berupa buku, hasil penelitian maupun dalam bentuk makalah.

Kecintaannya dalam budaya dituangkan dalam karya buku, seperti buku Raja Haji Marhum Telok Ketapang Malaka, Soeman Hs dan Pengabdiannya, Sejarah Perlawanan Terhadap Imperialisme dan Kolonialisme di Riau, pacu Jalur dan Upacara Pelengkapnya, Dalam Masyarakat Melayu Riau dan Kebudayaannya dan puluhan karya lainnya. (RP)

Jumat, 20 September 2013

Tari Makan Sirih

Tari Makan Sirih
[ArtikelKeren] CULTURE - Tari Makan Sirih adalah salah satu tari tradisional atau tari klasik Melayu yang umumnya dipentaskan untuk menyambut dan dipersembahkan untuk menghormati tamu agung yang datang.
 

Asal-usul

Tari Makan Sirih hingga kini masih sering dipertunjukkan dalam perhelatan-perhelatan besar untuk menyambut tamu. Oleh karena itu, tari ini disebut juga dengan Tari Persembahan Tamu. Adanya tari penyambutan untuk tamu menunjukkan bahwa, orang Melayu sangat menghargai hubungan persahabatan dan kekerabatan (Haji Tengku M. Lah Husny, 2001).

Gerakan Tari Makan Sirih umumnya menggunakan gerakan pada Tari Lenggang Patah Sembilan. Meskipun demikian, ada perbedaan nama gerakannya di mana untuk Tari Makan Sirih hanya terdapat 2 gerakan saja, yaitu gerakan lenggang patah sembilan tunggal dan ganda. Sedangkan pada Tari Lenggang Patah Sembilan terdapat 3 bagian gerakan, yaitu lenggang di tempat, lenggang memutar satu lingkaran, dan lenggang maju atau berubah arah (Tengku Mira Sinar, ed., 2009).

Penari Tari Makan Sirih ini harus memahami istilah-istilah khusus dalam tarian Melayu, seperti igal (menekankan pada gerakan tangan dan badan), liuk (gerakan menundukkan atau menganyunkan badan), lenggang (berjalan sambil menggerakkan tangan), titi batang (berjalan dalam satu garis bagai meniti batang), gentam (menari sambil menghentakkan tumit kaki), cicing (menari sambil berlari kecil), legar (menari sambil berkeliling 180 derajat), dan lainnya (Sinar, ed., 2009).

Penari dan Busana

Tari Makan Sirih pada umumnya ditarikan oleh pasangan muda-mudi. Namun, pada perkembangannya tari ini juga dapat ditarikan oleh pasangan yang lebih tua. Untuk busana, penari Tari Makan Sirih umumnya memakai busana adat khas Melayu lengkap, yakni celana, baju, dan kopiah untuk laki-laki, serta kebaya, selendang, dan hiasan kepala bagi perempuan.

Musik Pengiring

Tari Makan Sirih termasuk tari yang bertema gembira. Tari ini diriingi oleh musik khas Melayu yang rancak serta lagu Makan Sirih yang penggalan liriknya berbunyi sebagai berikut:

Makan sirih ujunglah ujungan aduhai lah sayang
Kurang lah kapur tambah lah ludah

Hidupku ini untunglah untungan aduhai lah sayang
Sehari lah senang seharilah susah 
Ragam Gerak

Dengan iringan lagu Melayu, suasana dan aroma Melayu begitu kental dalam tarian ini. Ragam gerakan tari Makan Sirih berjumlah 8 gerakan, yang terdiri dari 14x8 ketukan. Gerak lenggang secara umum dibagi atas 3, yaitu lenggang di tempat, lenggang maju mengubah arah, dan lenggang memutar satu lingkaran. Sementara itu, gerak patah sembilan adalah gerakan setelah gerakan lenggang. Pada bagian patah sembilan, terdapat hitungan bantu yang biasanya dilafalkan dengan kata hop yang berarti jeda sejenak (Sinar, ed., 2009). Ragam gerak antara penari di sebelah kanan dan kiri secara umum sama, hanya berbeda dalam gerakan pertamanya saja. Berikut ini adalah penjelasannya:

Gerak Patah Sembilan Tunggal

Gerak Kaki
Hitungan satu, kaki kanan – dua, kaki kiri – tiga, kaki kanan – empat, kaki kiri – lima, kaki kanan diantarkan serong kanan, di antara bilangan lima dengan enam, kaki kiri menyusul tanpa ketukan di belakang tumit kaki kanan dan pada bilangan enam, kaki kanan ditarik/ disejajarkan dengan kaki kiri. Selanjutnya pada bilangan tujuh kaki kiri diantarkan serong kiri, di antara bilangan tujuh dengan delapan kaki kanan menyusul tanpa ketukan di belakang tumit kaki kiri dan pada bilangan delapan kaki kiri ditarik/disejajarkan dengan kaki kanan.
Gerak Tangan
Pada hitugan 1 sampai 4 melenggang biasa (seperti jalan biasa). Pada bilangan 5 tangan kanan diangkat setinggi bahu/telapak tangan ditelungkupkan, tangan kiri (pria) kecak pinggang, (tangan kiri wanita memegang selendang di samping/di sisi paha kiri) di antara bilangan lima dengan enam tangan kanan dikepalkan dan ditelentangkan, bilangan enam kepalan dilepaskan, ditelungkupkan ujung jari menghadap ke atas dan diturunkan. Pada bilangan 7 dan 8, gerakannya sama dengan hitungan 5 dan 6 hanya menggunakan tangan kiri. 
Gerak Patah Sembilan Ganda

Gerak Kaki 
 
Gerakan kaki sama dengan gerak Patah Sembilan Tunggal. 

