Oleh : Luerdi

[ArtikelKeren] OPINI - Ada yang menarik dari kehidupan para founding father Indonesia. Bukan saja karena mereka telah berjasa dalam memperjuangkan kelahiran republik ini, namun di kala usia mereka yang relatif muda, mereka mampu menjadi pemikir yang andal dalam memetakan masa depan Indonesia.
Kala di mana bangsa ini masih belum menemukan identitasnya yang utuh dan merdeka. Kesempatan yang mereka miliki sebagai kaum terpelajar minoritas menjadikan mereka orang-orang yang tercerahkan dan juga sebagai jembatan transfer pemikiran, ideologi, idealisme dan cara pandang dalam melihat Indonesia sebagai suatu negara dan bangsa.
Kehidupan intelektual mereka tidak bisa dipisahkan dari forum-forum diskusi kritis yang berisikan logika-logika kemerdekaan, kedaulatan, keadilan, dan kesejahteraan.
Interaksi mereka dengan buku dan kegemaran membaca berbagai literatur menjadikan mereka berwawasan luas dan dalam. Mereka tidak menjadi orang-orang yang sekadar pandai berbicara dan beretorika yang bisa saja dihapus sejarah dan terlupakan oleh generasi setelahnya.
Namun, mereka menuliskan berbagai pemikiran mereka dan kemudian dilestarikan oleh penulis-penulis generasi setelah mereka.
Sebut saja Soekarno, Hatta, Natsir, Tan Malaka dan sederet panjang tokoh lainnya. Pemikiran atau gagasan politik mereka masih dapat diperbincangkan sampai saat ini.
Tidak hanya oleh para intelektual dalam negeri, tapi juga oleh para pengkaji pemikiran politik melalui lembaga-lembaga akademis nun jauh di luar teritorial Indonesia.
Mungkin ada yang berkata, era mereka yang demikian sulit baik ketika masih berada di bawah cengkreman kolonial, era postcolonial atau revolusi dan era Indonesia dengan infrastruktur dan suprastruktur politik awal, memberikan kesempatan kepada mereka untuk menjadi orang-orang besar dengan gagasan-gagasan besar yang mereka miliki sehingga direkam sejarah.
Kala itu bangsa ini masih mencari format dan wujud Indonesia. Konflik pemikiran dan politik kerap terjadi di antara mereka dan seyogyanya kondisi tersebut menjadi pembendaharaan dalam sejarah keindonesian.
Terlepas dari realitas tersebut, mereka adalah orang-orang yang memiliki miliu keilmuwan, analisis yang tajam terhadap dinamika sosio-politik, dan tentunya produktif.
Gambaran di atas tentunya bisa menjadi pelajaran bagi pemuda-pemuda Indonesia masa kini. Mungkin begitu sulit untuk menjadi seperti para founding father dengan sederet kualitas dan kontribusi yang luar biasa.
Lagian, era mereka tidaklah sama dengan era kini, dan kontribusi yang diperlukan bangsa Indonesia kini tentu tidaklah sama. Namun, semangat perjuangan dan kecintaan terhadap Indonesia yang telah mereka tunjukkan perlu tetap diwarisi.
Berkaitan dengan pemuda, penulis memiliki beberapa pemikiran yang seharusnya melekat pada pemuda Indonesia kini. Pertama, memiliki miliu keilmuwan.
Semangat keilmuwan perlu ditanam sejak dini agar pemuda memiliki wawasan yang luas yang kemudian membuat mereka mampu melihat permasalahan bangsa dari berbagai sudut pandang.
Tidak hanya sekadar bagaimana memandang Indonesia tapi juga dunia. Kompetensi keilmuwan tentunya akan meningkatkan kualitas pemuda sebagai warga negara.
Wawasan yang luas tentunya mesti didukung oleh kompetensi di bidang atau spesialisasi tertentu, sehingga kepakaran pemuda dapat berkontribusi dalam memajukan bangsa.
Miliu untuk memajukan dan menguasai teknologi tentu akan lebih baik untuk melengkapi hal tersebut. Kita lihat negara-negara maju, warga negaranya relatif lebih menghargai ilmu pengetahuan dan teknologi.
Dari sini pula mereka dapat meninggalkan negara-negara berkembang jauh di belakang. Miliu keilmuwan, berwawasan luas, kompeten di bidang atau spesialisasi tertentu, dan penguasaan teknologi idealnya menjadi paradigma dan melekat di benak para pemuda Indonesia.
Kedua, memiliki kualitas moral. Moral bukan lah urusan pribadi tertentu karena ia bisa menjadi karakter suatu bangsa. Pemuda seharusnya menjunjung dan menanamkan nilai-nilai yang berkaitan dengan moral pada dirinya.
