Dalam setiap kehidupan, ada kesedihan dan kebahagiaan, ada hari dimana kita kehilangan kepercayaan kita, hari dimana teman kita melawan diri kita sendiri. Tapi hari itu tak akan pernah datang saat kita membela suatu hal yang paling berharga dalam hidup ~ @MotivatorSuper

Jumat, 15 November 2013

Orang Bangkrut di Akhirat

Jumat, November 15, 2013 By Unknown No comments

Oleh : Yusuf Rahman


[ArtikelKeren] OPINI - Istilah bangkrut biasanya terkait dengan dunia bisnis, yakni merujuk pada pebisnis yang terus menerus merugi dalam bisnisnya sehingga ia tidak mampu lagi membayar utangnya.

Bisa menimpa pengusaha kecil, menengah bahkan besar. Pengusaha yang tidak mampu membayar utangnya diajukan kreditor ke pengadilan untuk dinyatakan pailit.

Ketika hakim memutuskan ia pailit, sisa kekayaannya betapapun kecilnya, disita untuk dijadikan pembayar utangnya.

Ternyata orang bangkrut tidak hanya terdapat di dunia tetapi juga di hari kiamat. Beda dengan di dunia, orang-orang bangkrut di akhirat dijebloskan ke dalam neraka. Siapa mereka dan mengapa mereka diberi hukuman yang amat pedih itu?

Terdapat beberapa hadits Rasulullah SAW yang menjelaskan proses munculnya orang bangkrut (Arab: al-muflis) di akhirat itu di antaranya sabda Nabi yang terjemahan bebasnya begini,” Orang bangkrut adalah orang yang datang pada hari kiamat sembari memiliki kebaikan (pahala) sebesar gunung.

Ia datang pula dengan dosa menghina, mengambil harta, menumpahkan darah, mencaci-maki dan memukul orang. Maka diambillah pahalanya untuk diberikan kepada orang-orang yang dizaliminya itu.

Ketika kebaikannya (pahala) habis sebelum ia membayar kewajibannya, diambillah dosa orang-orang yang dizaliminya itu untuk dibebankan kepadanya dan sesudah itu ia dilemparkan ke dalam neraka (HR Muslim).

Jadi ia tidak lagi memiliki pahala sama sekali dan yang dimilikinya hanyalah dosa oang-orang yang dizaliminya semasa hidup di dunia, dosa manusia ditimpakan kepadanya.

Pengadilan Akhirat
Seseorang dinilai bangkrut atau tidak setelah ia melalui pengadilan akhirat di yaum al- mahsyar, yaitu hari di mana seluruh manusia berkumpul.

Waktu itu setiap manusia tahu apa yang diperbuatnya di dunia lewat catatan yang dibuat malaikat. Simaklah bunyi firman Allah SWT ini.

“Dan setiap manusia telah Kami kalungkan (catatan) amal perbuatannya di lehernya. Dan pada hari kiamat Kami keluarkan baginya sebuah kitab dalam keadaan terbuka. Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada hari ini sebagai penghitung atas dirimu” ( Al-Isra’ 13-14). Manusia tidak bisa menafikan isi kitabnya itu karena “pada hari itu mulut mereka Kami tutup dan tangan mereka berbicara kepada Kami sementara kaki mereka memberi kesaksian terhadap apa yang dahulu mereka usahakan (lihat Yaasin 65)

Oleh karena “bukti hukum” dalam pengadilan akhirat itu mencakup seluruh perbuatan baik dan buruk seseorang manusia, maka pertimbangan guna menetapkan seseorang bangkrut atau tidak, tidaklah terbatas pada perbuatan baik dan perbuatan buruk seperti termaktub dalam hadits di atas.

Sama sekali tidak. Amatlah banyak ragamnya, mencakup semua perintah Tuhan yang ditaati dan larangan-Nya yang dilanggar yang berujung pada terjadinya pahala dan dosa.

Khusus mengenai perbuatan yang berujung pada dosa itu dapat ditelusuri dari perilaku orang-orang yang melanggar larangan Tuhan yang di antaranya berupa kasus-kasus berikut.

Seorang anak membacok ayahnya karena permintaannya ditolak; seorang suami menghianati isterinya dengan melakukan perselingkuhan dengan perempuan lain; seorang pelajar menyiramkan air keras kepada beberapa penumpang bus; seorang pengendera motor merampas tas perempuan yang berboncengan dengan temannya; seorang penumpang bus mencopet uang penumpang lainnya yang berdiri bergelantungan; seorang pegawai baru melayani warga kalau ia diberi uang pelicin; seorang pengusaha merugikan banyak orang melalui usaha multi level marketing yang dibangunnya; seorang hakim memenangkan perkara orang yang menyuapnya dan ribuan bahkan jutaan kasus lainnya.