Gerak Tangan
Hitungan 1-4 sama dengan gerak tangan Lenggang Patah Sembilan Tunggal, hitungan 5 – tangan kanan diangkat setinggi bahu, telapak tangan ditelungkupkan lalu dikepalkan, kepalan ditelentangkan dan dilepaskan/ditelungkupkan ujung jari menghadap ke atas dan diturunkan. Di antara bilangan 5 dan 6 tangan kiri diangkat setinggi bahu, telapak tangan telungkupkan ujung jari menghadap ke arah atas, lalu diturunkan. Bilangan 7 dan 8 gerakannya sama dengan hitungan 5 dan 6, hanya dimulai dengan tangan kiri dan kaki kiri. 
Gerak Tangan A:
Pada bilangan 5 tangan kanan diangkat serong kanan, tangan ditelungkupkan (telapak tangan menghadap bawah), di antara bilangan 5 dan 6 putar telapak tangan hingga menghadap atas dan dikepalkan/diputar arah bawah, bilangan 6 kepalan dilepaskan (ujung jari menghadap ke atas) dan diturunkan, pada bilangan 7 dan 8 gerakannya sama, dimulai dengan tangan kiri dan arah serong kiri. 

Gerak Tangan B:
Pada bilangan 5 tangan kanan diangkat arah depan (tangan ditelungkupkan, telapak tangan menghadap bawah), di antara bilangan 5 dan 6 putar telapak tangan hingga mengahadap ke atas dan dikepalkan/putar arah bawah, bilangan 6 kepalan dilepaskan ujung jari menghadap ke atas dan diturunkan. Pada bilangan 7 dan 8 gerakannya sama hanya dimulai dengan tangan kiri. 

Gerak Tangan C:
Gerakan ini sama dengan gerak A, bedanya pada gerakan C ini dilakukan dengan satu hitungan. 5, tangan kanan – 6, tangan kiri – 7, tangan kanan. Di antara 7 dan 8 tangan kiri, 8 tangan kanan. 

Gerak Tangan D:
Pada bilangan 5 tangan kanan diangkat serong kanan, tangan ditelungkupkan. Telapak tangan menghadap ke bawah. Di antara bilangan 5 dan 6 putar telapak tangan hingga menghadap atas dan dikepalkan/diputar arah bawah. Bilangan 6 kepalan dilepasakan ujung jari menghadap atas dan diturunkan. Pada bilangan 7 tangan kanan disilangkan di atas tangan kiri arah depan (ujung jari tangan kanan menghadap bawah dan telapak tangan menghadap atas, sedangkan ujung jari tangan kiri menghadap atas dan telapak tangan ke depan), di antara bilangan 7 dan 8 tangan kanan dan tangan kiri digenggam sambil berputar. Hitungan 8 tangan kanan dan kiri melakukan gerakan Patah Sembilan arah lurus ke depan. 

Gerak Kaki AA:
Pada bilangan 5, kaki kanan serong arah kanan, di antara bilangan 5 dan 6 kaki kiri disilangkan di belakang kaki kanan. Badan miring arah kanan (berhadapan dengan pasangan), hitungan 6, 7, 8, kaki tidak bergerak. Pada hitungan 5 sampai 8, tangan melakukan gerakan Patah Sembilan. 

Gerak Kaki BB:
Disebut juga gerak zik-zak, hitungan 1 kaki kanan serong kanan, hitungan 2 kaki kiri silang di belakang kaki kanan, hitungan 3 sama dengan hitungan 1. Hitungan 4 sama dengan hitungan 2. Tangan melenggang sesuai dengan langkah kaki, hitungan 5 sampai 8 melakukan gerakan Lenggang Patah Sembilan (gerakan tukar tempat). 
Ragam Garis Edar:

Wanita duduk menghadap ke muka, lelaki berdiri menghadap wanita. 


Nilai-nilai 
 
Tari Makan Sirih mengandung nilai-nilai luhur antara lain:

  • Disiplin dan kesabaran. Nilai ini tercermin dari ragam gerak tari yang harus dipelajari dengan kedisiplinan dan kesabaran agar dapat menguasai tari ini dengan baik. Salah satu syarat untuk dapat menarikan tari Melayu adalah sang penari dapat menjiwai setiap gerakan, bukan hanya sekadar melenggang saja.
  • Hiburan. Tari Makan Sirih menampilkan gerakan yang indah dan alunan musik yang gembira. Tamu akan merasa terhibur jika disambut dengan tari ini.
  • Pelestarian budaya. Pementasan tari ini dalam setiap pembukaan acara merupakan upaya pelestarian budaya Melayu. Ketika mementaskan tari ini, sebenarnya ada tiga hal yang dilestarikan, yaitu tari, lagu, dan busana Melayu.
  • Seni. Sisi seni Tari Makan Sirih terdapat pada unsur gerak, pakaian, musik pengiring, dan lagu-lagu yang dilantunkan. Unsur-unsur ini berpadu sehingga membentuk sebuah harmoni yang terwujud dalam pentas Tari Makan Sirih.
  • Olahraga. Nilai ini tampak sekali dari gerakan-gerakan Tari Makan Sirih yang ritmis dan dinamis. Hal ini tentu saja sangat memerlukan kesiapan fisik penarinya. Kekuatan, ketahanan, dan kelenturan tubuh penari sangat diperlukan untuk melakukan ragam gerak tari Makan Sirih yang indah dan penuh semangat.
  • Kreativitas. Nilai ini tercermin dari ragam gerak yang mencerminkan kreativitas orang Melayu dalam mengekspresikan keindahan. 
Penutup

Keberadaan Tari Makan Sirih mencerminkan bagaimana orang Melayu berusaha menghormati sekaligus menciptakan suasana kekeluargaan terhadap para tamu. Kandungan ajaran budi pekerti Melayu ini mengisyaratkan pentingnya melestarikan Tari Makan Sirih.

