CERPEN | Riki Utomi

[ArtikelKeren] CERPEN - Bukan itu saja yang diceritakan oleh Adul kepadaku. Masih banyak tentang sosok lelaki itu. Adolf, lelaki dengan jambang yang bergulung dari pipi sampai ke dagu, kumisnya juga seperti para pemain reog, juga matanya tajam menyoroti mata kita. Kekar badannya yang hampir dapat kukira tak mampu kalau orang ingin menendangnya. Adolf masih memiliki sesuatu yang tak dapat orang lain tahu di mana keberadaan benda itu.
Seperti kuketahui juga dari Adul, bahwa Adolf tidak mempan senjata. Orang-orang pasti bingung kalau sudah berhadapan dengannya. Dia memang tidak tersinggung saat orang lain mengolok-oloknya, tapi tidak bisa tidak untuk hal yang berujung pada masalah harga diri. Dia pasti melayani dengan penuh gerilya. Bahkan, dulu, pernah seorang yang mengamuk kepadanya malah terpental sendiri ke kaca pertokoan. Kaca itu pecah berkecai, berantakan.
“Orang lain jual, aku beli!” begitu katanya, jelas Adul kepadaku.
Aku mengangguk saja dengan sedikit kagum. Adul kenal dengan Adolf, lelaki yang berusia hampir lima puluhan. Tapi Adul tidak terlalu kenal dekat, hanya sekadar tahu untuk bisa dikatakan saling bertegur sapa saja. Untuk itu Adul menawariku agar lelaki itu mau menerima kami sebagai muridnya. Hal itu disampaikannya dengan penuh harapan dan penuh keyakinan. Baginya itu peluang emas untuk mendapatkan sebuah kesaktian. Adul sangat antusias.
“Tapi apakah tidak kita telusuri lebih jauh tentang Adolf?” tanyaku terlebih dahulu. Kulihat Adul diam, tapi seperti menyiratkan raut kecewa.
“Apakah kau masih ragu?”
“Aku hanya ingin memastikan saja. Sebab aku sebelumnya tidak tahu menahu tentang kesaktiannya itu, bukan? Jadi aku—setidaknya kita—perlu mengetahui lebih jauh,” jelasku padanya.
“Kau jangan khawatir. Aku kenal dengannya. Dia juga baik. Hanya orang saja tidak mengetahui dirinya. Orang terlanjur menganggap dia preman karena tampangnya. Setahuku dia memang pemeras, tapi kau harus tahu,” bisiknya spontan pelan-pelan. Lalu Adul menoleh kanan-kiri seperti khawatir ada orang yang mendengar. “Kau harus tahu, bahwa hasil uang yang didapatinya itu—dari perasnya pada orang yang kaya tapi pelit—sebagian dia bagikan kepada kaum dhuafa yang meminta-minta di pinggir jalan, para pengamen, para gelandangan, tukang parkir, tukang becak, sampai para pelacur,” jelas Adul dengan raut sangat serius. Aku terkejut. Dadaku berdegup. Darahku tiba-tiba berdesir. Adakah seorang preman besar mau berbuat seperti itu? Apakah lelaki itu ingin berbuat seperti Robin Hood?
***
Aku memang belum merespon ajakan Adul untuk berguru silat pada Adolf. Aku masih berpikir panjang. Setidaknya aku masih merasa sulit untuk mengatur waktu karena di rumah, aku harus—mau tidak mau—menggantikan ibu menjaga warung pada waktu malam. Otomatis aku jarang memiliki waktu keluyuran. Setahuku Adolf sering main di pasar. Pekerjaannya sebagai buruh pelabuhan peti kemas. Dulu dia penarik becak, tapi karena tidak memiliki sepeda motor, dia kehilangan pelanggan, karena becak dayung yang masih ditarik oleh sepeda kini hampir tidak beroperasi lagi dan banyak ditinggalkan penumpang di Selatpanjang ini. Sebab itu orang banyak menggantikan dengan sepeda motor di sisi becaknya.
Adolf—seperti yang diceritakan Adul—seorang pekerja ulet. Wajahnya campuran jawa dan cina. Untuk itu mungkin dia dikenal rajin. Tapi kini orang banyak yang tidak suka padanya, konon karena suatu hal yang pernah dibuatnya dulu. Dulu ketika aku masih kecil-kecil tapi aku tak tahu pasti apa. Orang-orang menganggapnya preman pasar yang harus dihindari. Ada sebab lain yang juga melatarbelakanginya, sebagai bagian darinya, konon dia bekas seorang tentara yang membelot dari instruksi komandan untuk menumpas suatu pergerakan rahasia di Timor-Timur, hanya karena dia tidak ingin melukai seorang perempuan yang telah janda dengan seorang anaknya. Alasannya tidak diterima oleh sang komandan karena hal itu sebuah hal yang bodoh. Tapi dia dengan pendiriannya tidak ingin melukai orang-orang yang tidak bersalah akan imbas serangan rahasia kepada pihak sipil yang banyak menjadi mata-mata bagi pihak militer Indonesia yang saat itu sedang genting. Hal itulah yang, menurut cerita, sampai dia dikeluarkan dari anggota satuan militer.
Dia kini masih dengan jiwa disiplin mulai meninggalkan kebanggaannya sebagai seorang tentara yang tidak ingin dikomandoi dan dia sempat diburu oleh orang Indonesia sendiri karena telah dianggap pengkhianat bangsa sendiri, karena sempat dulu dia membantu para gerilyawan negara yang ingin merdeka itu dengan bantuan peralatan senjata. Akhirnya dia sempat buron bertahun-tahun. Sampai orang-orang akhirnya melupakannya sendiri dan menganggapnya telah mati.
Itu cerita-cerita orang lain yang kudengar dari Adul. Seperti yang juga kulihat memang Adolf tampak sebagai lelaki yang memliki postur tubuh kekar, tegap tangkas, keras, tapi tampak dari hatinya juga lembut, tapi aku masih belum mengerti mengapa orang-orang lain semakin menghindarinya. Orang-orang sengaja menghidari untuk tidak ingin mencari masalah, karena menurut kabar, Adolf sangat mudah untuk menusukkan pisaunya ke perut orang lain (barangkali hal itu karena sesuatu permasalahan masa lalu) dan dia ternyata cukup puas berada di dalam sel tahanan. Dan sampai membuat pihak berwajib bosan dan muak melihat mukanya.
Adul masih mengharapku untuk menghadap lelaki itu. Bagiku ini sangat berat. Belajar silat dengan residivis dan seorang preman besar, apakah tidak berbahaya? Setidaknya aku khawatir pemikiran dari sang guru bertipe seperti itu akan sedikit banyak berpengaruh pada pemikiran kami sebagai muridnya kelak. Untuk itu aku harus hati-hati dan perlu mengutarakan dengan baik pada Adul. Aku juga tak ingin Adul terlalu gegabah dalam mengambil keputusan untuk belajar silat pada lelaki itu.
Memang yang menjadi landasan kuat Adul untuk berguru pada lelaki preman besar itu karena untuk menjaga diri. Tapi aku yakin tidak sakadar itu, masih ada hal yang tersembunyi dalam benaknya. Adul dari raut wajahnya yang dapat kutangkap, sangat antusias mengajakku dengan berbagai dalih. Baginya keutamaan kemauan adalah niat baik. Berguru bukan berarti sekadar membentengi diri tetapi lebih jauh menjadi bagian dari apa yang telah diajarkan dengan mengarungi semuanya; kalau dapat tanpa sisa. Itu yang pernah kutangkap ungkapan Adul kepadaku. Secara jauh aku menangkap ada sesuatu yang begitu optimis dalam dirinya untuk berguru silat. Apakah Adul ingin kelak menjadi pengganti Adolf? Sejauh mana dia mengerti tentang pribadi lelaki preman besar itu? Aku sampai kini belum ada merespon. Bahkan kalau dia datang ke warung saat aku jaga malam, aku usahakan dengan topik obrolan yang lain; tentang klub-klub sepak bola kesayangan kami, tentang kapan akan bermain footsall kembali, tentang kondisi ayahnya yang baru selesai operasi, tentang teman sekelas kami Dewi yang cantiknya aduhai… sampai tentang rencana kami merokok pada jam istirahat di semak-semak belakang sekolah. Tapi celaka, dia masih saja tiba-tiba merocos tentang Adolf, untuk berguru silat kepada lelaki preman itu.
***
Akhirnya aku mengucapkan ‘Iya’ sambil mengangguk meski dalam hati tetap mengatakan ‘Tidak’. Hati kecilku berontak. Tapi anehnya aku menurut saja oleh ajakan Adul itu. Setelah beberapa minggu ini, dia tampak tidak seperti biasanya: raut wajahnya kusut, rambut acak-acakan dan kering (barangkali mungkin dia mulai jarang mandi sekaligus pakai minyak rambut), pakaiannya kelihatan kusam dan kumal, juga terlihat kumuh, bicaranya yang tak kumengerti, sedikit tampak awut-awutan, kasar, keras, dan terkesan memaksa (apakah dia saat ini sudah terbiasa mabuk?) dan terakhir giginya kuning berkarat kecokelatan karena sudah sering merokok.
Aku tak tahu mengapa Adul berubah. Kali ini di hari kedua, sepertinya ajakannya itu tak dapat ditoleransi lagi. Bahkan mungkin dia bukan saja menceramahiku tetapi akan sanggup juga untuk membentakku. Demi persahabatan aku menurut tetapi aku bertekad untuk tidak terlalu serius. Aku segera berganti pakaian. Lalu kami tancap gas dengan Satria FU. Langsung ke tempat dimana biasanya Adolf nongkorng di sore hari.
Ketika kami tiba, Adolf tampak santai menikmati sore yang gerah sambil menyeruput secangkir kopi dan sebatang rokok. Tatapannya jauh ke arah laut dan di ujung sana, Pulau Rangsang—barangkali kampungnya—setidaknya dia mengingat kembali kenangannya, entahlah. Adul turun gelagapan lalu menyenggolku dengan bahunya, “Apa dia patut untuk diganggu?” Tanya Adul kepadaku sambil mengernyitkan dahinya. Aku juga memandangnya dengan raut tak pasti.
“Coba kau dekati saja,” balasku meyakinkan.
Aku lihat Adul seperti tidak yakin. Aku mulai tertawa dalam hati. Mengapa dia jadi ciut begitu. Tapi aku masih terus memompanya untuk menyakinkan bahwa kedatangan ini jangan disia-siakan. Lalu dengan berharap tidak terjadi apa-apa Adul mulai melangkah mendekati lelaki sangar itu. Aku membuntutinya dari belakang.
Hampir dekat, tapi kami telah dikejutkan oleh wajah Adolf yang kaku. Matanya merah. Mulutnya masih menancap batang rokok yang tinggal seinci, dia mengisapnya dalam-dalam sambil mengernyitkan dahi, “Kalian… mau belajar silat?” ujarnya dingin. Kami langsung terpaku. Dari mana dia tahu?
Kulihat Adul terdiam kaku. Aku ingin mengatakan sesuatu tapi kekakuan turut menyelimutiku. Aku tak tahu mengapa. Demi mencairkan situasi, kulihat lelaki sangar itu tertawa—lebih tepat menertawai kami. Adul menjadi cengengesan seperti tidak tahu apa yang harus dikatakan di saat ini. Lalu Adolf menyilahkan kami duduk di dekatnya. Sembari menawarkan sisa panganan gorengan yang masih ada. Aku yakin Adul enggan menjamah makanan itu.
“Kedatangan kalian setidaknya sebagai obat bagiku,” katanya sambil tertawa.
Kami mendengarnya seperti tertawa lain, yang dibuat-buat. Aku mulai merasa sesuatu yang lain. Kulihat wajah Adul pucat. Setidaknya, perasaannya akan berkecamuk, atau dia telah menyesal untuk mengajakku ke tempat ini?
“Kami tidak bermaksud demikian, Abang. Tapi …”
“Sudahlah! Kalian jangan kaku begitu. Tidak baik telah datang jauh-jauh dan menyinggung perasaanku, bukan?”
Kami spontan saling pandang. Apa maksud Adolf? Demi Tuhan aku merasa menyesal menerima ajakan Adul menjumpai lelaki sangar ini. Sejak tadi aku seperti menangkap gelagat yang lain pada diri lelaki itu. Dari jauh, setidaknya dari jauh, aku bisa membayangkan sesuatu yang “angker” tergambar dari, hampir, pada seluruh tubuhnya: wajahnya yang kaku berminyak, mata merah—bisa kurang tidur atau sering meneguk minuman keras?—menyala, rambut kusut masai; tampak uban berserak juga ketombe, lengannya tampak kekar juga penuh tato lebih dominan tato bergambar perempuan telanjang, atau tanda panah menembus hati seperti tergambar pada buku-buku tulis remaja; lengan kekar itu tampak legam oleh sengatan matahari, dan bajunya, kau tahu, sangat kumal tentu juga bau dan penuh debu, oh ya, celanya jeans-nya koyak-moyak dan berdebu. Tak salah kalau kami memang mendatangi salah orang. Ah! Aku menyesal menerima ajakan Adul. Tapi kami masih belum berani beranjak dari lelaki sangar ini.
