Dalam setiap kehidupan, ada kesedihan dan kebahagiaan, ada hari dimana kita kehilangan kepercayaan kita, hari dimana teman kita melawan diri kita sendiri. Tapi hari itu tak akan pernah datang saat kita membela suatu hal yang paling berharga dalam hidup ~ @MotivatorSuper

Senin, 28 Oktober 2013

Gerakan Pemuda, Apa yang Kamu Cari

Senin, Oktober 28, 2013 By Unknown No comments

Oleh : Imam Ghozali



Gerakan Pemuda, Apa yang Kamu Cari
[ArtikelKeren] OPINI - Gerakan pemuda sepanjang sejarah di Indonesia mempunyai orientasi kuat dalam membangun landasan filosofis bersama (common philosofis ground), yaitu: kemerdekaan, kemandirian, dan kemajuan.

Kemerdekaan berarti kebebasan menentukan nasib suatu bangsa (bukan individu), persamaan derajat dan ada jaminan perlindungan Hak Asasi Manusia (HAM).

Sedangkan kemandirian berorientasi pada kemampuan sebagai bangsa bermartabat dan tidak tergantung atau mengekor kepada bangsa lain.

Sikap ini merupakan bentuk kepercayaan diri sebagai bangsa yang bermartabat dan mempunyai daya saing dengan bangsa lain.

Kemajuan merupakan cita-cita gerakan pemuda untuk mencapai terciptanya kehidupan yang modern, beradab dan berbudaya.

Sehingga sepanjang nilai-nilai positif datang dari luar tetap welcome (diterima) demi menciptakan kemodernan yang semakin baik.

Orientasi gerakan pemuda tersebut bisa dilihat dari perspektif sejarah. Catatan sejarah yang terkenal yaitu pada 1908 berdiri Boedi Oetomo yang diprakarsai oleh para pemuda seperti M Radjiman Wediodiningrat dan Tjipto Mangunkusuma.

Gerakan ini juga mempunyai cita-cita luhur, yaitu melahirkan kemerdekaan dan berakhirnya keterbelakangan. Namun dominasi kaum tua di organisasi tersebut, pemuda keluar dan membangun kembali (reconstruction) gerakan pemuda berdasarkan kedaerahan. Tentu ini bukan cita-cita yang mereka inginkan.

Untuk kembali pada khitah awal, para pemuda mengadakan kongres pertama di Batavia pada 30 April-2 Mei 1926. Tujuan yaitu menanamkan semangat kerja sama antarperkumpulan pemuda di Hindia Belanda.

Pada 27-28 Oktober kembali diselenggarakan kongres kedua Pemuda Indonesia.

Tujuan untuk mempersatukan semua perkumpulan pemuda Indonesia dalam satu wadah. Upaya tersebut berhasil dan melahirkan kesepakatan bersejarah dalam kongres yaitu “Sumpah Pemuda”.

Peristiwa tersebut menjadi penting untuk melihat potret sejarah gerakan pemuda, bahwa setiap perjuangan yang dilakukan untuk kepentingan bangsa.

Mereka menyadari bahwa kebersamaan itu lebih penting dari latar belakang suku dan keturunan, mereka dengan ikhlas melebur diri menjadi satu bangsa dan menerima bahasa Melayu menjadi bahasa persatuan.

Kesadaran nasionalisme yang tinggi ini dibuktikan lagi ketika menyusun ideologi negara.

Paling tidak bisa dilihat dari dua poin penting, yaitu: Pertama, penyusunan ideologi melibatkan berbagai unsur golongan agama, baik Islam maupun non-Islam (AA. Maramis beragama Kristen) dan tokoh nasionalis.

Kedua, kesepakatan tim kecil terdiri dari lima tokoh, yaitu Ki Bagus Hadikusuma, KH Wahid Hasyim, Mr Kasman Singodemojo, dan Mr Teuku Mohammad Hasan untuk mengubah kalimat “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”, menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa.” Puncak buah dari perjuangan gerakan pemuda yaitu kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.

Setelah Indonesia merdeka, gerakan pemuda tidak pernah berhenti. Mereka selalu mengawal kebijakan pemerintah yang tidak berpihak terhadap rakyat. para era pemerintahan Soekarno, KAMI dan KASI (Kesatuan Aksi Sarjana Indonesia) melakukan demonstrasi besar-besaran dengan slogan Tritura (Tiga Tuntutan Rakyat).

Risikonya, salah satu mahasiswa Universitas Indonesia meninggal dunia, yaitu Arif Rahman Hakim. Namun gerakan pemuda tersebut mempunyai andil besar mengakhiri Orde Lama (Orla).