Kamis, 19 September 2013

Seni Kebudayaan Riau

Seni Kebudayaan Riau
[ArtikelKeren] CULTURE – Dalam hal budaya Riau sangat menjaga nilai-nilai tradisi kebudayaan melayu di Indonesia. Adat istiadat yang berasal dari kebudayaan Riau bias berkembang dengan baik dengan ciri khas melayu.

Adat budaya melayu inilah yang mengatur hamper semua kegiatan dan tingkah laku masyarakat Riau dengan bersendikan syariat islam. Hamper semua penduduk Riau berasal dari suku melayu seperti suku Bugis, suku Banjar, Mandahiling, Minangkabau serta Batak. Naun tidak sedikit pula suku pendatang seperti suku Jawa dan China.

Rumah Adat Riau
Jenis rumah tradisional Daerah Riau cukup beragam, namun secara umum terdapat 5 macam rumah tradisional yang berasal dari Riau diantaranya adalah Rumah Melayu Atap Limas, Rumah Melayu Lipat Kajang, Balai Salaso Jatuh, Rumah Adat Salaso Jatuh Kembar dan Rumah Melayu Atap Lontik.

Pakaian Daerah Riau
Bagi kebanyakan orang melayu di Riau, fungsi dari pakaian selain untuk penutup aurat, melindungi badan dari teriknya panas serta udara dingin, pakaian daerah Riau juga memiliki lambing. Lambing-lambang yang terdapat dari pakaian tersebut memiliki nilai-nilai yang luhur yang dijunjung tinggi oleh masyarakat melayu riau.

Lambing-lambang budaya dari pakaian daerah Riau tersebut memiliki kedudukan dan peran yang sangat penting dalam kehidupan orang riau. Ketentuan pakaian adat tersebut meliputi bentuk, corak (motif), warna, pemakaian, serta penggunaan pakaian. Ketentuan-ketentuan pakaian adat tersebut diberlakukan untuk mendidik dan meningkatkan akhlak orang yang memakainya

Seni dan Budaya Riau
Hamper semua seni kebudayaan daerah Riau merupakan kebudayaan melayu. Bentuk seni dan budaya yang berkembang di Riau terdiri dari beragam budaya yang dibedakan dari factor sosiologisnya. Kesenian melayu Riau adalah sebagai salah satu produk kebudayaan yang ada di daerah Riau. Di provinsi Riau ada beberapa bentuk kesenian seperti pertunjukan seni teater, seni tari music, nyanyian dan juga seni sastra. Untuk seni teater terdapat banyak macamnya seperti Teater Bangsawan atau kalau di masyarakat Riau lebih dikenal dengan Wayang Persi, Berdah, Mendu, Nandai, Randai Kuantan, Surat Kapal, Berbalas Pantun, Dul Muluk, Nandung, Mak Yong, Memanda.

Minggu, 14 Juli 2013

Asal Usul Pangkalan Terang | CERITA RAKYAT BENGKALIS

[ArtikelKeren] CULTURE - Pada zaman dahulu, saat sebelum desa – desa menjadi besar terdapat banyak nama desa di Kabupaten Bengkalis ini. Di masa itulah hidup sebuah keluarga miskin yang tinggal di daerah jalan laut Sebauk. Jalan laut ini dibuat pada masa penjajahan Belanda. Keluarga miskin itu terdiri dari Bapak yang bernama Sianjing, Mak bernama Seteri dan seorang anak gadisnya yang diberi nama Yang Mah. 

Setiap hari Sianjing bekerja sebagai pengasah gigi orang di kampungnya. Kadang dia juga mengambil upah menebas semak – semak. Sedang isterinya, Seteri bekerja mengambil upah menuai padi. Dia selalu pergi menuai padi di Bukit Batu, setelah selesai dia pulang lagi ke Sebauk, begitulah seterusnya. Yang Mah tumbuh menjadi gadis yang cantik dalam kehidupan yang serba kekurangan. Meskipun demikian, keluarga mereka tidak ada masalah, senantiasa akur. 

Seperti hari – hari biasa, hari ini Seteri pun akan berangkat ke Bukit Batu untuk mengambil upah menuai padi. 


“Yang Mah, Mak pergi dulu”. Kata Seteri sambil membenahi kain sarung untuk menutupi kepalanya.

“Iya Mak” Sahut Yang Mah dari dalam rumah.


“Jangan lupa memasak untuk Bapak kau Yang Mah, nanti dia kelaparan pulang dari menebas”


Sambut Seteri lagi.

“Iya Mak, nanti Yang Mah masak”. 


Jawab Yang Mah mengiayakan perintah Maknya, Seteri langsung menuju pangkalan. Yang Mah mulai memasak di dapur untuk makan Bapaknya pulang kerja nanti.

Sore hari Seteri sudah sampai lagi di rumahnya.


“Yang Mah,” Panggilnya kepada Yang Mah.


“Iya Mak” sahutnya. “Sudah balik Mak?” Kata Yang Mah sambil berdiri di pintu menyambut maknya.

“Tak banyak hari ini Yang Mah, Bapak kau dah balik?” 
Katanya sambil naik setelah mencuci kakinya dengan air yang ada di tempayan di sampng tangga rumahnya.

“Belum Mak”
“Kau tak susul dia Yang Mah?”
“Sekejap lagi Bapak baliklah tu Mak”.