“Kami ingin belajar silat pada Abang …” kata Adul dengan gelagapan.
Adolf tertawa. Lalu bertepuk tangan seperti mempermainkan kami.
“Boleh saja. Itu bagus, bukan?” balasnya. “Tapi kalian harus tahu. Setidaknya belajar silat bukan hanya belajar tetapi juga memasang prinsip untuk sesuatu…”
Rasanya Aku ingin cepat-cepat meninggalkan tempat terkutuk ini. Tapi kulihat Adul berubah pikiran, padahal sudah kusenggol dia dengan bahu.
“Maksud Abang?” lanjut Adul seperti ingin meneruskan pembicaraan.
“Ya. Kau tidak perlu heran. Maksudku—begini—aku tidak bermaksud sombong.
Apakah kalian yakin benar akan kegunaan ilmu silat yang kalian dapatkan nanti?” balas Adolf menyoroti mata kami dengan tatapan tajam. Apa maksudnya? Kali ini aku mendengar sesuatu yang lain. Tidak seperti tadi yang seperti mengerikan. Apakah ada sesuatu yang dipikirkan Adolf?
“Aku ingin jadilah kalian orang yang benar-benar memegang prinsip! Apalagi lelaki. Kita harus melihat kenyataan. Orang besar dan kaya belum tentu memiliki sifat kearifan sebagai manusia, tetapi orang kecil—dia tertawa sambil mengatakan dirinya—bisa jadi lebih peka dan mampu berbuat untuk berbagi bersama juga memiliki peran untuk bersikap menolong pada sesama.”
Kami saling pandang lagi. Hatiku seketika berubah dari takut kini menjadi biasa, gugup jantungku juga mereda. Aku memabayangkan Adolf tidaklah segarang apa yang aku bayangkan. Tampak Adul semakin berani mengajukan keinginannya. Tapi aku tetap was-was oleh pemikiran Adolf.
***
Sepenuhnya aku belum mengerti apa yang dimaksud Adolf. Lelaki paruh baya berwajah beringas itu—dengan suaranya yang menggelegar, berkata seperti berfilosofi. Aku seperti menangkap sesuatu kesan: mirip—mungkin—ajaran-ajarannya yang kelak akan ditularkan kepada muridnya. Setidaknya keinginan seperti itu akan tercapai. Tapi apa? Aku setakat ini hanya menduga. Sebab ada raut muka Adolf seperti mengisyaratkan kebencian. Garangnya, ya garangnya itu… bukan seperti ditujukan kepada kami. Namun sial! Aku setidaknya harus merelakan waktu sedikit untuk terpaksa menemuinya sekali seminggu di minggu pagi pukul tujuh. Di sebuah pekarangan yang tak terlalu luas itu, Adolf melatih aku dan Adul pencak silat.
Sebelumnya aku memang manaruh minat besar terhadap bela diri. Kesukaanku menonton pertandingan di stadion memotivasiku untuk memiliki ilmu bela diri nusantara ini. Tapi kini, perasaanku diselimuti kekhawatiran lain. Wajah Adolf seperti membayangi pikiranku tentang sesuatu yang lain. Meski dalam kelembutan, keselarasan, keutuhan, kekuatan dalam latihan pencak silat itu, unsur lain sedikit-sedikit mulai merasuki kami, aku tidak tahu Adul, tapi aku merasakan sebuah keganjilan pada diriku.
***
Bangunan rumah megah dan mewah itu tampak semrawut. Kaca-kaca jendela tampak retak dan pecah. Sebuah parabola miring membentuk sudut yang tak karuan. Sebuah mobil di luar, tampak pecah kaca-kacanya juga remuk. Rumah itu, padahal, dikawal oleh dua orang satuan pengamanan. Tapi malang tidak bisa dielak oleh seusatu yang mendadak.
Terdengar jerit histeris perempuan dari dalam rumah. Tangisan anak-anak terdengar ramai, juga dari dalam. Para polisi memasang garis batas berwarna kuning mengelilingi rumah. Seorang lelaki berpakaian jas dan dasi tengah berhadapan dengan tiga orang polisi perpangkat tinggi. Beberapa wartawan sibuk menjepret keadaan. Sejumlah tetangga tampak antusias melihat kejadian yang berlangsung. Semua larut demi mengetahui kejadian itu. Aku turut memandang semua itu dengan cemas.
Seperti kata orang lebih kejam ibu kota daripada ibu tiri. Setidaknya hal itu benar. Ungkapan yang dapat mencengangkan kita sekaligus membuat bulu kuduk kita berdiri. Aku jadi teringat Adolf. Lelaki bengis itu selalu berkata orang kecil belum tentu menderita tetapi orang besar, bisa jadi lebih menderita secara tiba-tiba. Secara tak terduga semua harta mereka habis lenyap tak tersisa tanpa tahu untuk berkata apa. Orang kecil hanya menderita karena tak memiliki daya kemampuan untuk kaya. Tetapi orang kaya menderita karena kekayaan itu sendiri yang malah meneror mereka—itu kalau mereka menyalahkan harta itu sendiri. Aku teringat Adolf berkata demikian pada asat istirahat latihan pencak silat. Entah mengapa aku kembali teringat kepadanya…
“Harus kalian ketahui Aku bukan seorang perusuh, pembuat ulah, atau pemberontak. Aku memang penentang segala ketidakadilan. Aku berbuat karena memang harus ada yang kuperbuat. Aku penentang karena memang ada yang akan ditentang. Aku pemberontak karena memang ada untuk aku berontak. Semua hal itu memang tidak dapat diterima tetapi yakinlah akan dapat diterima karena logika kita ada. Semua itu bisa dikatakan tidak mungkin dilakukan, tetapi yakinlah semua itu dapat dilakukan meski tidak benar karena ada yang menyimpan dan simpang siur, hal itulah yang membuat tidak benar akan berubah menjadi benar meski di mata mereka semua orang mengatakan itu salah….
Lalu? Apa menurut abang semua itu benar dan dapat dilakukan? Meski di mata umum hal itu salah?
Mengapa kalian tolol sekali?! Bukankah hal itu salah? Bukankah semua yang mereka—orrang-orang besar itu—lakukan salah? Lihatlah… tidak ada yang menyalahkan mereka meskipun mereka telah berbuat salah. Kalian harus tahu bahwa di negara besar ini hukum hanya sebagai mainan, hukum ibarat mainan anak-anak yang sangat murah. Hukum seperti barang ekonomis yang mudah untuk diperjualbelikan oleh pelaku hukum sendiri. Begitu mudah semua dilakukan tanpa merasa berdosa.”
***
“Aku tidak menyalahkanmu untuk tidak lagi belajar silat pada Adolf,” kata Adul dengan tenang. Aku mengangguk.
“Tapi aku merasa puas…” lanjut Adul terhenti. Aku menatapnya penuh tanda Tanya. Wajahnya tiba-tiba begitu sumringah.
“Kepuasan apa itu?”
“Apa yang diajarkan Adolf kepadaku benar apa adanya. Untuk itulah aku ingin seperti dia. Ingin menjadi bagian dari dirinya. Kau tahu kejadian tadi di rumah salah seorang pejabat pemerintah bajingan itu?” kata Adul yang membuatku heran.
“Akulah pelakunya!”
Aku hampir pingsan. Tapi cepat aku pulihkan diri. Meskipun jantungku hampir lepas, aku mencoba untuk mengetahui sambil mengucap istighfar berkali-kali.
“Kau harus tahu… bahwa kita harus memiliki kepekaan terhadap hidup! Orang-orang seperti itu (ucap Adul sambil meludah menunjukkan ekspresi kebencian) harus dibasmi dari kehidupan ini. Mereka adalah virus bagi kita kaum miskin yang termarginalkan. Kita orang tertindas oleh sikap mereka.”
Aku mengggeleng, “Aku tak mengerti…”
“Kau tidak mengamalkan apa yang telah Adolf ajarkan kepadamu!”
“Aku bukan muridnya. Aku tidak siapa-siapa bagi dirinya,” balasku tegas.
“Tapi kau harus sadar bahwa orang-orang laknat itu (sambil menyumpah) harus kita tumpas. Uang kita ada sepenuhnya pada mereka. Soal janji mereka akan menyejahterakan kita! Itu hanya dongeng pangantar tidur. Bahkan aku ingin sekali memotong lidah mereka atau menyembelih leher mereka seperti kambing kurban,” Adul tertawa.
Aku mulai meneteskan air mata.
“Kau bukan temanku kalau begitu,” jawabku.
Adul tertawa lantang.
“Aku sangat takut berteman seorang buronan.”
“Aku bukan buronan. Malah aku adalah pahlawan. Aku membela rakyat yang sebenarnya. Aku berbuat untuk mereka, kau yang tertindas oleh perbuatan kaum laknat itu. Kau harus tahu semua yang kuperbuat hasilnya telah kubagikan kepada mereka yang membutuhkan.”
Aku membuang muka sambil menyapu air mata.
“Dan kau tahu? Adolf… telah juga aku habisi. Aku berhasil mengambil senjata rahasianya. Aku kini akan berkuasa.”
Aku beralih memandang Adul dengan tajam. (*)
Selatpanjang, 21 Februari 2014
Riki Utomi
Menamatkan studi di Prodi. Pend. Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Islam Riau


CERPEN | Musa Ismail

Di mataku, Abah bercahaya.
Abah seperti purnama penuh dalam rumah tanpa listrik.
[ArtikelKeren] CERPEN - Badanku bagai layang-layang. Melayang sana, melayang sini. Melenggok ke kiri. Lalu, setengah berputar. Menjunam. Naik kembali. Limbung! Malam ini, sudah tujuh-belas tetes hujan jatuh. Sapu tanganku jadi lembab. Sudah tujuh-belas kali aku berputar. Aku kebingungan. Aku kehilangan. Aku berputar-putar mencari foto Abah. Yang nampak, hanya bentangan gelap. Cakrawala hitam mengepung penglihatan. Apakah aku buta?
"Ah, mana mungkin. Baru sekejap, aku siap membaca tujuh-belas halaman Al-quran pada Jus ke-17.’’
Sekali lagi, kucoba meyakinkan penglihatanku. Ternyata memang betul. Aku tak buta. Aku masih dapat melihat gulita. Hitam itu membentang. Gelap itu panjang dan melebar tanpa tepi. Di tengah-tengahnya, kulihat ada titik. Lama-lama, titik itu membesar. Membesar dan membesar sehingga kian jelas. Ternyata, bukan titik. Benda itu menohok mukaku. Mataku membeliak. Mengapa wajah Abahku ada di tengah-tengah kehitaman itu?
"Ah, mana mungkin. Tentu itu bukan wajah Abahku.’’
"Aku Abahmu, anakku. Aku adalah Abahmu.’’ Begitu sms yang masuk ke Hp-ku. Pesan itu bagai barisan sejuta mimpi. Tiap hurufnya adalah kemungkinan. Tiap katanya adalah kenyataan. Kubaca dan kulihat lagi. Memang betul, itu nomor hp Abahku. Hatiku masih berguncang tak percaya. Otakku juga bagai badai tak menerima kenyataan ini. Aku berpikir bahwa ini ilusi. Semakin kuat aku menyangkal, kebodohan kian menerpa sendi-sendi badan dan sarafku.
Aku tak bisa bercakap dengan bayangan wajah Abahku yang terjebak di bentangan gelap itu. Percuma saja. Kalau kujerit sekuat tenaga pun, hanya mubazir. Kegelapan itu telah menetralkan suara-suara yang ada apalagi suaraku yang tak seberapa kuat ini. Kegelapan itu telah melahirkan kebisuan yang dahsyat. Bagiku, kegelapan juga yang melahirkan rangkaian peristiwa ketakutan yang selama ini mendera kehidupanku, kamu, dia, dan mereka.
"Jangan pernah takut pada kegelapan, Anakku,’’ SMS Abah masuk lagi ke Hp-ku. ‘’Sebab, malam adalah sahabat yang mengantarkan kita pada fajar.’’
"Sebenarnya Abah di mana?’’ kucoba mengirim pesan itu beberapa kali, tapi gagal. Keanehan semakin menyelimuti kesadaranku ketika itu. Mengapa sms Abah bisa kuterima, sedangkan sms yang kukirimkan kepadanya tak pernah terkirim?
"Abah sekarang berada di suatu taman, Anakku,’’ SMS Abah masuk lagi.