Di tengah-tengah permasalahan bangsa yang begitu kompleks, masalah moral kerap menjadi penyebab yang menghambat perkembangan Indonesia sebagai sebuah entitas bangsa yang seharusnya mampu membuat lompatan-lompatan besar.
Sebut saja kasus korupsi yang selalu populer di antara pemegang kekuasaan, yang jumlah pelakunya selalu saja bertambah. Prilaku koruptif sekelompok pemegang kekuasaan tidak hanya berdampak buruk terhadap sistem yang di mana mereka berada, tapi juga mempengaruhi sendi kehidupan bangsa secara luas.
Dalam kondisi seperti inilah seharusnya pemuda tampil sebagai pelopor pemecahan masalah bangsa di mana pun mereka berada, bukan sebaliknya penambah masalah.
Ketiga, senantiasa berkontribusi. Pemuda adalah modal sosial yang perannya diperlukan di tengah-tengah masyarakat.
Peran-peran tersebut dapat berupa aktifitas sosial ataupun politik. Keberadaan pemuda dalam berbagai lembaga sosial bisa menjadi corong untuk mengoptimalkan potensi sosial mereka seperti untuk melakukan pembinaan, pemberdayaan dan pencerdasan masyarakat.
Dengan mengupayakan dan memiliki ketiga hal tersebut diatas, sudah cukup bagi pemuda untuk wewujudkan semangat nasionalisme pada dirinya.
Perspektif semacam ini bahkan lebih substantif daripada hanya sekadar sibuk dengan agenda-agenda seremonial dan retorika klasik tentang kebangsaan, misalnya ketika momentum sejarah Sumpah Pemuda tiba.
Bangsa yang besar tidak hanya pandai menghargai sejarah, namun pandai memberikan kontribusi nyata terhadap permasalahan yang dihadapi dalam konteks kekinian.
Kontribusi nyata tersebut tidak akan terwujud tanpa adanya pembobotan kualitas diri pemuda. Ditambah lagi masa muda adalah masa yang produktif untuk berkarya.
Tidak dapat dinafikan, bahwa di tengah-tengah wacana kepemudaan Indonesia terdapat beragam permasalahan yang hadir, seperti rendahnya tingkat pendidikan dan tingginya pengangguran di kalangan pemuda.***
Luerdi
Mahasiswa Pascasarjana Prodi Ilmu Politik Unri

[ArtikelKeren] OPINI - Ada yang menarik dari kehidupan para founding father Indonesia. Bukan saja karena mereka telah berjasa dalam memperjuangkan kelahiran republik ini, namun di kala usia mereka yang relatif muda, mereka mampu menjadi pemikir yang andal dalam memetakan masa depan Indonesia.
Kala di mana bangsa ini masih belum menemukan identitasnya yang utuh dan merdeka. Kesempatan yang mereka miliki sebagai kaum terpelajar minoritas menjadikan mereka orang-orang yang tercerahkan dan juga sebagai jembatan transfer pemikiran, ideologi, idealisme dan cara pandang dalam melihat Indonesia sebagai suatu negara dan bangsa.
Kehidupan intelektual mereka tidak bisa dipisahkan dari forum-forum diskusi kritis yang berisikan logika-logika kemerdekaan, kedaulatan, keadilan, dan kesejahteraan.
Interaksi mereka dengan buku dan kegemaran membaca berbagai literatur menjadikan mereka berwawasan luas dan dalam. Mereka tidak menjadi orang-orang yang sekadar pandai berbicara dan beretorika yang bisa saja dihapus sejarah dan terlupakan oleh generasi setelahnya.
Namun, mereka menuliskan berbagai pemikiran mereka dan kemudian dilestarikan oleh penulis-penulis generasi setelah mereka.
Sebut saja Soekarno, Hatta, Natsir, Tan Malaka dan sederet panjang tokoh lainnya. Pemikiran atau gagasan politik mereka masih dapat diperbincangkan sampai saat ini.
Tidak hanya oleh para intelektual dalam negeri, tapi juga oleh para pengkaji pemikiran politik melalui lembaga-lembaga akademis nun jauh di luar teritorial Indonesia.
Mungkin ada yang berkata, era mereka yang demikian sulit baik ketika masih berada di bawah cengkreman kolonial, era postcolonial atau revolusi dan era Indonesia dengan infrastruktur dan suprastruktur politik awal, memberikan kesempatan kepada mereka untuk menjadi orang-orang besar dengan gagasan-gagasan besar yang mereka miliki sehingga direkam sejarah.
Kala itu bangsa ini masih mencari format dan wujud Indonesia. Konflik pemikiran dan politik kerap terjadi di antara mereka dan seyogyanya kondisi tersebut menjadi pembendaharaan dalam sejarah keindonesian.