Benarlah tak lama setelah itu, Sianjing pun sampai di depan pintu dengan membawa parang yang digunakannya untuk menebas. Dia mencuci kaki dan meletakkan parang itu di tepi rumah.

“Assalamu’alaikum”. Salam Sianjing.
“Ha itu Bapak balik Mak, Walaikum Salam”.
 
Yang Mah berlari ke depan pintu menyamut Bapaknya pulang.

“Lambat balik hari ini Pak?”
“Banyak juga hari ini orang minta tebas ladangnya, Yang Mah”.
“O….. Ayolah Pak makan, tu Mak dan menunggu Bapak dari tadi”
“Dah balik Mak kau rupanya Mah”.
“Iya Pak, ayolah Pak”.
Ajak Yang Mah lagi.
“Ayolah, Bapak pun dah lapar”.

 
Merekapun makan dengan lahap, maklum sudah seharian bekerja aru sore hari berjumpa dengan nasi lagi. Tidak ada yang berbicara, semua asyik dengan makanan m asing – masing. Lagipun, sudah adatnya orang melayu kalaumakan tidak boleh berbicara. Selesai makan, haripun mulai gelap. Mereka sudah tertidur pulas karena kecapekan kerja seharian.

Pagi – pagi lagi Yang Mah sudah bantun sebelum orang tuannya bangun untuk membuat sarapan. Setelah selesai barulah nanti Yang Mah membangunkan Mak dan Bapaknya untuk diajak sarapan bersama. Begitu juga hari itu, Yang Mah sudah selesai membuat sarapan untuk Mak dan Bapaknya.

“Mak, Pak, bangunlah, sarapan dan siap Mah buat”. 
Kata Yang Mah seraya menggolek – golekkan tubuh Mak dan Bapaknya. Tak lama Mak dan Bapaknya bangun. Setelah membersihkan muka, mereka ikut sarapan.

“Mak, Bapak kerja hari ini?” tanya Yang Mah.
“Tidak” Jawab mereka serentak. Yang Mah tersenyum menggoda.
“Ai, dan tua – tua pun masih kompak ya” Goda Yang Mah
“Bapak kau ni yang suka ikut Mak” Jawab Maknya dengan tersipu.
“Eh….eh awaklah yang ikut dia?!” Bantah Sianjing, merekapun tertawa.

Sore harinya, mereka duduk di depan beranda rumah. Berbual – bual sambil bercanda. Memang jarang mereka dapat kumpul bersama seperti hari ini. Biasanya orang tua Yang Mah sibuk kerja. Pergi pagi pulang petang, jumpanya ketika malam baru bisa bersama itupun tidak lama, mereka langsung tidur, ketiak mereka asyik berbual – bual, lewatlah seorang pemuda yang sama sekali belum pernah mereka jumpa.

“Hai, anak muda, mau kemana kah tuan hamba?” Tanya Sianjing tatkala pemuda itu lewat di depan rumahnya. Pemuda itu berhenti, dan tersenyum dengan ramah kepada keluarga Sianjing.
“Saya ini orang pelayar, jadi kapal kami berlabuh di pangkalan sana,” Tunjuk pemuda itu ke arah hulu. Memang sebenarnya di Sebauk waktu itu tidak ada pelabuhan, yang ada Cuma pangkalan tempat masuknya kapal atau perahu, itupun terletak di sebelah hulu dari tempat Sianjing tingal. 
”Saya ingin melihat – lihat desa ini”. Terang si pemuda asing itu lagi.
“O…. kemarilah dulu, kita berbual – bual, sambil minum kopi.”
Ajak Sianjing dengan ramah.

Pemuda itu menurut. Dia singgah di rumah Sianjing dan ikut duduk di beranda rumah bersama keluarga Sianjing.

“Mah, buatkan kopi satu lagi”.
Perintah Sianjing pada anaknya.
“Baik Pak.”
Yang Mah bangkit dari duduk, langsung ke dapur untuk membuat secangkir lagi kopi buat tetamunya.

“Jadi Tuan Hamba ini pelayar?”
Sianjing membuka pembicaraan. Pemuda itu mengangguk mengiyakan.

“Siapa nama tuan hamba?”
Tanay Seteri pula.
“Nama saya Awang Mahmuda Makcik”.
Jawab pemuda yang bernama Awang Mahmuda.

“Berapa lama nak Awang tinggal di Sebauk ini?”
“Mungkin dalam sebulan Pak Cik”.
“Dimana mau tinggal?”
“Mungkin di kapal saja, Mak Cik”.
“Eh…eh mengapa pula di kapal? Kalau sudi tinggallah di rumah kami ni, yakan Mak Nye?”
Tawar Sianjing pada Awang Mahmuda.

“Betul tu nak”, Seteri menyetujui pendapat suaminya.
“Terima kasih Pak Cik, Mak Cik”.
Yang Mah keluar membawa talam berisikan secangkir kopi.

“Silakan diminumkan Bang”.
“Terima kasih”
“Ini anak kami namanya Yang Mah”, Kata Seteri memperkenalkan anaknya.

Untuk sementara waktu Awang Mahmuda tinggal bersama keluarga Sianjing, dia ikut menolong Sianjing menebas ladang orang. Begitulah setiap hari. Sianjing senang karena pekerjaannya dibantu oleh Awang Mahmuda. Tanpa sepengetahuan orang tuannya, Yang Mah dan Awang Mahmuda ternyata salng terpikat satu sama lain. Mereka menjalin hubungan secara diam – diam. Mereka sangat pandai menyimpan hubungan ini sampai orang tuannya tidak mengetahuinya.

Setiap malam setelah orang tuannya tidur, Yang Mah dan Awang Mahmuda berjumpa di belakang rumah untuk memadu kasih.