"Aku jadi heran. Abah kok bisa membaca pikiranku,’’ tanganku masih menekan-nekan hp. Kubalas, tapi tetap saja gagal. ‘’Abah di taman mana, sih?’’ hatiku penasaran.
"Tak dapat Abah lukiskan dengan kata-kata. Bahkan, kau sebagai pelukis terkenal pun tak akan mampu menerjemahkannya di atas kanvas. Ada yang bercahaya, ada pula kegelapan. Anakku, berhati-hatilah di dunia. Dunia adalah karantina. Dia adalah langkah menuju cahaya atau kegelapan. Permainan yang kaulakoni di sini menjadi langkah awal pada kehidupan berikutnya. Inilah permainan, Anakku. Suatu permainan.’’
Aku coba membayangkan wajah Abah sekuat pikiran, sekuat tenaga. Lalu, kutumpahkan di atas kanvas. Tanganku bergerak tanpa kendali, tanpa memedulikan gagasan yang turun dari neuron-neuron otak kananku. Malam ini, kamarku menjadi asing. Aku bagaikan manusia mesin yang digerakkan sesuatu yang tak kuketahui. Aku sangat membenci ini. Sesuatu yang tak diketahui sungguh sangat menyiksa batinku. Masih kelam, di mana aku mencari jawab?
"Kau tahu azab, Anakku? Abah yakin, kau sangat tahu itu. Kau tahu, setiap hari hati Abah teriris.’’
Jantungku serasa jatuh membaca pesan itu.
"Sekarang, Abah dalam keluarga asing. Hati Abah teriris karena para tetangga yang bernasib malang. Mereka dicambuk-cambuk, Anakku. Mereka dibantai oleh seseorang yang tak dapat kulihat.’’
Aku tahu, pasti wajah Abah dipenuhi rasa cemas.
"Kau salah, Anakku. Kecemasan itu hanya ada pada orang-orang lemah. Kecemasan juga akan hinggap pada kita kalau tak punya bekal yang cukup. Apakah bekalmu sudah cukup, Anakku?’’
Tanganku masih terus merenangi kanvas.
Menurutku, Abah mengada-ada. Apa dia tak tahu. Rumah ini tak pernah kurang. Kerja kerasku selama ini telah membuahkan hasil berlimpah. Lima istana megah. Lima kendaraan mewah. Lima perusahaan bonafit. Duit berlimpah ruah. Semuanya aku punya. Wajar rasanya kalau aku menikmatinya. Inilah buah dari keringatku. Ah, pertanyaan Abah itu sungguh konyol.
"Sudah dua kali kau keliru. Semua itu bukan bekal. Lihatlah dirimu sekarang. Kau sebenarnya lebih miskin daripada fakir-miskin di sekitar istanamu.’’
"Abah jangan menerorku,’’ aku memekik. Hp nyaris kubanting, tetapi tertahan.
"Kau salah lagi. Aku bukan teroris. Pikiranmu sudah terjangkit virus Amerika yang sok hebat itu. Tak perlu menuduh orang lain. Bercerminlah pada diri. Kau telah begitu berani menganggap Abah sebagai teroris. Tarik kata-katamu itu.’’
Aku mati akal. Energi hp itu kupencet. Gelap.
Waktu yang kulalui malam ini terasa seperti langkah siput gayah. Malam ini aku dibebani satu ton kapas basah. Oh, sangat sulit aku membawa beban-beban berupa pesan-pesan itu. Otakku panas. Tengkukku tegang. Sarafku kaku. Dahiku bagai menyimpan segudang masalah. Sungguh, aku merasakan sangat berat.
Tanganku masih saja menggerayangi kanvas. Kini, kanvas itu sudah dipenuhi warna. Dari awal, otakku memerintahkan tangan agar melukis wajah Abah. Kubayangkan hidungnya, kepala, telinga, dan sekujur badannya. Sudah satu jam, tetapi belum menggambarkan manusia. Yang tampak, cuma cahaya. Padahal, diotakku sudah tergambar wajah abah. Aku pun tak tahu apa makna semuanya ini. Otak dan tanganku sudah tak sejalan lagi. Selera mereka sudah berlainan.
"Sialan! Pertanda apa ini. Kenapa tanganku tak bisa lagi melukiskan seperti apa yang ada di dalam otakku. Apakah kemampuanku sebagai pelukis akan berakhir di tengah malam ini. Oh Tuhan, tidak. Melukis merupakan kecerdasanku. Melukis adalah pekerjaanku. Jika kauambil, aku benar-benar bisa melayang bagai layang-layang tanpa tali,’’ tanganku masih terus saja mencakar kanvas itu dengan berbagai cat.
Aku terlupa wajah Abah? Oh, tidak, aku bukan lupa. Aku hanya tak mau membayangkannya. Kalaupun membayangkannya seperti sekarang, aku tak mau mengingatnya sekuat tenaga. Aku hanya bangga dengan Emak. Dia yang membesarkan diriku hingga menjadi pelukis hebat. Dari hasil melukis, kubangun semua kemewahan. Semuanya untuk Emak.
"Tak perlu kau munafik, Anakku. Lihatlah, apakah Emakmu bahagia dengan semua ini? Jawablah dengan hatimu yang terdalam,’’ SMS dari Abah masuk lagi.
Dengan hati muak, kutekan tombol power. Klik, hp pun mati. Tanganku juga berhenti mengganyang kanvas. Belum tampak juga wujud wajah Abah di situ.
Malam yang kulalui kian buta. Gelap. Cuma ada titik putih di tengahnya.
Waktu-waktu hidupku mulai terganggu. Pesan-pesan dari Abah benar-benar mempermainkan batinku. Celakanya, aku bukan hanya merasa terusik, tetapi sangat tertekan. Imajinasiku semakin tak menentu. Karena rasa depresi ini, aku bertindak berlebihan menurut pikiran normal. Kartu hp kucampak ke longkang setelah membeli yang baru. Aku berharap Abah tak lagi mengganggu ketenangan.
Sudah berhari-hari, hp tak kuhidupkan.
Tetapi, semenit setelah aku membuka hp dengan kartu baru, sms dari Abah masuk bertubi-tubi.
"Kau tak perlu takut, Anakku. Kau tak perlu menukar nomor hp-mu.’’
"Hidup ini senda gurau, bermain, dan mengikuti sayembara.’’
"Hidup ini tak ubahnya karya-karya yang telah kaubuat itu. Penuh warna, penuh bentuk, penuh peristiwa, penuh ketegangan, juga perseteruan. Bahkan, sarat dengan tawa miang.’’
"Tak perlu kau bangga dengan kemewahan dan keberhasilan dunia saat ini kalau kelak kau akan terpanggang hidup-hidup.’’
Mataku berkunang-kunang membaca sms itu. Aku bagaikan melihat darah berserakan dari luka yang menganga. Badanku hoyong karena pitam mendera. Aku lemah darah. Cepat-cepat aku duduk di kursi malas. Kepalaku tertunduk. Mata terpejam. Kedua telapak tangan menutup kedua mataku. Untung aku cepat berbuat begitu. Kalau tidak, mungkin aku bisa pingsan.
"Abah, tak bisakah Abah kirimkan aku sms yang penuh sokongan?’’ aku memekik sekuat tenaga.
Suara Hp-ku tak lagi berdering.
Malam terus merangkak. Tak terasa semakin cepat.
***
Sudah hampir empat tahun aku pindah rumah. Menurut orang pandai, rumah yang dulu kutempati, banyak melanggar pantang larang. Karena itu, bermacam gangguan bisa terjadi, termasuk sms sesat dari Abah. Untung saja gangguannya masih bersifat sms-an.
Sebab kata mereka, gangguan itu bisa lebih menyiksa daripada itu. Mungkin bisa mengakibatkan kematian. Terlepas dari semua itu, aku bersyukur karena Hp-ku terbebas dari sms Abah.
Aku masih ingat. Sejak aku memekik malam itu, sms Abah tak pernah tersesat lagi di Hp-ku.
Mataku lekat pada kanvas penuh warna yang sudah hampir empat tahun itu.
"Abah mengapa begitu?’’ anakku heran melihat gelagatku memandang lukisan yang tak berbentuk itu.
"Abang terkenang sesuatu?’’ sambung isteriku. Dia membawa segelas susu buatku.
"Abang teringat Abah. Lukisan tak berbentuk ini lahir karena sms Abah.’’
Isteriku diam. Aku tahu dari keningnya bahwa dia bingung. Isteriku tak memperpanjang rasa ingin tahunya. Aku pun tak mau memusingkan kepalanya dengan berbagai persoalan yang jauh dari logika. Bukan aku tak mau terbuka dengannya. Aku cuma tak mau melibatkan dia ikut didera oleh keganjilan yang pernah menyerang batinku. Aku juga tak mau anak dan isteriku merasa tidak nyaman hidup denganku. Mereka harus bahagia dalam situasi bagaimanapun.
Harus kuakui, kini aku semakin merindui Abah. Aku pun semakin merindui sms darinya. Dua tahun terakhir, aku mengakui kebenaran sms Abah. Aku merasakan kebermaknaan hidup baru dalam dua tahun ini. Rasanya, usiaku baru dua tahun yang berarti. Pesan-pesan dari Abah kurasakan bagai wasiat mulia yang semula aku tolak karena kebodohan. Sekarang, aku ibarat musafir yang kehausan menunggu aliran air di tengah kekeringan panjang.
"Abah, kau adalah cahaya,’’ aku memekik.
Isteriku terkejut. Dia menggoyang-goyangkan badanku.
"Abang bermimpi?’’ isteriku bertanya lembut.
Aku tak menjawab. Aku berdiri menuju lukisan yang tak berbentuk itu.
"Abang tidak apa-apa?’’
Aku hanya menggeleng ringan.
"Betul Abang tidak apa-apa?’’
Aku hanya mengangguk pasti.
"Abang hanya merasakan sesuatu. Sesuatu yang tak begitu pasti dengan lukisan itu.’’ Tangan isteriku mengait lenganku. Takut agaknya.
Lukisan itu ada di depanku. Atau, aku sudah berada di depan lukisan itu. Isteriku juga ikut. Kuajak isteriku menatapnya dengan matan.
"Tak ada apa-apalah, Bang. Kita tidur saja, yok,’’ kata isteriku setelah sekitar setengah jam kami duduk menatap lukisan tak berbentuk itu. Aku rasa ada sedikit kecut menyerang ibu anakku itu.
"Tunggu sebentar lagi. Abang merasakannya. Lukisan ini ingin berbicara sesuatu.’’
Mataku melototi kanvas penuh warna itu. Satu per satu kata tertoreh di situ.
"Anakku, kini Abah bahagia melihatmu. Kebahagiaanmu adalah kebahagiaan Abah, juga kebahagiaan Emakmu. Pertahankan kehidupanmu kini. Jagalah keluargamu, isteri, dan anakmu dari kobaran api. Didiklah anakmu supaya selalu dekat dengan Allah.
Engkau telah jauh berubah. Perubahan yang kaulakukan telah meringankan beban Abah. Kini, Abah semakin nyaman di alam kubur.’’
Isteriku terkejut. Dia nyaris pingsan melihat pesan Abah yang memenuhi lukisan tak berbentuk itu. Dalam mimpiku tadi malam, aku melihat Abah bagai indap-indap yang melintasi neraka menuju surga.***(ak27)
Musa Ismail
sastrawan Riau ini adalah guru SMAN 3 Bengkalis.


CERPEN | Ellyzan Katan

[ArtikelKeren] CERPEN - Sekarang hujan baru saja selesai. Di luar sana, jembatan kayu rumah kami terlihat masih basah. Selain ada beberapa serakan pasir yang tidak terlalu tinggi, ada juga genangan air pada sekeping papan yang permukaannya melengkung. Udara menjadi dingin. Sepertinya kampung tempat tinggal kami tidak berpenghuni, senyap. Dan juga gelap.
Beberapa kali terdengar hempasan gelombang di bawah rumah. Maklum, perumahan yang berdiri di atas permukaan laut dengan menggunakan tiang beton sebagai pondasi, membuat kami sudah tidak asing lagi mendengar bunyi hempasan gelombang. Ini bukan saja disebabkan oleh air pasang naik, akan tetapi juga saat lewatnya pompong masyarakat untuk mencari ikan ke laut, bunyi desau gelombang biasa melintas di bawah rumah. Sayangnya, ketika desau gelombang yang kerap datang itu memulai pertunjukannya, sudah dapat dipastikan bahwa banyak ikan akan bertabur entah ke mana. Ikan-ikan itu takut. Baru setelah gelombangnya mereda, ikan-ikan kecil di bawah rumah akan terlihat kembali bermain.