Dalam kasus-kasus di atas terdapat dua pihak yang berinteraksi yaitu pelaku dan korban. Si pelaku potensial jadi bangkrut di akhirat bila kesalahan (dosanya) lebih banyak dari kebaikan (pahalanya) sementara si korban bakal menerima pahala yang diambilkan dari pelaku.

Jadi kedua orang suami di atas berkurang dosanya karena sebagian pahalanya itu diserahkan kepada isteri mereka dan kepada setiap orang yang dizaliminya. Menyerahkan pahala dan menerima dosa itu dilakukan dalam sidang pengadilan akhirat. Begitulah seterusnya menyangkut kasus-kasus lain.

Hindari Kebangkrutan
Sasaran hidup seorang muslim adalah bahagia (hasanah) di dunia dan di akhirat sebagaimana sering kita mohonkan dalam doa kita (seorang teman secara berkelakar menyebutnya ‘doa sapu jagat’ karena menyangkut kebaikan di al-darain, dua tempat di dunia dan di akhirat, dan oleh karena itu ia tidak berdoa panjang-panjang).

Namun sekiranya kita merasa bahagia di dunia itu tidak tercapai, baiklah kita fokus menggapai bahagia di tempat abadi, akhirat.

Maka kita perlu .mengambil langkah-langkah berikut. Pertama, bertobatlah kepada Allah SWT dengan menyatakan penyesalan yang sedalam-dalamnya atas perbuatan/kesalahan kita pada-Nya dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Kedua, marilah kita berbesar hati meminta maaf atas kesalahan kita kepada orang yang kita zalimi yaitu orang yang kita perlakukan tidak sesuai dengan tuntunan syari’ah.

Ketiga, lakukanlah lebih banyak lagi aktivitas/amal yang menghasilkan pahala baik berupa ibadah vertikal maupun ibadah sosial. Keempat, marilah kita berhenti berbuat dosa baik melalui lidah atau anggota badan lainya. Semoga langkah-langkah kita itu diridhai Allah SWT.

Akhirnya penulis ingin menginformasikan kepada para pembaca bahwa tema awal dakwah Rasulullah setelah beliau diperintahkan Tuhan menyosialisasikan risalahnya hanya dua, yaitu beriman pada Allah SWT dan beriman pada hari akhirat. Tema-tema lain muncul lebih kemudian.

Fakta historis ini mengisyaratkan betapa pentingnya kehidupan di akhirat itu. Beriman padanya disenafaskan dengan beriman pada Allah.

Oleh karena itu janganlah kita terlena oleh kenikmatan hidup duniawi dan kurang peduli pada hari berbangkit itu. Di akhirat bakal terdapat orang-orang yang menyesali hidupnya di dunia tetapi “sesal kemudian tak berguna”.

Sikap menyesal di hari kemudian itu terucapkan berupa “ yalaitani kuntu turaba” (An-Naba’ 40) yang maksudnya “alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah “. Kalau ia tanah ia terhindar dari kewajiban berhisab. Na’uzubillah min zalik.***(RP)



Yusuf Rahman
Mantan Rektor IAIN Suska Riau (sekarang UIN Suska Riau)


0 komentar :

Posting Komentar

Terima kasih atas partisipasi anda. Semoga hari ini menyenangkan.


http://artikelkeren27.blogspot.com/2014/01/hasil-seleksi-cpns-kota-pekanbaru-2013.html

http://artikelkeren27.blogspot.com/2013/12/pengumuman-kelulusan-cpns-kementerian.html


http://artikelkeren27.blogspot.com/2013/12/pengumuman-daftar-nilai-tkd-dan-tkb.html



http://artikelkeren27.blogspot.com/2013/12/pengumuman-daftar-nilai-tkd-dan-tkb.html



http://artikelkeren27.blogspot.com/2013/12/hasil-seleksi-cpns-kabupaten-indragiri.html


http://artikelkeren27.blogspot.com/2013/12/hasil-seleksi-cpns-kabupaten-kuantan.html
http://artikelkeren27.blogspot.com/2013/12/hasil-seleksi-cpns-kabupaten-siak-2013.html










PETUNJUK PENGGUNAAN