“Bang, bukankah sebaiknyakita beritahu saja hubungan kita ini kepada Mak dan Bapak?” kata Yang Mah pada suatu malam.

“Bukannya Abang tak mau Mah, Cuma abang takut Mak dan Bapak Mah tak setuju, maklumlah Abang ini perantau, suka berlayar ke sana ke mari”.
Jelas Awang Mahmuda.

“Mak dan Bapak pasti mengerti Bang”.
Pujuk Yang Mah.
“Nantilah Mah, bila abang ke sini lagi akan abang sampaikan lamaran abang kepada orang tua Mah”.
“Bila Abang ke sini lagi?”
“Munkgin sebulan, besok Abang harus berlayar Mah”.
Air mata Yang Mah mulai jatuh, hatinya begitu hampa mendengar keksaih hatinya akan pergi berlayar. Itu berarti akan lama untuk berjumpa,

“Jangan menangis Mah, Abang pergi hanya sebulan, setelah itu Abang pasti datang untuk melamar Mah”. Pujuk Awang Mahmuda pula kepada kekasihnya.

Keesokan harinya sebelum berangkat Awang Mahmuda minta diasahkan giginya kepada Bapak Angkatnya, Sianjing. Sianjing bersedia mengasah gigi Awang Mahmuda. Dalam pikiran Sianjing pastikah Awang Mahmuda kelak memberi upah yang besar sebagai bayaran dan tanda ucapan terima kasih karena dia memberikan tempat tinggal kepada Awang Mahmuda. Namun, itu hanyalah hayalannya saja, setelah giginya diasah Awang Mahmuda tidak memberikan uang sebagai upah tapi hanya mengucapkan terima kasih dan pamit pulang kepada Sianjing dan Seteri serta Yang Mah. Sianjing menyimpan rasa dongkolnya di depan Awang Mahmuda. Awang Mahmuda tidak tahu bahwa Sianjing kesal padanya berlalu seakan tanpa beban.

“Dasar budak tak tahu berterima kasih, awak dan penat – penat mengasah gigi dia, usahkan nak bayar lebih sedikitpun tidak. Dia sangka awak ni orang kaya” Umpat Sianjing setelah Awang Mahmuda pergi.

“Sudahlah Pak, mungkin Abang Awang tak ada duit”.
Balas Yang Mah secara tidak langsung membela kekasihnya.

“Dia memang tak pandai balas budi, nanti – nanti jangan diterima lagi dia di rumah ni”. 
Sungut Sianjing sambil melangkah masuk ke dalam rumah. Mengambil parang dan mengasahnya untuk menebas ladang pagi esok. Yang Mah dan Maknya pun naik, mengerjakan apa yang patut dikerjakan.

Hari ke hari sudah berlalu, hampir setengah bulan Awang Mahmuda pergi, selama itu pulalah Yang Mah memendam rindu, makan tak selera, tidur pun tak lena. Badanya semakin kurus, namun tidak memudarkan kecantikan alaminya tanpa ada campur tanan make-up. Dia tidak tahu kabar tentang Awang Mahmuda.

Pada suatau hari datanglah rombongan dari Sungai Alam ke rumah Sianjing. Mereka datang dengan maksud ingin melamar Yang Mah anak mereka, Awang Bungsu.

“Ada apa gerangan rombongan tuan hamba datang ke rumah hamba yang tak seperti ini?” tanya Sianjing kepada rombongan itu setelah dipersilahkan dulu duduk dan minum air yang disediakan.

“Begini tuan hamba, kami datang ini dengan hajat besar?”
“Apakah hajat besar itu?”
“Kami datang ke mari untuk melamar anak tuan hamba buat anak kami Awang Bungsu”. 
Jelas salah seorang dari mereka. Sianjing dan isterinya tersenyum, ternyata masih ada orang yang terpikat dengan anak daranya. Mereka tidak sadar bahwa Yang Mah yang mendengar semua ini dari balik tirai pintu benar – benar merasa terpukul dan sedih.

“Begitu rupanya, kami sekeluarga merasa terhormat dan pastinya kami menerima lamaran dari pihak tuan hamba”. Jawab Sianjing dengan wajah berseri – seri.

“Apakah tidak ditanya dulu kepada yang punya badan, tuan hamba?”
kata mereka pula.
“Yang Mah itu anak yang penurut, dia pasti tidak akan membantah dengan lamaran ini, lagipun setahu kami dia b elum ada berpunya”. 
Isteri Sianjing menambahkan.

“Baguslah kalau begitu, kalau semua telah selesai kita akan lanjutkan perundingan tentang pernikahan pula lain hari”.
“Baik sangatlah tu”.
“Kami permisi dulu”.
“Iya, hati – hati”.

 
Selepas kepergian rombongan dari Sungai Alam tersebut, Sianjing dan Isterinya melonjak gembira, hal ini terlihat dari wajahnya yang berseri – seri dan senyum yang tersungging di bibirnya. Sedang Yang Mah tidak kuasa menolak laraman itu hanya menahan perih yang dalam di hatinya. Perundingan demi perundingan terus berjalan, sampailah penetapan hari perkawinan. Pada hari yang telah ditetapkan, maka berlangsunglah acara dari dua belah pihak. Di rumah Awang Bungsu di Sungai Alam dan rumah Yang Mah di Sebauk. Pada hari itu pulalah Awang Mahmuda sampai di pangkalan biasa berlabuh. Teman – teman Yang Mah yang mengetahui kepulangan Awang Mahmuda memberitahu Yang Mah.

“Yang Mah, ….. Yang Mah…” Panggil Timah dengan nafas tersenggal – senggal. Yang Mah menatap heran.