Biasanya di belakang rumah kami akan terlihat banyak ikan saat air mulai naik pasang. Ini karena di belakang rumah kami tempat membuang sisa-sisa sampah dapur. Ada remah-remah nasi, tulang-tulang ikan sisa makan malam keluarga, juga beberapa perut ikan yang sengaja di buang karena tidak bisa diolah menjadi makanan. Semua itu bagus untuk memancing agar ikan-ikan terus berdatangan. Ya, saya akan memancing ikan. Sendiri, tanpa ditemani oleh siapa pun.
"Kalau pun mau memancing, jangan sekarang. Air sedang keruh.’’ Ini suara Samsul mengingatkan. Kawan saya itu memang ahli dalam hal memancing, terutama sekali di laut. Tak kira di belakang rumah atau pun di laut lepas, Samsul adalah ahlinya. Padahal saya sudah siap untuk memancing.
Ada beberapa potongan cumi-cumi kecil yang sudah menumpuk di dalam mangkok. Cumi-cumi itu sengaja saya potong untuk dijadikan umpan. Dan dua gulungan tali pancing yang sudah terikat rapi, kuat, berat, tersedai di dalam tas. Semuanya sudah siap.
"Malam ini kau tidak akan mendapatkan ikan. Percayalah.’’ Samsul kembali bertemberang.
Sebelumya dia memang telah memperhatikan air di belakang rumah. Sementara saya waktu itu, masih duduk mengaji di bangsal depan. Tidak sedikit pun di pikiran saya akan terlintas seperti yang Samsul ucapkan. Dapat atau tidaknya ikan, semuanya tergantung pada rezeki yang diberikan oleh yang Maha Pemberi rezeki. Bukan Samsul.
Ya, lihatlah. Perkampungan kami adalah perkampungan di atas air. Setiap rumah yang ada telah berdiri kokoh sejak lama di atas air dengan beragam sisik ikan selalu menempel di lantai dapur rumah. Sisik itu bukan saja sebagai penanda bahwa kami adalah pemakan ikan, namun juga sebagai penangkap ikan ulung yang pernah dikenal manusia. Buktinya, sambil duduk di teras rumah yang menghadap ke laut, banyak saudara-saudara kami yang berhasil mendapatkan dua tiga ekor ikan hanya dalam beberapa jam. Tidak menunggu terlalu lama.
Tidak seperti sekarang, Samsul justru berkata lain. Saya tidak akan mendapatkan ikan. Apa pasal?
"Kau lupa? Aku ini orang laut. Aku lebih tahu muka laut dibanding kau yang hanya duduk di rumah sambil tak sudah-sudah menulis di depan laptop. Apa kau sadar itu?’’
Saya diam. Lalu Samsul terus melanjutkan ocehannya. "Untuk memancing diperlukan pelangkah, petuah. Bukan hanya keinginan untuk memancing.’’
"Pelangkah? Petuah apa?’’
Samsul melirik jam di dinding. Sepertinya dia mau menunjukkan sesuatu, hanya saja masih menunggu tepat atau tidaknya waktu untuk memulai pembicaraan. Saya menunggu. Dan sejauh ini, sekedar diketahui, setelah hujan reda, jembatan papan di depan rumah masih basah, cuaca agak dingin bila hendak berlama-lama memancing ikan. Juga berangin.
"Arus tidak sesuai untuk memancing. Biasanya kalau arus seperti ini, ikan akan malas untuk berkeliaran. Dia lebih memilih berdiam diri di terumbu karang.’’
"Mana ada terumbu karang di belakang rumah.’’ Saya membuncah.
Barangkali Samsul lupa. Rumah kami tidaklah seperti yang diceritakannya itu. Rumah kami berada sekitar 70 meter dari bibir pantai. Airnya agak dalam memang, bisa mencapai sebatas dada orang dewasa bila sedang pasang. Di dasarnya bersih, tidak ada karang. Yang ada hanya bekas-bekas tulang ikan, kulit kerang. Itu pun bekas makan keluarga yang memang sengaja dibuang ke laut. Tujuannya supaya ikan senang berkumpul di belakang rumah karena mendapatkan banyak makanan.
Ternyata Samsul malah berang. Dia bertanya soal asal usul segala kepada saya. Padahal sebelumnya kami hanya berbual biasa saja. Tidak ada sangkut paut dengan asal usul.
"Memangnya kau ini tak tahu ya? Memangnya kau ni orang Melayu atau bukan?’’ Matanya memerah. Dia menghembuskan nafas panjang. Lalu sambil berdiri di tepi tingkap, tangan melingkar ke belakang, Samsul bersuara. "Orang Melayu itu banyak petuahnya. Untuk memancing, meminang, makan minum, sampai membuka ladang untuk berkebun, ada petuahnya. Kau tahu? Tidak bisa sembarang.’’
Duh, mengapa urusannya bisa sejauh ini? Padahal saya hanya mau memancing di belakang rumah. Tidak ada lain. Lagi pula di belakang rumah, dengan kondisi air pasang seperti sekarang, air pasang penuh, saya bersemangat untuk memancing. Bukan harus memikirkan ini itu. Apalagi harus berpetuah segala. Saya hanya tinggal membuka pintu belakang dan melemparkan tali pancing ke air. Selanjutnya menunggu ikan memakannya.
"Aku katakan ada petuah karena Atok kita dulu telah berpesan.’’
Pesan? Apa yang orang tua itu pesankan dengan seorang lelaki pemalas bangun pagi seperti Samsul? Apa tak salah berpesan sesuatu ke orang yang untuk bangun sholat subuh saja terlalu berat itu? Tak salah?
"Memancing itu harus melihat hari. Perhatikan dengan baik arah angin. Soal angin bertiup dari mana, itu menjadi soal. Tapi yang perlu diperhatikan apakah hembusan angin itu mempengaruhi gelombang? Bila mempengaruhi gelombang, permukaan air beriak-riak kecil kemudian membesar, itu tandanya kurang bagus untuk memancing.’’
Sudah sejak pagi cuaca di kampung kami memang tidak terlalu bersahabat. Terlalu cengeng. Sedikit-sedikit menangis.
Sedikit-sedikit menumpahkan air. Seluruh penghuni kampung lebih memilih berdiam diri dalam rumah masing-masing. Mereka enggan untuk ke luar rumah. Demikian juga saya, sama. Dengan cuaca yang terus hujan, kadang-kadang angin berhembus kencang, menjadikan pilihan di dalam rumah lebih seronok jika dibandingkan berada di luar.
"Nah, kau lihatlah air laut itu? Tak tenang.’’ Sergah Samsul.
"Bagaimana mau tenang, angin kencang.’’
"Ha, tahu pun.’’
"Jadi mengapa?’’
"Jangan memancing malam ini. Percuma.’’
Jangan memancing? Apa lelaki yang tak tahu sejuk itu tak tahu? Umpan sudah siap. Tali pancing sudah siap. Bahkan untuk urusan makanan kecil pun, sudah disiapkan. Bagaimana pula hendak membatalkan rencana besar ini? Akh, Samsul nak mencari pasal nampaknya.
Saya coba untuk mengalihkan pembicaraan. Ya, bagaimana kalau diajak bual soal perempuan? Barangkali Samsul akan tertarik. Tapi ketika saya sedang sibuk mengemas peralatan memancing sambil bertanya ini itu, Samsul justru kian jauh bercerita.
"Dulu, ketika Atok memancing ikan di depan sana, di karang tengah, dia tidak banyak membawa umpan. Hanya ada dua ekor cumi-cumi. Lalu ketika dia menjatuhkan satu cumi-cumi ke laut, kau tahu apa yang terjadi?’’
Saya memang tidak tahu apa yang terjadi. Saya berterus terang pada Samsul.
"Dia mendapatkan ikan besar yang di dalam perutnya penuh sesak dengan cumi-cumi. Cumi-cumi itu masih segar, seperti baru saja dimakan. Masih utuh.’’
Wou, saya membayangkan mata pancing yang saya pegang akan mendapatkan sama seperti Atok kami dulu memancing. Saya tidak perlu menuggu lama. Cukup menjatuhkan mata pancing yang diberi umpan cumi-cumi ke laut, akan ada ikan menyambarnya. Dan di dalam perut ikan itu, kalau boleh meminta, jangan cumi-cumi tapi telor ikan. Banyak.
"Caranya?’’ Menyesal saya bertanya seperti ini.
"Memang budak Melayu satu ni tak dapat diharap. Masih belum tahu cara mendapatkan ikan seperti itu? Dasar!!!’’
Samsul beralih dari jendela ke meja makan. Kali ini dia membuka tudung saji. Samsul meraih seekor ikan goreng. "Ni, kau lihat ini? Ini adalah ikan. Di dalam mulut ada selera. Setiap yang memiliki selera, pasti akan menginginkan pilihan. Memilih, kawan!!! Memilih!!!’’
Saya tak meresponnya. Saya terlanjur tersinggung. Memangnya saya bukan budak Melayu apa? Saya adalah budak Melayu yang sudah lama mencecap kehidupan ini. Diawali dengan sekolah di kampung halaman, melanjutkan ke perguruan tinggi di Pekanbaru sana, sampai sudah bekerja segala sekarang. Saya kira di dalam darah ini tak dapat dibuang uap Melayunya. Tapi Samsul meragukannya. Huh...
"Ikan akan lebih memilih berada di dalam sarangnya, di dalam lubang karang dari pada harus bersusah-susah melawan arus yang kuat hanya untuk mencecap umpan di ujung kail. Ya, kalau dapat. Bagaimana kalau tidak? Hanya menelan air? Belum lagi resiko tertancap dengan ujung kail di sudut bibir, itu juga merupakan suatu pilihan. Kau harus tahu itu.’’
"Ya, masalahnya aku bukan hendak memancing ke laut lepas sana, seperti yang kerap kau lakukan. Aku hanya ingin memancing di belakang rumah untuk melengkapi waktu. Jangan sampai waktu terbuang percuma, lebih baik memancing. Kalau dapat, kan lumayan.’’ Saya harus optimis. Harus.
"Ha, masih juga belum mengerti.’’ Ih, suara Samsul meninggi. "Sekarang ini bukan lagi persoalan dapat atau tidak dapat ikan. Bukan itu.’’
Saya sempat menjeling ke luar, ke belakang rumah yang membentang luas air laut. Air semakin meninggi. Buktinya, lantai terbawah tempat penampungan tong air rumah kami yang berada di bawah rumah, sudah hampir basah oleh air laut. Beberapa sampah pun terlihat hanyut ke darat. Hmm, ini pertanda air masih akan terus pasang.
Beberapa gelombang kecil silih berganti menghempas di antara tiang rumah. Dan angin, seperti yang dicakapkan oleh Samsul memang membuat permukaan laut beriak. Putih ombaknya menjadikan air sedikit keruh dari biasanya. Arus, memang seperti yang dicuap-cuapkan Samsul. ‘’Lelaki yang bersabuk kain itu memang tidak salah. Paling tidak dari tanda-tanda, mirip.’’ Saya bercakap di dalam hati. Tak berani kuat-kuat.
"Bayangkan,’’ kata Samsul lagi, "Dengan diam di dalam lubang atau di tepi karang yang teduh, tidak berarus, ikan lebih nyaman dari pada harus bersusah-susah. Tak perlu takut.’’
Kadang-kadang, saya terpikirkan hal yang sama dengan Samsul. Selain itu, setelah saya lihat ke bawah rumah dengan diterangi oleh lampu senter, memang tidak terlihat ikan. Airnya dalam, dan di permukaan ada riak-riak kecil. Sesekali dihiasi pula dengan gelombang menghentam tiang rumah. Hmm, bila begini, bukan hanya ikan yang malas ke luar, sepertinya saya pun malas.
Saya membayangkan bagaimana kalau cuaca seperti ini saya pergi melaut, seperti keturunan kami terdahulu. Wow, pasti menegangkan. Hentaman gelombang tinggi di haluan pompong menjadikan setiap manusia di atasnya seperti berada dalam mesin cuci. Sekali di goyang ke kiri, dan sekali waktu digoyang ke kanan.
Tapi saya sudah mempersiapkan semuanya. Saya tidak mungkin segampang itu terpengaruh bualan Samsul. Dia sengaja bercuap-cuap seperti penjual sayur yang setiap pagi melintas di jembatan rumah kami. Dia juga sengaja berusaha menggoyahkan keinginan saya agar tidak jadi memancing. Dia kira saya adalah anak kecil yang masih bisa dipengaruhi. Tidak. Pendirian saya sudah bulat. Malam ini, dengan cuaca seperti apa pun, saya akan tetap memancing ikan, walau hanya di belakang rumah.
Lagi pula, apa yang salah dengan memancing ikan di belakang rumah? Tidak ada yang salah. Bahkan beberapa malam sebelumnya, saya berhasil mendapatkan dua ekor ikan kirong. Dan menjelang subuh, dapat lagi seekor ikan ketambak. Semuanya menjadi tiga ekor. Kan lumayan untuk menambah lauk. Kami tidak perlu membeli ikan di pasar. Cukup menggorengnya sambil dilawan dengan sambal belacan. Akan bertambah-tambahlah saya makan. Rasanya masih gurih. Inikan lagi hanya dipengaruhi oleh bualan Samsul yang tak berdasar itu. Tak mungkin saya akan berhenti.