Terlepas dari realitas tersebut, mereka adalah orang-orang yang memiliki miliu keilmuwan, analisis yang tajam terhadap dinamika sosio-politik, dan tentunya produktif.
Gambaran di atas tentunya bisa menjadi pelajaran bagi pemuda-pemuda Indonesia masa kini. Mungkin begitu sulit untuk menjadi seperti para founding father dengan sederet kualitas dan kontribusi yang luar biasa.
Lagian, era mereka tidaklah sama dengan era kini, dan kontribusi yang diperlukan bangsa Indonesia kini tentu tidaklah sama. Namun, semangat perjuangan dan kecintaan terhadap Indonesia yang telah mereka tunjukkan perlu tetap diwarisi.
Berkaitan dengan pemuda, penulis memiliki beberapa pemikiran yang seharusnya melekat pada pemuda Indonesia kini. Pertama, memiliki miliu keilmuwan.
Semangat keilmuwan perlu ditanam sejak dini agar pemuda memiliki wawasan yang luas yang kemudian membuat mereka mampu melihat permasalahan bangsa dari berbagai sudut pandang.
Tidak hanya sekadar bagaimana memandang Indonesia tapi juga dunia. Kompetensi keilmuwan tentunya akan meningkatkan kualitas pemuda sebagai warga negara.
Wawasan yang luas tentunya mesti didukung oleh kompetensi di bidang atau spesialisasi tertentu, sehingga kepakaran pemuda dapat berkontribusi dalam memajukan bangsa.
Miliu untuk memajukan dan menguasai teknologi tentu akan lebih baik untuk melengkapi hal tersebut. Kita lihat negara-negara maju, warga negaranya relatif lebih menghargai ilmu pengetahuan dan teknologi.
Dari sini pula mereka dapat meninggalkan negara-negara berkembang jauh di belakang. Miliu keilmuwan, berwawasan luas, kompeten di bidang atau spesialisasi tertentu, dan penguasaan teknologi idealnya menjadi paradigma dan melekat di benak para pemuda Indonesia.
Kedua, memiliki kualitas moral. Moral bukan lah urusan pribadi tertentu karena ia bisa menjadi karakter suatu bangsa. Pemuda seharusnya menjunjung dan menanamkan nilai-nilai yang berkaitan dengan moral pada dirinya.
Di tengah-tengah permasalahan bangsa yang begitu kompleks, masalah moral kerap menjadi penyebab yang menghambat perkembangan Indonesia sebagai sebuah entitas bangsa yang seharusnya mampu membuat lompatan-lompatan besar.
Sebut saja kasus korupsi yang selalu populer di antara pemegang kekuasaan, yang jumlah pelakunya selalu saja bertambah. Prilaku koruptif sekelompok pemegang kekuasaan tidak hanya berdampak buruk terhadap sistem yang di mana mereka berada, tapi juga mempengaruhi sendi kehidupan bangsa secara luas.
Dalam kondisi seperti inilah seharusnya pemuda tampil sebagai pelopor pemecahan masalah bangsa di mana pun mereka berada, bukan sebaliknya penambah masalah.
Ketiga, senantiasa berkontribusi. Pemuda adalah modal sosial yang perannya diperlukan di tengah-tengah masyarakat.
Peran-peran tersebut dapat berupa aktifitas sosial ataupun politik. Keberadaan pemuda dalam berbagai lembaga sosial bisa menjadi corong untuk mengoptimalkan potensi sosial mereka seperti untuk melakukan pembinaan, pemberdayaan dan pencerdasan masyarakat.
Dengan mengupayakan dan memiliki ketiga hal tersebut diatas, sudah cukup bagi pemuda untuk wewujudkan semangat nasionalisme pada dirinya.
Perspektif semacam ini bahkan lebih substantif daripada hanya sekadar sibuk dengan agenda-agenda seremonial dan retorika klasik tentang kebangsaan, misalnya ketika momentum sejarah Sumpah Pemuda tiba.
Bangsa yang besar tidak hanya pandai menghargai sejarah, namun pandai memberikan kontribusi nyata terhadap permasalahan yang dihadapi dalam konteks kekinian.
Kontribusi nyata tersebut tidak akan terwujud tanpa adanya pembobotan kualitas diri pemuda. Ditambah lagi masa muda adalah masa yang produktif untuk berkarya.
Tidak dapat dinafikan, bahwa di tengah-tengah wacana kepemudaan Indonesia terdapat beragam permasalahan yang hadir, seperti rendahnya tingkat pendidikan dan tingginya pengangguran di kalangan pemuda.***
Luerdi
Mahasiswa Pascasarjana Prodi Ilmu Politik Unri
Sumber : riaupos.co















0 komentar :
Posting Komentar
Terima kasih atas partisipasi anda. Semoga hari ini menyenangkan.