“Kenapa kau Timah? Macam dikejar setan pulak”.
“Itu… A…Awang Mahmuda udah balek, dia ada di pangkalan”.
“Betulkan itu Timah?” u
lang Yang Mah sambil memegang bahu Timah.

“Betul, pergilah sekarang Mah”
“Iya, aku harus pergi menemui Bang Awang, terima kasih Timah”. 
Setelah mendapat tahu Awang Mahmuda sudah pulang, Yang Mah langsung pergi menyusul nya. Dia pergi secara diam – diam, tidak ada yang tahu kepergiannya kecuali Timah. Orang – orang sibuk mempersiapkan berbagai macam untuk acara ini.

Tibalah Yang Mah dipangkalan di mana Awang Mahmuda berada.

“Bang, mengapa Abang datang terlambat?” Isak Yang Mah dalam rangkulan Awang Mahmuda.

“Mungkin kita tidak berjodoh Mah, pulanglah, bukankah hari ini hari pernikahan kau Mah?”
“Tapi Mah tak inginkan pernikahan ini Bang”.
“Mah hanya manu menikah dengan Abang”.
 
Kata Yang Mah dalam isak tangisnya. Awang Mahmuda tak kuasa menahan air mata, dia juga terpukul mengatahui kekasihnya akan menikah dengan laki – laki lain. Ini semua karena kelalaiannya.

“Sudahlah Mah, pulanglah, kasian Mak dan Bapak Mah”.
Pujuk Awang Mahmuda, tapi Yang Mah tetap tidak mau pulang.

Di rumah Yang Mah orang – orang sibuk mencari Yang Mah.

“Kemana Yang Mah Mak Andam? Rombongan laki – laki tak lama lagi sampai.” Tanya Mak Yang Mah panik.
“Saya tidak tahu, tadi saya tinggalkan Yang Mah sekejap di kamar ni, ketika saya datang lagi dia sudah tidak ada.” Kata Mak Andam ketakukan.

Entah siapa yang mengadu, orang – orang di sana tahu Yang Mah ada di pangkalan bersama Awang Mahmuda. Mereka pergi menyusul Yang Mah termasuk Mak dan Bapak Yang Mah pun datang.

“Nak, baliklah. Tak lama lagi Awang Bungsu sampai, tak sedap ditengok orang kau di sini”. Pinta Maknya memelas.

“Mah, tak mau Mak, Mah hanya mau menikah dengan Bang Awang Mahmuda,”
jawab Yang Mah
 
Sementera mereka sibuk membujuk Yang Mah, Awang Bungsu yang akan berarak menuju Sebauk ini dapat tahu bahwa bakal isterinya ada bersama Awang Mahmuda. Darah muda Awang Bungsu bergejolak, dengan membawa sebatang tombak pergi menuju pangkalan. Dengan perasaan marah Awang Bungsu langsung menentang Awang Mahmuda untuk menyelesaikan masalah ini secara jantan. Awang Mahmuda bukanlah seorang pemuda pengecut, diterimanya tantangan Awang Bungsu. 

“Bang…..” desah Yang Mah memegang lengan Awang Mahmuda.
“Tenang Mah, abang pasti bisa mengatasinya”.
Kata Awang Mahmuda menenangkan.
“Cepatlah kau pengecut”. 
Teriak Awang Bungsu keras. Awang Mahmuda maju, perkelahian pun tak dapat dielakkan. Pukulan demi pukulan, terjang menerjang, jurus – jurus pun sudah dikeluarkan. Tidak ada satu orang pun yang dapat melerai. Menurut cerita masyarakat setempat, pertarungan ini terjadi selama 40 hari. Daerah di pangkalan yang tadinya penuh dengan semak – semak, batang kenuduk, semua menjadi rata dengan tanah. Pangkalan yang semula semak sekarang menjadi terang. Itulah sebabnya daerah ini disebut pangkalan terang.

Bagaimanapun sebuah pertarungan pasti ada kalah dan ada yang menang. Dengan kemahiran Awang Mahmuda, akhirnya Awang Bungsu dapat dikalahkan. Tak lama setelah kejadian itu, daerah yang bersimbah darah tumbuh patang piai meladang dari pangkalan sampai ke tepi jalan. Tapi sekarang piai itu hanya dijumpai satu-satu karena sudah banyaknya rumah penduduk. Seterusnya pangkalan terang ini terletak di sempadan antara kampung Parit dan Pelimau. Sekarang pangkalan terang jarang disebut – sebut, orang – orang hanya mengenalnya sebagai desa Kampung Parit.

Konon, menurut salah satu narasumber seseorang pernah termimpi bahwasanya di pangkalan terang itu terdapat batu raksasa dan kuil orang India. Kebenaran dari cerita tersebut belum dapat dipastikan.

Kompang | Salah Satu Seni Budaya Lama di Bengkalis

Kompang | Salah Satu Seni Budaya Lama di Bengkalis
[Artikelkeren] CULTURE - Seni kebudayaan menabuh kompang menjadi salah satu budaya lama di Bengkalis. Hampir seluruh pelosok desa di Kabupaten Bengkalis memiliki team atau kelompok kompang.

Bisa dikatakan, kompang sudah menjadi seni budaya yang mendarah daging di masyarakat Bengkalis. Hal itu diutarakan Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Kabupaten Bengkalis H Tuah Hasrun Saily baru-baru ini kepada wartawan.

Beberapa bulan lalu, sambung H Tuah, Disbudparpora telah melaksanakan festival kompang. Ternyata pesertanya juga diikuti hampir seluruh desa di Kecamatan Bengkalis. Sehingga terpikirkan, ada baiknya kompang ini tetap dilestarikan, jika perlu ivennya dibuat lebih meriah dan besar lagi hingga menembus tingkat provinsi dan nasional.