Saya membuka pintu selebar-lebarnya. Dan saya mulai mengeluarkan alat pancingan, umpan, segelas teh panas, dan roti. Di dalam hati saya berkata, "Kita lihat saja siapa yang benar. Kau atau aku...’’
Saya memposisikan diri pada tempat yang agak terlindung dari angin malam. Maklum, anginnya sangat dingin. Belum lagi rintik-rintik hujan masih terasa membasahi atap daun rumah kami. Dan di remang-remang lampu rumah tetangga yang berjarak lumayan jauh itu, dapat saya perhatikan bahwa gelombang laut memang kuat. Tidak ada kesan akan menjadi tenang.
"Ha, kau masih akan memancing?’’
Duh, mengapa suara Samsul terus membising?
Dengan menjawab pertanyaan Samsul melalui lemparan pertama tali pancing ke air, saya seolah ingin menunjukkan kepada lelaki bebal satu itu, bahwa rezeki bukan ditentukan oleh petuah akan tetapi Allah-lah yang menentukannya. Bila Dia berkehendak saya mendapatkan ikan, dua ekor atau pun tujuh ekor, saya pasti akan mendapatkannya. Namun bila Dia berkehendak lain, lain pulalah yang akan terjadi.
"Baiklah, kalau kau masih tetap berkeras. Aku mau makan. Setelah itu, mau...’’
"Mau ke rumah Azizah?’’ Saya langsung memotong. Sementara tangan diusahakan tidak bergerak karena dalam posisi memagang tali pancing. Jangan sampai ada gigitan sakti dari ikan, saya justru melepaskannya begitu saja. Biar Samsul yang melepas pergi. Jangan ikan. Tak ada gunanya dia di rumah. Hanya mengacau saya saja. Biar dia pergi.
Tapi sebelum dia berlalu, masih saja mulutnya sempat berkata begini, "‘’Berteriaklah bila mendapatkan ikan. Aku ingin tahu kalau kau mendapatkan ikan.’’
Bagi saya, ini merupakan suatu tantangan. Dia mencabar saya.
"Kita lihat saja nanti.’’ Saya berkuat di dalam hati. Saya harus dapat.
Tali kembali saya periksa. Ah, umpannya habis. Ini pasti pertanda bagus. Kalau umpan habis, berarti dimakan ikan. Saya harus kembali mengaitkan umpan baru agar bisa dimakan lagi. Bila perlu umpan akan saya kaitkan dua iris. Baru selanjutnya menunggu. Menunggu dan menunggu.
Sementara malam terus beranjak tinggi. Beberapa rumah bahkan telah mematikan lampu. Mereka sudah beranjak tidur. Hanya tinggal satu dua rumah lagi yang masih menyalakan lampu. Itu pun rumah Wak Mawai, lelaki tua yang sehari-hari bekerja sebagai pembuat jaring. Dia biasa bekerja hingga tengah malam untuk menyelesaikan jaring pesanan pembeli.
Dan saya masih menunggu tali pancingan di makan ikan. Sampai kapan? Entahlah.***(ak27)
Terempa, 6 Desember 2013
Ellyzan Katan
Kelahiran 16 Juni 1984 adalah alumni Universitas Islam Riau. Penulis novel Mimpi-mimpi May dan kumpulan cerpen Getah Damar. Sekarang menetap dan bekerja di Terempa, Kepulauan Anambas, Kepri. Dapat dihubungi di email; tanjakqu@gmail.com.
CERPEN | Alex R Nainggolan

1
[ArtikelKeren] CERPEN - Perempuan itu berjalan sendirian. Langkah kakinya tergesa. Melewati lorong yang gelap. Ia bersenandung, begitu lirihbarangkali ingin mengusir segala ketakutan yang hinggap di tubuhnya. Hari sudah teramat malam. Ia ingat cerita perkosaan itu. Ia pernah membacanya, di sebuah surat kabar. Seorang perempuan muda, digagahi oleh beberapa lelaki muda. Para lelaki yang sarat dengan birahi.
Hari teramat malam. Sudah dini hari. Mulai terasa hembusan angin yang membawa embun. Ia bergegas. Langkahnya cepat. Sungguh, ia adalah perempuan yang cantik. Dengan payudara yang masih muda dan ranum. Ia bergegas. Setidaknya ia mesti melewati lorong itu. Lorong yang gelap memanjang. Ah, mengapa ia tak sampai ke tubir?
Jejaknya memburu. Lorong masih gelap. Semestinya ada cahaya di depan sana. Tapi ia merasa beberapa tangan mendekapnya. Tubuhnya limbung. Ia tak sempat mengingat banyak. Hanya remang terdengar suara lelaki muda dengan tawa yang dipenuhi aroma alkohol. Ia tak sempat lagi berteriak.
2
Ada suara gemerisik. Larut malam. Ia turun mengendap. Tiga orang lelaki membongkar paksa lemari besi. Suara makin gaduh. Jauh larut malam. Ia masih mengendap. Mungkin sebaiknya ia menelepon polisi. Tapi ponselnya tertinggal di kamar. Ia mengendap. Suara gemerisik.
‘’Ada orang. Cepat kejar dia!’’ langkahnya terdengar oleh seseorang. Ia menoleh. Ingin berteriak. Lalu sebilah parang menembus badannya. Ia ingin menjerit. Tapi tubuhnya lemah. Malam terasa makin larut.
3
Belum jam dua puluh empat. Tapi suara teriakan memberat. Begitu dekat di gendang telinga. Segalanya telah pecah belah. Piring, gelas, foto, toples, dan mungkin kenangan. Malam terasa gulita.
‘’Kau pikir, aku tak membaca semua BBM-mu! Kau main belakang. Kau pengkhianat cinta. Betapa aku percaya penuh denganmu. Namun ternyata di otakmu hanya selingkuh,’’ perempuan itu menangis. Di sudut dinding ruang tamu. Malam begitu berat. Terasa gelap makin remang di tubuhnya. Ia merasa rambutnya ditarik. Ia merasa pipinya ditampar. Ia menjilat darah dari sela bibirnya. Ia menangis lagi.
‘’Dasar perempuan murahan. Kegatelan. Jadi itu kegiatanmu di luar. Wanita karier apaan kayak begitu.’’ Plak. Suara tamparan lagi. Kursi terbanting. Jeritan yang menembus kelam langit malam. Ia tak bisa menghitungnya. Entah yang keberapa. Entah keberapa kali pula -kejadian seperti ini- terus terjadi. Di usia pernikahannya yang merangkak ke angka lima tahun. Buk! Tendangan kaki terasa di perutnya. Ia limbung. Hanya ada sayup suara yang tak jelas.
Ia merasa malam betul-betul berat. Yang sempat diingat hanya suara sirene mobil ambulan. Juga suara bisikan pelan di telinganya, ‘’Maafkan aku. Jangan bilang siapa-siapa tentang hal ini.’’ Ia mencoba tersenyum. Wajahnya terasa lebam. Namun ia merasa masih ada cinta di tubuh lelakinya.
4
Malam rebah di kota. Di sebuah pom bensin. Ia baru saja berhenti. Baru menyandarkan sepeda motornya. Tapi seketika kepalanya ada yang menggebuk. Sebuah balok kayu. Lelaki muda itu terjatuh. Kerumunan orang mengeroyok tubuhnya. Pukulan bertubi-tubi singgah. Ia tak melihat dengan jelas wajah pelakunya.
Yang diingatnya orang-orang itu mengenakan helmet. Tubuh mereka kekar. Ia disret. Digebuki. Tak bisa menjerit. Ia muntah darah. Darahnya tercecer di aspal. Banyak orang melihatnya. Tapi tak berani mendekat. Satupun. Ia ingin menjerit, mungkin menangis. Tapi tak pernah bisa. Terasa malam mengemas tubuhnya hingga meleleh. Malam yang bangkrut di kota. Hanya tubuhnya teronggok di seperempat bahu jalan. Di sebuah pom bensin. Ia merasa sudah mati.
5
Napasnya terasa begitu sengau. Pandangannya mendadak payau. Ia merasa sudah sampai di ujung kepala. Larinya sudah panjang. Malam yang ramai. Rangkaian karnaval. Kota yang berwarni. Keramaian yang riuh, menjelma teluh. Orang-orang memadat. Tenggelam dan merapat di kerlip lelampuan. Takjub pada binar cahaya.
Ia teringat anaknya yang demam. Uangnya habis. Anaknya sudah mengigau. Batinnya berbisik, ‘’Aku akan segera mendapatkan uang buat beli obatmu, anakku. Bertahanlah.’’
‘’Copet! Copet!’’ Kerumunan yang berkalung. Malam yang berbinar. Matanya yang kalap. Ia mesti mendapatkan uang buat beli obat.
Kerumunan tubuh. ‘’Copet! Copet!’’ digenggamnya sebuah dompet. Sebuah lengan menunjuk wajahnya. Ia bergeas. Lari sekuat tenaga. Tapi napasnya mendadak habis. Malam masih berkerumun. Tubuhnya terjerembab. Suara pukulan bertalu-talu. Malam yan g gaduh. Malam yang berkerumun. Ia, mungkin akan mati. Namun masih diucapkannya lamat-lamat, ‘’Ini obat buatmu, anakku. Kuburkanlah sakitmu.’’
6
Di sebuah hotel yang mewah. Malam yang muram. Suara pintu dibuka paksa. Tanpa ada ketukan.
‘’Dari mana ini? Apa hak anda? Kok bisa seenaknya masuk? Mana surat perintahnya. Apa...’’ ia bertanya lantang.
‘’KPK!’’ mendadak ia lunglai. Padahal ia baru saja mau menyerahkan kantong kresek hitam ke seseorang. Tubuhnya digeledah. Ada perempuan cantik di sana. Ia belum sempat mengenakan pakaian. Tubuhnya setengah telanjang. Perempuan cantik itu, juga setengah telanjang.
‘’Silahkan saudara ikut,’’ suara seorang lelaki. Lalu sebuah mobil. Puluhan blitz lampu memotret. Ia menunduk. Menutup wajahnya. Mendadak ia lupa cara untuk tersenyum. Tubuhnya terasa kecut. Tak ada ponsel. Tak ada yang bisa dihubungi.
Ia melihat langit malam dari jendela mobil. Begitu muram. Ia menerawang, berusaha mengingat. Tentang perusahaannya yang baru berjalan. Tentang depositonya di berbagai bank. Tentang emas batangan seberat 100 kilogram di lemari besi rumahnya. Tentang rumah kesepuluhnya yang baru direnovasi. Tentang perempuan yang belum sempat bercinta dengannya.
Di luar memang langit benar-benar muram.
7
Jalanan lengang. Malam yang menggelepar. Perempuan itu menekan pedal gas mobilnya sampai mentok. Tak lagi menyisa. Di kepalanya terasa penuh bintang. Jalanan begitu sepi. Ia merasa jadi pembalap formula satu. Masih digigitnya gigi. Masih ditekannya pedal gas. Di sebuah tikungan, mendadak matanya penuh kabut. Di kepalanya masih ada kerumunan bintang.
Ia mencoba mengingat sudah berapa gelas alkohol yang ditenggaknya. Tapi ingatannya kembali buram. Terakhir yang diingatnya cuma satu butir pil happy. Dan ia merasa melayang. Masuk ke mobil, langsung tancap gas. Masih sempat ditenggaknya setengah botol yang menyisa di dalam mobil.
‘’Ayo kita segera berangkat. Cepat.’’ Temannya mengucap setengah tertawa.
Jalanan lengang. Malam tergeletak sendirian. Begitu sunyi. Sepi menari di jalanan, Ia mencoba menggapai bintang yang berlarian di atas kepalanya. Di sebuah kelokan, kerumunan orang. Begitu banyak. Remaja tanggung. Seorang bapak yang menggendong bayi. Ia terus menekan pedal gas mobilnya. Ia merasa telah menginjak rem. Begitu banyak bintang di kepalanya. Ia tertawa keras. Mobilnya menghantam benda keras. Semuanya terguling. Malam yang lengang. Malam menggelepar dan mendadak pecah di jalanan...***(ak27)
Poris Plawad, Edelweis X/16, 2013
Alex R Nainggolan
Dilahirkan di Jakarta, 16 Januari 1982. Menyelesaikan studi di FE Unila jurusan Manajemen. Tulisan berupa cerpen, puisi, esai, tinjauan buku sempat nyasar di Majalah Sastra Horison, Jurnal Puisi, Kompas, Republika, Jurnal Nasional, Suara Pembaruan, Jawa Pos, Seputar Indonesia, Berita Harian Minggu (Singapura), Indopos, Bali Post, Padang Ekspres, Jurnal Sajak, Sabili, Annida, Matabaca, Surabaya News, Radar Surabaya, Lampung Post, Sriwijaya Post, Riau Pos, Suara Karya, Bangka Pos, Radar Surabaya, NOVA, On/Off, Majalah e Squire, Majalah Femina, www.sastradigital.com, www.angsoduo.net, Majalah Sagang Riau, dan lain-lain.