Begitu juga pada masa Orde Baru, gerakan pemuda yang diprakarsai mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi melakukan demontrasi besar-besaran di gedung DPR-RI.

Demonstrasi yang sampai sekarang masih membekas yaitu karena jatuhnya korban empat mahasiswa Universitas Trisakti pada 12 Mei 1998.

Akibatnya, kondisi esoknya hari semakin memanas, terjadi kekacauan di mana-mana. Setelah mengadakan pertemuan dengan pemimpin sembilan tokoh Islam, Soeharto pada 21 Mei 1998 mengumumkan diri berhenti dari jabatan sebagai Presiden RI.

Jadi jelas sekali, bahwa orientasi pemuda dalam setiap gerakan yang dilakukan yaitu untuk menyelamatkan bangsa dan negara dari kerusakan.

Sebagai kelompok manusia yang bebas dan mandiri, pemuda bisa menunjukkan sikap idealisme dalam memperjuangkan sesuatu yang diyakini bahwa itu benar.

Hal tentu didukung oleh kondisi mereka yang secara moral belum mempunyai tanggungan diri untuk keluarga, istri dan anak.

Itu sebabnya gerakan yang dilakukan murni untuk melakukan suatu perubahan terkadang kelihatan terburu-buru dan penuh dengan risiko.

Tragis memang, pada saat ada keinginan regenerasi kepemimpinan, dan pemuda diharapkan mampu memenuhi keinginan tersebut, malah terjebak pada pragmatisme kekuasaan.

Ada semacam kebosanan menyuarakan kepentingan rakyat, yang ternyata tidak menguntungkan dari segi materi dan kedudukan. Hal ini yang kemudian hari idealisme yang dibangun rontok di tengah jalan sebelum cita-cita besarnya terwujud.

Harapan besar rakyat pada generasi muda sebagai penerus estafet kepemimpinan semakin kabur. Satu demi satu para aktivis dan generasi muda yang selalu menyuarakan kepentingan rakyat dengan ucapan, “berjuang untuk rakyat”, “membela rakyat”, kini telah menghianati rakyat.

Jabatan empuk baik legislatif, ekskutif dan yudikatif telah meracuni memori mereka yang hanya berorientasi pada kesenangan pribadi.

Maka wajar apabila ada yang mengatakan bahwa “pemimpin tidak ditentukan oleh umurnya, tapi oleh kualitas pribadinya’’. Kalimat ini merupakan suatu penegasan bahwa kualitas pemimpin ditentukan pada kualitas orangnya.

Selain itu, juga sebagai penegasan bahwa masyarakat telah terhinggap rasa pesimis terhadap komitmen yang selalu dikatakan oleh para pemuda.

Memang tidak adil jika perilaku pemuda selalu divonis sebagai gerakan oportunis (hanya mencari keuntungan sesaat). Masih banyak pemuda yang menjunjung tinggi nilai-nilai moral.

Salah satunya, yaitu sikap nasionalisme pemuda yang tergabung dalam Timnas U-19. Dengan gagah berani, U-19 mampu menumbangkan keperkasaan Timnas Korsel yang selama 13 tahun tidak pernah terkalahkan oleh Timnas Indonesia.

Penulis meyakini bahwa sense of purpose (kesadaran tujuan) yang dibangun Timnas U-19 akan memberi pengaruh positif kepada para pemuda untuk mempersembahkan yang terbaik bagi bangsa ini. Termasuk Anda bukan?***



Imam Ghozali
Mahasiswa S3 UIN Suska Riau


Sumber : riaupos.co

0 komentar :

Posting Komentar

Terima kasih atas partisipasi anda. Semoga hari ini menyenangkan.


http://artikelkeren27.blogspot.com/2014/01/hasil-seleksi-cpns-kota-pekanbaru-2013.html

http://artikelkeren27.blogspot.com/2013/12/pengumuman-kelulusan-cpns-kementerian.html


http://artikelkeren27.blogspot.com/2013/12/pengumuman-daftar-nilai-tkd-dan-tkb.html



http://artikelkeren27.blogspot.com/2013/12/pengumuman-daftar-nilai-tkd-dan-tkb.html



http://artikelkeren27.blogspot.com/2013/12/hasil-seleksi-cpns-kabupaten-indragiri.html


http://artikelkeren27.blogspot.com/2013/12/hasil-seleksi-cpns-kabupaten-kuantan.html
http://artikelkeren27.blogspot.com/2013/12/hasil-seleksi-cpns-kabupaten-siak-2013.html










PETUNJUK PENGGUNAAN