“Paling tidak bisa lebih selektif dan menjaring kelompok kompang yang benar-benar bagus, dan bisa menembus ivent tingkat Kabupaten dan Provinsi. Dan saat ini sedang kita upayakan program ini bisa berjalan,” paparnya.

Pada festival tahunan bertajuk Festival Kompang Arak-Arakan Tahun 2012, selama sehari penuh. Yang tampil memukau itu berasal dari Desa Meskom, Kecamatan Bengkalis, dan unggul sebagai juara. Jika perlu awal seni budaya kompang ini, terlebih dahulu diinventarisir, sehingga kebudayaan kompang tetap membumi di tanah melayu Kabupaten Bengkalis ini.

Seni kompang ini juga, kata H Tuah, diharapkan bisa eksis dan hidup terus di Bengkalis, dan tidak luntur seiring dengan perkembangan zaman dan berjalannya waktu. (eko)


Alat-alat Musik Tradisional Melayu

[ArtikelKeren] CULTURE - Musik Melayu tidaklah mempunyai satu cara tertentu, melainkan menggunakan kepada 5 bunyi (skala Petatonik) atau 7 bunyi (Heptatonik) saja, dan tiadalah pula menurut aturan tertentu. Hal ini boleh dilihat dari cara memainkan serunai yang di tiup, dari satu daerah dengan kawasan Melayu yang lain sangatlah berbeda, ianya lebih kepada selera masing-masing peniup. Mungkin hal yang sedemikian itu, merupakan salah satu kesulitan untuk menciptakan cara notasi pada semua alat musik Melayu, untuk diturunkan kepada keturunan berikutnya.

Mungkin disebabkan karena peniruan atau pengaruh, maka banyaklah alat musik tradisional Melayu yang mempunyai persamaan dengan negeri-negeri lain di Asia. Misalnya canang (gong kecil) juga ada di Muangthai yang disebut Khong Wong Yai, di Birma juga ada, demikian juga di Sabah melalui alat kulintangnya. Demikian jugalah halnya dengan serunai, ada di banyak negeri-negeri Asia.

Jenis alat seperti rebab, kecapi (alat musik bertali atau chordophone), ceracap yang menggunakan buloh (idiophone) dan alat gendrang dari perunggu (membranophone) sudah dikenal sejak zaman kebudayaan Dongson di Asia. Kemudian pula gendang menggunakan satu muka seperti gendang ronggeng, rebana dan lain-lainnya adalah mendahului gendang-gendang yang bermuka dua seperti gendang silat, gendang nobat dan lain-lain.

Disebabkan zaman dahulu itu tidak menggunakan notasi tertulis, maka untuk memudahkan ingatan dalam memainkan alat tersebut, misalnya di dalam suatu irama tertentu atau untuk membedakan tinggi rendahnya bunyi nada (pitch), dipakailah suku kata yang menentukan tibre gendang seperti “tak” (bunyi tertutup atau bass yang dimainkan gendang induk), dan “pong” (pada bunyi nyaring yang dimainkan oleh gendang anak). Seperkara demikian juga ada pada cara memainkan musik India (Tala) dengan rumusan suku kata seperti “ta”, “ka”, “dhin”, “na”, “tom”, “ki”, “ri”, “dha” dan juga dengan memakai gerakan-gerakan tangan (petikan jadi, lambaian tangan, tangan tertutup dan terbuka serta lain-lainnya) sebagai pembagian metrumnya. Pemain gendang haruslah menghafal suku kata suku kata itu di luar kepala. Hal ini juga berlaku pada musik Karo dan Mandailing.

Pada musik tradisional Melayu, lebih diberikan kepada keahlian sebenarnya hanya mempunyai peranan sampingan saja dari keseluruhan musik Melayu. Oleh karenanya hanya ada 3 buah alat musik Melayu yang paling penting yaitu: 



Alat-alat Musik Tradisional Melayu
Alat-alat Musik Tradisional Melayu
Alat-alat Musik Tradisional Melayu


  • Gendang
  • Rebab (kemudian digantikan oleh biola)
  • Gong atau Tetawak (kemudian digantikan peranannya oleh bass).
  • Barulah kemudiannya diikuti oleh alat-alat musik lainnya seperti Serunai, bermacam-macam jenis gendang, telempong, kesi (cymbal), ceracap dan alat-alat perkussi lainnya.

Tenun Bukit Batu | Seni Budaya Bengkalis

Tenun Songket Bukit Batu

[ArtikelKeren] CULTURE - Salah satu budaya rakyat Bukit Batu adalah kerajinan tenun Songket yang menjadi ciri khas kerajaan Siak tempo dulu. Kerajinan tenun Songket traditional asli berasal dari Kecamatan Bukit Batu (dekat desa Bukit Batu).

Sayang.. potensi wisata Bukit Batu tidak dikembangkan. Semoga dengan terpilihnya kawasan hutan Bukit Batu sebagai salah satu cagar biosfer dunia yang terdaftar di Unesco, maka pariwisata alam dan budaya Sungai Pakning-Bukit Batu dapat mulai bangkit. Namun, semuanya bisa bangkit tidak terlepas dari partisipasi masyarakat setempat.

Tenun Songket Melayu Riau merupakan kain hasil kerajinan tangan orang-orang Melayu yang dilakukan dengan melalui proses menenun benang yang diselingi dengan tenunan benang emas atau benang perak dengan ragam motif/corak tenunan tertentu. Kain tenunan Songket Melayu Riau memiliki keunikan dan kaya akan nilai keindahan dan estetika sebagai gabungan unsur-unsur budaya yang melambangkan corak, pandangan dan pemikiran masyarakat Melayu. Ragam motif/corak kain tenunan Songket sangat erat hubungannya antara manusia dengan alam baik hewan maupun tumbuhan. Ragam ini juga mencerminkan cara dan pandangan hidup umat manusia. 