CERPEN | Dantje S Moeis

[ArtikelKeren] SPESIAL - Sekonyong-konyong bedegup jantung mak Milah saat berkemas, beberes-beres merapikan kamarnya, kamar dia dan pak Balaguk suaminya.
Selang beberapa tahun terakhir, hanya mereka berdualah yang masuk ke kamar ini.
Jadi, otomatis sejak pernikahan Yalip anak bungsu mereka, tak satu orang lainpun boleh masuk ke sini, tidak juga Sumiatinah atau biasa dipanggil dengan bik Tinah pembantu mereka.
Memang, ada juga untungnya. Kalau tidak, hampir tiap petang mak Milah terpaksa bebenah, membereskan ruang ini, ruang berukuran empat kali lima meter. Karena setiap siang hingga menjelang petang hari, anak-anak mereka menagih tidur dan melasak di sini. Masalah ini terjadi bukan hanya di masa anak-anak itu kecil. Bahkan menjadi tabiat rutin hingga mereka dewasa.
"Tak mungkin orang lain, pastilah dia.’’ Mak Milah berkata dalam hati, memperkuat sak wasangkanya.
Namun untuk bereaksi terlalu keras memastikan apa tujuan dia melakukan ini, ada sesuatu yang mengganjal di hati mak Milah.
"Dan... salah-salah hemat, pertanyaan senada dapat dia balikkan padaku,’’ pikir hati mak Milah, semakin memperkeras degup jantung dan kegugupannya.
"Sebetulnya aku tak perlu menandai dengan menconteng iklan itu di baris yang menarik minat, karena alamat pemasang iklan dan jenis benda yang aku minati, sudah kusalin di kertas lain.’’ Mengoceh sendiri, mak Milah makin merasa jadi orang yang paling tolol.
Sekarang, apa mau dikata, kolom iklan tersebut sudah tidak ada lagi pada halaman koran yang kini membuat ia gugup, merasa salah sekaligus galau dan panas hati. Kolom iklan pada halaman koran itu sudah tergunting rapi, bolong tembuk melompong.
"Cuma, apa pula gunanya si tua itu menggunting atau mengklipping iklan tersebut?’’
Berbagai pertanyaan, jawaban semu dan kemungkinan-kemungkinan yang muncul akibat kesimpulan, serta langkah yang akan diambil, semakin membuat mengkecamuknya kepala hotak mak Milah.
Sebetulnya mak Milah sadar, sesadar-sadarnya, apalagi berdasarkan advis dokter Machfuds, tempat ia berobat sekaligus tempat bertanya perihal penyakit yang akhir-akhir ini selalu menderanya. Bahwa orang-orang yang sudah mencapai usia above sixty seperti dirinya, kalau dapat tak usahlah berfikir terlalu keras. Ambisi atau keinginan yang kira-kira hampir tak tepikul tak tebadan lagi untuk mencapainya, hendaklah mulai dibuang jauh-jauh.
Tapi, entah setan apa yang berada di balik iklan celaka itu, ia menjadi begitu tertarik dan mungkin suaminya, pak Balaguk tertarik juga untuk memiliki produk yang diiklankan, walau ia tahu mungkin tak sama atau persis dengan benda yang diimpikan mak Milah. Atau? Ada perihal lain yang menyebabkan pak Balaguk menggunting dan menyimpan iklan tersebut. Perihal lain inilah yang sebenarnya membuat gugup dan degup jantung mak Milah semakin menjadi-jadi.
Sapu dan kemoceng bulu ayam, tak lagi dihiraukan mak Milah. Walau kain lap masih tersadai di bahunya, namun nasibnya sama dengan sapu dan kemoceng bulu ayam.
Mak Milah tunak melamun. Matanya seakan tak berkedip menatap lubang bolong bekas guntingan iklan. Puncaknya, mak Milah seperti "jatuh bodoh’’. Linglung dan terjelepok tidur tak bermimpi indah, di muka rak buku dekat nakas peletak teve empat belas inci.
Sehari, dua hari dan kini sudah mencapai waktu seminggu, setelah peristiwa bolongnya koran. Namun pertanyaan siapa yang menggunting dan akan diapakan guntingan iklan di koran itu, masih juga belum terjawab oleh mak Milah. Sak wasangkanya tak berubah, masih lebih berat tertuju pada pak Balaguk suaminya.
"Cuma, untuk apa?’’
Kehidupan rumah tangga mereka, mau tak mau memang agak sedikit terganggu, canggung dan terus terang mak Milah agak salah tingkah.
Perubahan itu sampai juga ke atas ranjang, mereka selalu tidur bertolak punggung hingga pagi. Mak Milah lupa, siapa yang terlebih dahulu memulai aksi tidur dengan cara ini dan mak Milah yakin, pasti bolongnya koran bermuatan iklan itulah yang menjadi pangkal bala.
Bukan tak ada upaya. Pernah suatu-kali untuk menjolok, atau memancing, membangkit reaksi dari suaminya agar titik terang dari pertanyaan mengapa iklan itu digunting, atau diklipping dan siapa sebenarnya yang menggunting iklan itu.
Sayup-sayup sampai, mak Milah berupaya dengan berpantun.
Joran kail batang kemunting
Kurap bertengger atas dahi
Apa guna koran digunting
Harap jelaskan pada kami
Pak Balaguk tak bereaksi, diam bungkam seribu bahasa. Berdehem tidak batuk pun tidak. Padahal seumur-umur perkawinan mereka, seingat mak Milah baru kali inilah ia menggunakan tata cara kuno, penyampaian maksud dengan bahasa masa lalu. Sebenarnya ia sangat benci dengan hal-hal yang berbau kecintaan yang keterlaluan, kecintaan membabi-buta pada tradisi. Ketergantungan pada pola dan aturan buatan nenek-moyang.
"Mengikat dan bertele-tele. Kuno dan memperkecil ruang kreativitas, menghambat orang berfikir maju.’’ Begitulah pikirnya selalu.
Pikiran ini sudah lama tertanam di benak mak Milah dan perihal ini sudah diketahui oleh suaminya, anak-anak mereka, begitu juga dengan orang dekat yang kerap berinteraksi dengannya.
"Namun kalau tradisi itu mempunyai celah yang penting bagi kehidupan masa kini apalagi masa depan, why not? Silahkan jalan, dan harus berhenti di museum, seandainya tak relevan dengan kehidupan masa kini dan ke depan.’’
Aneh, tampaknya polah mak Milah yang di luar kebiasaannya, tetap membuat pak Balaguk tak bereaksi.
Sekali lagi mak Milah melanggar doktrin yang ia ciptakan. Ia coba menjolok, lagi-lagi dengan berpantun.
Hilang bulan lubuk cintaku
Mangga mempelam yang aku nanti
Bosan tuan dengan diriku
Akankah mencari dinda pengganti
Hanyut terapung kelapa puan
Lalu diraih anak Belawan
Kalau bosan katakan bosan
Guntingan iklan jadi alasan
Agak lebih menjurus memang, namun akhirnya mak Milah terpaksa menarik nafas panjang, hilang resa hilang asa. Pak Balaguk diam seribu bahasa.
Dua minggu sudah berlalu. Kehidupan rumah tangga mak Milah dengan pak Balaguk semakin hari semakin beku. Keadaan seperti ini tampaknya sudah mulai tercium oleh anak-anak mereka dan makin bertambahlah degup jantung, rasa takut di hati mak Milah. Mak Milah tak ingin peristiwa ini menjadi gosip terselubung. Gosip yang disampaikan dengan cara "pembisik cina’’, makin hari makin bertambah bumbunya, hingga rasa asal permasalahan menjadi hilang tak menentu, kian runyam, kusut dan dapat berakibat fatal.
Tak ingin permasalahan ini menjadi berlarut. Berhadap muka dengan suaminya, mak Milah menguatkan tekad. Tak lagi berpantun-pantun atau berbasa basi. Sambil meremas-remas koran tembuk bolong digunting, mak Milah membuka pembicaraan.
"Saya harap abang dapat berterus terang.’’
Pak Balaguk tak menjawab, tampaknya ia sudah tahu arah pembicaraan akan kemana.
Berharap pada pulihnya keadaan dan kejenuhan pada suasana beku yang tak pernah berlaku di kehidupan rumah tangga mereka selama ini, membuat mak Milah membuang jauh jauh rasa gugup dan menjadi lebih berani untuk meneruskan pembicaraan.
Punah sudah rasa gugup, tak ada degup jantung yang berlebihan. Kian tampak sosok asli mak Milah, perempuan perkasa dengan motto, ‘’rawe-rawe rantas, malang-malang putung.’’ Tak ada kata takut untuk nyerempet-nyerempet bahaya buat satu tujuan, keutuhan rumah tangga yang mereka bina ‘’berpeluh darah dan air-mata.’’ Ia tak hendak menyakiti dirinya dan menyakiti pak Balaguk suami yang ia tekadkan menjadi pendamping tunggal hingga akhir khayat.
"Bang, apa abang sudah lupa akan ikrar kita berdua sebelum menikah dulu? Di tepi sungai Inderagiri, di bibir batu miring panjang menghampar, pas di depan bioskop Sempena Riau, sepulang menonton film Romi dan Yuli.’’ Sebetulnya dalam hati mak Milah malas dan meloye mengingat-ingat peristiwa itu. Ia merasa sangat norak dan menjadi geli sendiri, pada perilaku-perilaku yang menurut orang masa kini disebut dengan masa pacaran.
Namun. "Lantaklah! Aku tak perduli.’’
"Aku cinta engkau bang, untuk itulah aku menyetujui dan akhirnya kita berdua bersepakat bahwa tidak ada dusta dalam rumah tangga kita. Semuanya harus transparan, tak ada rahasia-rahasia dan kejujuran menjadi yang diutamakan dalam kehidupan di keluarga kita.’’
Pak Balaguk, tetap bungkam seribu bahasa. Ia tak memperdulikan celoteh mak Milah, bahkan sambil menundukkan wajah ia memalingkan muka membelakangi mak Milah seraya menatap lantai.
Memang betul-betul sirnalah sudah rasa gugup, takut dan bersalah di hati mak Milah. Malah kini sebaliknya, perasaan itu berubah berbalik menjadi amarah, terhina karena perilaku pak Balaguk terakhir ini, ditambah dengan sikap acuh tak acuh yang diperlihatkannya.
"Hai Balaguk! Apakah engkau sudah pekak tuli dan tak berperasaan?’’ Hilang rasa hormat, sopan santun dan adab, yang diwajibkan oleh seorang isteri terhadap suami. Mak Milah entah sadar entah tidak, telah masuk dalam kategori hilang kendali.
Tersentak pak Balaguk, dengan suara lebih menggelegar, merasa harga dirinya sudah diinjak terlebih lagi pada kalimat-kalimat tajam tak seperti biasanya.
"Ini semua kulakukan karena ulah engkau Milah! Dan inilah kejujuran atau keterus terangan yang kau minta. Engkau yang membuat keadaan menjadi seperti ini. Bukankah engkau yang terlebih dahulu menconteng, menandai baris-baris benda yang dipromosikan dalam iklan itu?
Aku sengaja memotong bahagian iklan tersebut, agar kau sadar akan usia kita yang sudah beranjak tua. Segala hasrat yang kuinginkan, aku sadari bahwa tak seluruhnya dapat kau penuhi seketika. Begitu juga sebaliknya dengan hasratmu. Terlebih lebih pada hasrat yang terkait dengan kondisi umur, kemampuan fisik serta tenaga dan untuk itu, kau tak perlu menggantinya dengan alat bantu seksual dari karet atau plastik bernama, "Vagina bulu/Vagina full body’’ seperti yang tercantum di baris pertama yang kau conteng pada iklan di koran itu. Atau kau ganti dengan "Vagina Denyut/Vagina empot-empot, Vagina montok,’’ yang juga kau tandai dan hal itu aku yakini hanya, karena akhir-akhir ini, permintaanku untuk melakukan hal yang satu itu selalu kau tolak dengan berbagai alasan.’’ Pak Balaguk menghela nafas dalam-dalam. Mak Milah terdiam, tak satu katapun mampu ia ucapkan.
"Sungguh mati Milah, aku sama sekali tak memerlukan itu. Ketika tahajud dan sujudku yang jujur mendapat jawab sebagai petunjuk tak bersuara dariNya, aku melaksanakan petunjuk itu. Melaksanakan petunjuk itu dalam segala hal dan yang membuat aku sadar bahwa hidup taklah dapat "menongkat langit". Aku merasa sangat terhina dengan perbuatanmu, aku tak serendah itu.’’ Nada suara pak Balaguk mulai melemah dan terlihat jelas bulir-bulir air mulai terlihat di kedua sudut matanya.
"Dan... yang kunikahi lalu kukawini selama lebih dari tiga puluh lima tahun ini adalah kau Milah, Sumarmilah binti Jalindam, perkawinan halal yang diridhoi Tuhan, aku tak ingin kawin dengan cara lain, dengan orang lain, apalagi dengan benda-benda seperti di iklan itu. Tegasnya aku tak sudi ‘Kawin dengan Plastik’, titik.’’
"Hah...!’’ Mak Milah terkesiap, yang ada hanya diam tak berkata-kata.***(ak27)
Dantje S Moeis
adalah perupa Riau yang juga rajin menulis sajak serta cerpen. Ia juga menulis esai. Saat ini menjadi dosen di STSR.
CERPEN | Jumadi Zanu Rois

[ArtikelKeren] CERPEN - Hari ini minggu yang ke lima. Kami masih juga tidak mendapat kabar dari kampung. Apa lagi kiriman uang. Simpanan telah pula menipis. Risau dengan biaya dengan yang harus kami keluarkan dalam minggu ini. Bagai mimpi buruk. Menikam setiap sendi di tubuh kami. Dari ujung rambut hingga ujung jari. Hanya kata sabar yang dapat aku lontarkan kepada adikku satu-satunya itu.
Tak biasa Ayah seperti ini. Kabar dari kampung biasanya kami dapat dari Ayah. Setiap akhir minggu Ayah selalu saja menelpon kami. Di minggu ke empat, Ayah akan menyuruh aku untuk mengecek di rekening. Untuk melihat kiriman uang. Setelah uangnya kami ambil. Aku akan segera menghubungi Ayah. Untuk mengucapkan terima kasih. Tidak biasanya Ayah seperti ini. Segala duga berkecamuk di benak kami.
"Kalau juga Ayah tidak megirim belanja. Kita makan apa, bang?’’
"Sabar Sin. Ayah tak mungkin lupa. Di musim hujan seperti ini, mungkin membuat ayah sulit untuk mendapatkan uang,’’ bujuk aku kepada Husin. Sambil kupandang Netbook yang wallpapernya ku pasang gambar kami sekeluarga.
"Inilah salah satu solusi jika kiriman tak juga kami terima akhir bulan ini,’’ kataku dalam hati.
"’Ini sudah hampir dua purnama, bang’’.
"Ya. Sabar. Lagi pun persediaan kita masih cukup sampai satu minggu ke depan’’.
"Lalu biaya kuliah kita?. Minggu ini terakhir kita harus bayar uang praktik’’.
"...................’’
Hasan hanya diam. Ingatan tentang biaya kuliah menghentak kepalanya. "Jika aku harus menjual Netbook ini, tak juga akan cukup untuk membayar biaya kuliah,’’ gumamku dalam hati.
"Kalau saja Ayah mengizinkan kita kerja sampingan. Tentu kita tak serumit ini, bang’’.
"Ayah hanya ingin kita kuliah. Ayah tak mau kerja akan menghambat kuliah kita. Cepat selesai. Cepat pulang kampung. Di kampung kita bisa praktekkan semua ilmu yang kita miliki. Dikampung lebih membutuhkan kita. Cuma itu harapan ayah’’.
Sejak kami meninggalkan kampung. Ayah telah menekan bahwa kami tidak boleh bekerja sampingan untuk mencari uang selama kuliah. "Kebun karet yang kita punya cukup untuk biaya kuliah kalian,’’ kata Ayah menjelang keberangkatan kami besok harinya. Ibu kota provinsi sangat jauh dari kampung kami. Ini terbukti kampung kami jarang mendapat jatah pembangunan.
"Maaf. Kami baru menyadari kampung ini ternyata mempunyai kekayaan tersendiri. Kami dari pihak pemerintah, akan bertanggung jawab dengan kemajuan kampung ini. Dalam jangka waktu dua tahun akan datang, kampung ini akan segera kami dirikan Sekolah Menengah Pertama. Tiga ruang kelas permanen akan segera kami bangunkan. Insya Allah. Yang menjadi pikiran kami sekarang, jarak letak kampung yang jauh dari kota akan menghambat barang masuk ke daerah ini. Maka perlu waktu yang lama untuk menjadikan kampung ini tak tertinggal dari kampung yang lain’’. Inilah pidato yang paling aku ingat ketika Bapak Bupati berkunjung di kampung kami. Saat itu aku kelas empat Sekolah Dasar.
Janji pak Bupati di tepati. Aku adalah siswa perdana di Sekolah Menengah Pertama itu. Dengan sepuluh orang murid yang semuanya laki-laki. Sekarang sekolah itu menjadi SMP Negeri 1 di kecamatan kami. Berkat Sekolah ini mengantarkan kami ke bangku kuliah.
Ingatanku tentang kampung terhenti. Husin menangis.
"Aku risau dengan ayah, bang’’.
"Apa yang kau pikirkan?’’
"Aku takut ada sesuatu terjadi dengan Ayah’’.
"Kita sama-sama berdoa. Semoga tidak terjadi sesuatu dengan Ayah,’’ tak sadar air mataku jatuh. Tatapanku jauh ke kampung. Bayangan Ayah merambah hutan pikiranku. Ingin segera aku berlari menemuinya.
***
Sudah tiga minggu. Kampung betul-betul ditandang kecamuk yang menakutkan. Malam-malam yang membuat para perempuan yang bersuami tak bisa tidur seperti biasa. Kampung semula terkenal aman dan tentram, tiba-tiba menjadi sebuah hutan puaka. Gemuruh tangis mengisi suasana malam bak simphoni dari sebuah orkestrasi dengan nada-nada sumbang dan mengerikan.
Hal yang tak pernah dibayangkan masyarakat kampung ini sebelumnya. Begitu juga Maskur dan Salma. Pasangan suami istri yang juga tinggal di kampung ini. Sejak kedatangan mereka dari pulau Jawa dua puluh lima tahun lalu, tak pernah mereka mengalami kejadian seperti ini. Kini kampung mereka betul-betul bagai momok yang siap menerkam mereka. Para suami sibuk menyiapkan berbagai senjata tajam. Sedang para istri hanya bisa menangis sedaya mereka. Sebab mereka tahu, suami mereka tetap tidak akan membatalkan niat untuk melepas geram malam itu. Suasana seperti ini pun terjadi di rumah Maskur dan Salma.
Di luar rumah. Suara tangis dan teriakan begitu membuat telinga Salma bergetar hebat. Dari pelupuk mata, mengalir air membasah sebagian pipinya.
"Bagaimana dengan nasib anak kita, bang?’’
"’Kau kan masih ada’’.
"Jadi abang betul-betul ingin bunuh diri?’’
"Siapa yang ingin bunuh diri?’’
"Melawan mereka sama dengan bunuh diri, bang’’.
"Kami hanya mempertahankan hak kami. Kalau pun nyawa kami melayang, setidaknya itu sebagai bukti kami dalam mempertahankan hak’’.
Semakin membuncah air mata Salma mendengar penjelasan suaminya. Dari mata istrinya, Maskur melihat ada keraguan atas keputusan yang dipilih ini. Maskur sangat mengerti Salma. Jika Salma sudah tidak sanggup lagi melarang, maka air mata adalah kata-kata terakhir yang digunakan. Tak jarang Maskur pun akan membatalkan segala niat untuk sesuatu hal. Derai air matanya mengabarkan betapa dia tidak akan kuat bila hidup tak ada suami di sampingnya. Tapi untuk sekali ini. Maskur harus memaksa kehendaknya kepada istrinya itu.
"Ini marwah. Walau nyawa taruhannya. Kalau nanti nasib buruk menimpa abang, keikhlasanmu sangat abang harapkan. Ini juga merupakan tugas abang sebagai ayah dan sebagai suami. Sesuatu yang menjadi milik keluarga jangan sampai jatuh ke tangan orang lain. Anak-anak kita tidak boleh menjadi asing di kampungnya sendiri. Kampung ini akan menjadi harta warisan untuk mereka kelak,’’ jelas Maskur sembari membelai rambut istrinya.
Betapa Maskur melihat kecantikan sang istri menancap jauh ke dalam hatinya. Wajah istrinya tak ubah saat pertama kali mereka bertemu. Tak bisa dia ingkari. Kecantikan parasnya membuat Maskur bergejolak untuk memilikinya. Kini kebersamaan mereka sudah dua puluh lima tahun. Segala ombak telah mereka tempuh bersama. Dari rahim istrinya, telah lahir dua laki-laki tangguh. Anak mereka. Tidak terlintas di pikiran Maskur untuk menduakan sang istri. Meskipun, garis keturunan Ayahnya beristri banyak, ternyata tak mengalir di darah Maskur. Keperempuanan Salma, menjadikan Maskur sebagai laki-laki yang paling beruntung di dunia.
"Terima kasih Salma. Dari lembut tanganmu telah kau jahit sulam sutra yang begitu indah,’’ puji Maskur di dalam hati saat bibirnya menyentuh kening sang istri.
Maskur melenggang meninggalkan Salma. tak ada sedikit pun keraguan dari setiap langkahnya. Meski air mata Istrinya semakin mengalir. Dengan langkah tegap dan sebelah kapak di tangan kirinya, Maskur telah hilang dari penglihatan Salma.
Malam itu. Suasana kampung sangat mencekam. Mungkin beginilah nanti saat kiamat datang. Tak ada suara azan yang terdengar. Sejak Maghrib, semua laki-laki telah mengumpul di rumah Hanafi. Segala kegiatan telah diliburkan. Begitu pula kegiatan mengaji di rumah Wak Samat. Anak-anak dan perempuan tidak di izinkan untuk keluar.
"Sesiapa yang masih menyimpan takut, sebaiknya mundur. Kami izinkan untuk segera tinggalkan kampung ini,’’ kata-kata Hanafi mengumandang ke telinga yang hadir.
Ada enam puluh lima orang berkumpul di halaman rumah Hanafi. Di tangan mereka telah pula terdapat berbagai macam senjata tajam. Dari pisau, celurit, grambik, kapak, panah, senapan angin, parang, rantai kapal, kayu dan lima kilo minyak benzin per orang. Dari wajah mereka tak ada sedikit pun ketakutan. Saat ini nyawa bagi mereka bukanlah barang yang berharga. Semangat mempertahankan hak mereka adalah senjata paling ampuh.
"Segala akibat buruk bukanlah suatu kebetulan. Lebih baik mati berdiri dari pada hidup berlutut. Nenek moyang kita telah mewariskan kampung ini. Adalah tugas kita untuk mempertahankannya. Inilah malam bukti bahwa kita ada. Akan kita hapus ingatan mereka tentang kampung tak berpenduduk ini’’. Semangat Hanafi begitu berkobar. Membakar segala rasa takut.
Sebuah lakon akan segera dipentaskan. Bukan sandiwara. Ini nyata. Setelah menyusun rencana penyerangan. Enam puluh lima orang itu bergegas menuju barak tempat mereka istirahat. Membakar semua alat berat adalah rencana yang pertama. Sepuluh alat berat yang telah meratakan hutan di kampung ini mengeluarkan dentuman yang sangat keras. Dentuman keras di sambut dengan tembakan dari pihak keamanan perusahaan dan juga masyarakat kampung. Pertempuran pisik tak pula dapat di elak. Ratusan keamanan tentara, polisi, sampai sekuriti dari pihak perusahaan dengan senjata lengkap menyebar mencari penduduk.
"Jangan ada satu pun yang mundur!’’ jerit Hanafi dari balik semak.
Masyarakat menyerbu. Gelap malam tak buat mata mereka rabun mencari musuh. Pukulan, sabitan, lemparan, sampai tembakan tak berhenti. Beberapa lemparan yang mengenai kepala sama sekali tak buat hancur semangat Maskur dan kawan-kawan. Satu tembakan melesat. Tembakan dari pihak lawan mengenai lutut. Persis di samping Maskur. Sontel terluka. Geram di dada Maskur semakin bergejolak.
DOR...!!! Sebuah peluru mendarat mulus ke dada Maskur. Kini giliran Maskur tertembak. Seketika saja ia merasa dunia terang.
Tiba-tiba saja bayangan anak-anak menatapnya dengan tangisan. Ia teringat Salma. Senyum manis, lembut rambut, wangi tubuh serta masakan istrinya begitu terasa di hidungnya.