 

Songket itu sendiri berasal dari kata “sungkit” yang berarti “mencungkil” yang terdapat juga proses “mengait”. Kedua proses itu (mencungkil dan mengait) merupakan proses utama dalam menenun sebuah kain. Sebagian orang menyebut bahwa kata “songket” berasal dari kata “Songka” yaitu topi atau “songkok” khas Palembang yang dipercaya sebagai daerah yang pertama kali masyarakatnya memiliki kebiasaan melakukan kerajinan tangan menenun kain yang digunakan pada songkok atau topi yang kemudian berkembang penggunaannya untuk pakaian. “Menyongket” berarti ‘menenun dengan benang emas dan perak’.

Awalnya kain tenunan Songket ditenun dengan menggunakan benang sutra yang diselingi tenunan motif tertentu yang menggunakan benang emas atau perak. Hal ini merupakan pengaruh dari pedagang Tiongkok yang membawa benang sutra dan pedagang India yang membawa benang emas dan perak ke tanah Melayu. Mengingat benang sutra sangatlah mahal, maka pada perkembangan selanjutnya, benang sutra diganti dengan benang kapas biasa. Pada saat benang sutra masih dipakai sebagai bahan tenunan songket, hasil tenunan tersebut akan menunjukkan strata masyarakat yang melambangkan kemegahan dan kedudukan seseorang.

Banyak ragam motif/corak tenunan kain songket yang dapat digunakan. Mengenai jenis ragam motif tenun songket dapat dibaca di :
RAGAM MOTIF MELAYU. Sedangkan mengenai makna motif dapat disimak di MAKNA RAGAM MOTIF MELAYU, dan untuk mengetahui tentang penggunaan motif melayu dapat ditelusuri di PENGGUNAAN RAGAM MOTIF MELAYU UNTUK TENUNAN.

Ragam Motif Kain Songket yang umum digunakan :

* Motif Kuntum Bunga
* Motif Siku Keluang
* Motif Siku Awan
* Motif Siku Tunggal
* Motif Pucuk Rebung Kaluk Pakis
* Motif Pucuk Rebung Bertabur Bunga Ceremai
* Motif Pucuk Rebung Bertali
* Motif Daun Tunggal
* Motif Mata Panah
* Motif Tabir Bintang

Songket harus melalui delapan peringkat sebelum menjadi sepotong kain dan masih ditenun secara tradisional. Karena penenun biasanya dari desa, tidak mengherankan bahwa motif-motifnya pun dipolakan dengan hewan dan tumbuhan setempat. Motif ini seringkali juga dinamai dengan nama kue khas Melayu seperti serikaya, wajik, dan tepung talam, yang diduga merupakan penganan kegemaran raja.

Terdapat banyak daerah-daerah sentra kerajinan tangan Tenunan Kain Songket di Riau. Secara tak sengaja, aku menemukan satu daerah sentra kerajinan kain Songket. Sebenarnya lawatan aku ke daerah tersebut adalah untuk mengamati kehidupan sosial budaya. Ternyata hampir di setiap rumah daerah tersebut memiliki alat tenun kain Songket. Pemasaran kain songketnya dilakukan oleh orang yang datang membeli dan kemudian menjual ke daerah lainnya.

Daerah sentra kerajinan tangan Kain Tenun Songket tersebut adalah

Dusun Muara Laut
Desa Sukajadi
Kecamatan Bukit Batu
Kabupaten Bengkalis
Propinsi Riau
Indonesia

Dusun ini adalah dusun dimana DATUK LAKSEMANA RAJA DI LUAT bermukim dan bermakam. Rumahnya berada tak jauh dari bibir pantai hutan bakau. Makamnya berada di belakang Mesjid Jami’ Al-Haq yang telah direnovasi. Dusun Muara Laut berada di muara sungai Bukit Batu yang berhulu di Tasik Serai, salah satu dari 15 tasik atau danau yang berada dalam Kawasan Cagar Biosfer Giam Siak Kecil Bukit Batu Riau Indonesia

proses tenunan songket melayu Riau
Tenun Songket Melayu Riau
Dusun Muara Laut – Bukit Batu – Bengkalis

proses tenunan songket melayu Riau
Tenun Songket Melayu Riau
Dusun Muara Laut – Bukit Batu – Bengkalis

proses tenunan songket melayu Riau
Tenun Songket Melayu Riau
Dusun Muara Laut – Bukit Batu – Bengkalis
 


MARI LESTARIKAN BUDAYA DAERAH


http://artikelkeren27.blogspot.com/2014/01/hasil-seleksi-cpns-kota-pekanbaru-2013.html

http://artikelkeren27.blogspot.com/2013/12/pengumuman-kelulusan-cpns-kementerian.html


http://artikelkeren27.blogspot.com/2013/12/pengumuman-daftar-nilai-tkd-dan-tkb.html



http://artikelkeren27.blogspot.com/2013/12/pengumuman-daftar-nilai-tkd-dan-tkb.html



http://artikelkeren27.blogspot.com/2013/12/hasil-seleksi-cpns-kabupaten-indragiri.html


http://artikelkeren27.blogspot.com/2013/12/hasil-seleksi-cpns-kabupaten-kuantan.html
http://artikelkeren27.blogspot.com/2013/12/hasil-seleksi-cpns-kabupaten-siak-2013.html










PETUNJUK PENGGUNAAN