Anak-anaknya, Hasan dan Husin. Harapannya. Tingkah mereka ketika masih anak-anak berlari di ingatan Maskur. Dialah yang memandikan mereka setelah selesai bermain debu. Dia juga yang mengantar mereka saat pertama kali mendaftar ke sekolah. Memberi tanda tangan setiap akhir semester di raport sekolah. Dia juga ingat kalau ia belum mengirimkan biaya kuliah untuk kedua buah hatinya. Setiap helai lembaran kenangan bersama mereka berjalan begitu cepat. Tak bisa terbaca setiap kalimat. Dengan teriakkan Maskur sampaikan sebuah azam.
"Ini tanah kalian!. Pertahankan!’’
Inilah bakti Maskur kepada mereka. Bakti terakhir untuk mereka dan kampung ini. Maskur sekarat. Seketika cahaya menghilang dari matanya.***
Jumadi Zanu Rois
adalah alumnus jurusan Seni Teater Akademi Kesenian Melayu Riau (AKMR) yang sekarang menjadi Sekolah Tinggi Seni Riau (STSR). Memainkan dan menyutradari sejumlah pertunjukan teater, dan mengikuti sejumlah festival teater di Bandung dan Yogyakarta. Kini ia mulai menekuni sastra, dengan terus belajar membaca dan menulis. Tinggal di Pekanbaru.


CERPEN | Hang Kafrawi
[ArtikelKeren] CERPEN - Seorang lelaki berusia 70 tahun, duduk di tangga depan rumah panggungnya yang terbuat dari papan. Cahaya pelita dari dalam rumah, membentuk cahaya garis-garis ke tanah melalui dindingnya yang jarang. Lelaki tua itu menatap tajam ke depan, memandangi gelap yang menyelimuti hutan di hadapannya. Berkali-kali tangannya bergerak ke mulut, meletakan rokok kretek ke bibir, lalu rokok tersebut dihisap, asap pun mengepul keluar dari hidungnya. Berkali-kali ia melakukan hal itu dengan menatap tajam ke depan.
Suara binatang malam terus saja meningkah perjalanan waktu. Angin yang tidak begitu kencang, menciptakan tarian daun-daun. Suara desiran yang terlahir dari sentuhan angin ke daun-daun menciptakan dingin, namun lelaki tua itu tidak merasakan kesejukan. Ia masih tetap duduk di tangga depan rumahnya. Tiada rasa ketakutan sedikit pun dari wajahnya, padahal gelap semakin tebal menyelimuti seluruh kampung.
Bagi lelaki tua itu, gelap dan sunyi adalah teman. Teman yang tak pernah jemu berkunjung saban waktu ketika malam menjelma. Lelaki tua itu selalu berpikir bahwa kehendak alam adalah kehendak dirinya. Ia tidak akan pernah mengkhianati alam, walaupun nyawa hilang dari badan. Tersebab setia kepada kehendak alamlah, lelaki tua itu rela hidup sendiri di rumah yang berada di ujung kampung ini.
Dulu, sebelum perusahaan pembabat hutan datang, di kawasan rumah lelaki tua itu, ada ratusan rumah. Mereka harus rela mengungsi disebabkan himpitan ekonomi. Tanah berserta isinya, terpaksa dan dipaksa dijual ke pihak perusahaan. Pihak perusahaan dengan mengantongi izin dari pemerintah memberi ganti rugi yang tidak sepadan kepada masyarakat yang mendiami kawasan itu. Pihak perusahaan memiliki kekuatan dengan izin yang dikeluarkan pemerintah, sementara masyarakat tidak memiliki surat atas tanah itu. Padahal tanah itu sudah jadi milik mereka dari nenek moyang secara turun-temurun.
Cuma lelaki tua itu yang bertahan. Lelaki tua yang tidak memiliki istri dan anak itu, berkeyakinan bahwa tanahnya adalah kuburannya. Siapapun tidak akan pernah dapat mengusirnya, kecuali kehendak alam yang diutus olah Sang Maha Kuasa.
"Sudahlah, Wak, kite pindah saje dari sini,’’ suara Daham membujuk lelaki tua itu beberapa tahun yang lalu. Dan suara itu masih mengiang di telinga lelaki tua tersebut.
"Ye, Wak. Kite tak mungkin dapat melawan perusahaan itu. Perusahaan memiliki izin, sementara kite tidak. Kite akan habis melawan perusahaan itu, Wak,’’ kata Karim pula.
"Tidak! Sejengkal pun aku tak akan pernah pindah dari tanah milik aku ini!’’ bantah lelaki tua itu.
"Wak menunggu ape lagi di sini? Semue orang dah pindah, tinggal Wak sendiri saje yang belum pindah,’’ Daham membujuk lelaki tua itu.
"Betul tu, Wak. Walaupun tanah di tempat kita yang baru itu tidak seluas tanah kita di sini, tapi hidup kite aman. Tak ade lagi ancaman dan teror. Kite hidup tenang di kawasan baru itu, Wak,’’ tambah Karim.
"Ini tanah aku! Tanah inilah marwah aku satu-satunye!’’ ujar lelaki tua itu sambil bercengkak pingang. ‘’Kalau mike nak pindah, pindahlah! Aku tidak!’’ kata lelaki tua itu lagi.
Lelaki tua itu masih menghisap rokok kretek yang ada di tangannya. Ia menarik nafas panjang-panjang. Raut mukanya memancarkan kelelahan yang tidak berujung. Namun ia tidak mau beranjak dari tangga rumahnya, walau hujan rintik-rintik telah pula bersatu dengan malam yang semakin gelap.
Mata lelaki tua itu menyapu ke arah depan. Dengan sigap ia memperhatikan semak-semak di depan yang bergerak secara tiba-tiba. Setahun belakangan ini lelaki tua itu memang harus waspada. Setelah tetangganya semua pindah, teror selalu saja datang berkunjung ke dirinya. Lelaki tua itu tidak mau menuduh, namun di hatinya, ia yakin bahwa teror itu datang dari pihak perusahaan.
Pernah tiga bulan yang lalu, rumahnya dibakar. Untung saja pada waktu itu ia cepat pulang dari hutan, kalau tidak tentulah rumah yang atapnya terbuat dari rumbia dan dinding terbuat dari papan sudah menjadi arang dan rata dengan tanah. Waktu itu api baru membakar dapur rumahnya, dengan sigap, orang tua itu memadamkan api yang belum besar itu.
"Percuma kalian membakar rumahku, aku tetap akan bertahan,’’ ucap lelaki tua itu dengan wajah memerah menahan geram.
Semak di depan orang tua itu semakin kuat bergoyang. Lelaki tua itu pun berdiri. Parang yang disembunyikan di balik dinding dekat pintu dikeluarkan dan ia pun menggenggam kuat-kuat hulu parang itu. Suara binatang malam semakin melengking meningkah waktu. Angin berhembus agak kencang, dan rintik-rintik hujan semakin laju jatuh ke tanah.
Lelaki tua dengan parang di tangannya, semakin tegap berdiri. Tiada kecemasan sedikitpun menghiasi mukanya. Bertahun-tahun hidup di kampung hutan ini, telah melatih dirinya tidak gentar berhadapan dengan apapun juga. Matanya semakin tajam mengarah ke semak-semak yang bergoyang di depannya itu.
"Siapapun kalian, keluarlah! Aku tak akan gentar sedikit pun!’’ ucap lelaki tua itu dengan suara yang tegas.
Seketika semak di hadapannya berhenti bergoyang. Mungkin saja keberanian orang tua itu menciutkan makhluk yang menggoyangkan semak tersebut. Namun beberapa saat kemudian semak itu semakin kuat bergoyang. Lelaki tua dengan parang di tangannya bersiap-siap menunggu kejadian berikutnya. Lelaki tua itu seakan tidak mengedipkan matanya. Ia khawatir, lengah sedikit saja, yang menggoyangkan semak itu akan menyerangnya.
Malam semakin menghujam gelap. Angin membawa dingin menikam alam. Suasana semakin mencengkam. Hujan terus saja membasahi tanah, dan suara binatang malam semakin sayup terdengar. Tiba-taba dari arah semak yang bergoyang itu muncul Daham dan Karim sambil mengarahkan senapan ke arah orang tua itu. Orang tua itu pun terkejut bukan kepalang.
"Daham, Karim...’’
"Sudahlah, Wak. Wak pindah sajelah dari sini! Kami sudah muak dengan sikap Wak ini!’’ kata Daham masih mengarahkan senapan ke arah orang tua itu.
"Betul, Wak. Wak pindah sajelah, sebelum kami khilaf mate,’’ Karim sedikit berharap, namun senapan yang ia pegang tetap mengarah ke orang tua itu.
Belum sempat orang tua itu bicara, Daham kembali mengeluarkan suaranya.
"Kami sudah membujuk Wak baik-baik, tapi Wak degil. Wak tetap tinggal di sini dengan alasan marwah! Sekarang waktu kami dah habis, Wak! Pihak perusahaan tidak akan membayo kami, kalau Wak tak mau pindah!’’
"Wak, kami tak same dengan Wak. Wak hidup seorang diri, kami punye anak bini yang berhak hidup senang!’’ ucap Karim dengan suara yang mula meninggi.
Orang tua itu menarik nafas panjang. Ia betul-betul tidak menyangka Daham dan Karim akan menodongkan senapan ke arah dirinya. Seandainya orang lain yang melakukan, orang tua itu tidak akan segan menebas kepala orang tersebut dengan parang yang ada di tangannya. Ini Daham dan Karim, anak kawannya yang sama-sama membuka hutan ini dulu dan menjadikannya kampung.
"Wak, kami tidak ade pilihan lain. Wak pindah malam ini juge, atau Wak di tangan kami,’’ suara Karim bergetar.
Orang tua itu kembali menarik nafas panjang, kali ini matanya ikut terpejam. Udara dingin masuk ke hidungnya dan bergerak ke dada orang tua tersebut. Binatang malam tetap meningkah gerak waktu, walaupun suaranya sayup-sayup terdengar. Desiran daun-daun yang ditiup angin telah berkurang bunyinya. Begitu juga hujan yang menetes dari langit tidak selebat tadi. Namun rasa kesunyian semakin menusuk tubuh orang tua itu. Ia menggigil kesal.
"Tidak Karim, Daham. Aku tidak akan pindah dari tanah aku ini. Inilah tanah aku, tanah ini juga kubur aku,’’ ujar orang tua itu dengan suara datar.
"Jangan Wak kire, kami tak berani menembak!’’ ucap Karim.
"Hidup paling sunyi yang pernah aku rasakan, ketika kasih sayangku pernah singgah pada orang yang menganggap aku musuhnya. Dan hidup paling sunyi itu adalah malam ini. Karim, Daham, aku bukanlah orang yang suka mengiba. Aku tak ingin mengenang masa lalu dan menjadikannya bentengku untuk bertahan hidup. Bagi aku, hari ini, ya hari ini dan aku akan tetap berdiri tegap untuk hari ini.
Kalaupun aku mati di tangan orang-orang yang pernah kasih sayangku singgah dulu, tidak akan pernah aku sesali,’’ ucap orang tua itu sambil melangkah menuju Karim dan Daham.
Karim dan Daham saling berpandangan. Mereka berdua tidak ingin orang tua itu melangkah lagi. Keraguan memang sedang bermain di hati Karim dan Daham. Namun apabila orang tua itu semakin mendekat, tidak mustahil senapan yang mereka pegang akan melepaskan peluru ke orang tua tersebut.
"Berhenti, Wak!’’ ucap Karim.
"Ya, Wak, kami tak segan menembak, Wak,’’ Daham pula meminta orang tua itu berhenti.
"Jangan takut Karim, Daham. Setiap orang ingin mati di dekat orang yang paling dicintai. Aku tidak memiliki siapa-siapa di dunia ini, tapi kawan aku dulu punya tempat mencurahkan segala rasa kasih sayang, dan aku ingin menumpangnya. Kematian yang paling menakutkan adalah mati tiada yang menangisi,’’ ujar oang tua itu semakin mendekat Karim dan Daham.
Kini orang tua itu sudah berdiri di depan moncong senapan Daham dan Karim. Jari tengah Karim dan Daham sudah pula berada di pelatuk senapan, dan jari tengah itu sudah menarik pelatuk senapan ke belakang. Karim dan Daham sudah tidak memiliki pilihan lagi, mereka terpaksa menghabisi nyawa orang tua itu malam ini.
"Dooooorrrrrr...’’ suara senapan memecah kesunyian.
Orang tua itu mengigit bibir bawahnya kuat-kuat, sementara tangan kirinya mencekik leher Karim kuat-kuat, dan parang di tangan kanannya mendarat ke leher Daham.
"Ini tanah aku! Siapa pun tidak bisa mengusirku!’’ ucap orang tua itu dengan pasti.***(ak27)
Hang Kafrawi
Ketua Jurusan Sastra Indonesia, FIB Unilak Ketua Teater Matan, dan mengajar juga di STSR.