TEMBILAHAN [ArtikelKeren] NEWS - Bagi masyarakat Indragiri Hilir, komoditas kelapa merupakan faktor penunjang ekonomi utama keluarga, semenjak harga kelapa anjlok, perputaran ekonomi sangat jauh menurun, hal itu terlihat jelas dari aktifitas jual beli di Pasar Tembilahan.
"Jual beli yang terjadi di pasar belakangan ini sangat jauh menurun, bahkan ada diantara kami yang berjualan ini tidak jual beli dalam satu hari, khusus saya yang berjualan ikan kering ini, sudahlah harga murah pembeli pun tidak ada, "keluh David, seorang pedagang di pasar Tembilahan, Senin (22/7/2013).
Seperti diketahui bersama, komoditas kelapa memang faktor utama geliat ekonomi di Negeri Seribu Jembatan, jadi sejak kelapa anjlok, ditambah lagi banyaknya kerusakan kebun kelapa akibat abrasi air laut, penderitan tersebut semakin menjadi-jadi.
Ocu (30), seorang pedagang kelontong di Tembilahan juga mengeluhkan hal yang sama, semenjak komoditas kelapa ini hancur di Inhil, usahanya semakin memprihatinkan, bahkan untuk mengejarkan sewa ruko yang selama ini ditempati diperkirakan akan sangat sulit.
"Wah, tahun depan nampaknya kami akan berjualan di kaki lima jika putaran ekonomi masih seperti sekarang ini, karena tidak akan sanggup lagi menyewa ruko," kata Ocu.
Kondisi serupa juga terjadi pada pedagang busana, khususnya mendekati lebaran ini belum terlihat adanya antusias masyarakat untuk membeli, padahal sudah memasuki minggu kedu Ramadhan seperti dikatakan Riki, seorang pedagang pakaian di Pasar Tembilahan.
"Pembeli masih sepi, belum ada tanda-tanda pembeli akan seramai tahun lalu,"keluhnya. (zulfadli/MRnetwork)
"Jual beli yang terjadi di pasar belakangan ini sangat jauh menurun, bahkan ada diantara kami yang berjualan ini tidak jual beli dalam satu hari, khusus saya yang berjualan ikan kering ini, sudahlah harga murah pembeli pun tidak ada, "keluh David, seorang pedagang di pasar Tembilahan, Senin (22/7/2013).
Seperti diketahui bersama, komoditas kelapa memang faktor utama geliat ekonomi di Negeri Seribu Jembatan, jadi sejak kelapa anjlok, ditambah lagi banyaknya kerusakan kebun kelapa akibat abrasi air laut, penderitan tersebut semakin menjadi-jadi.
Ocu (30), seorang pedagang kelontong di Tembilahan juga mengeluhkan hal yang sama, semenjak komoditas kelapa ini hancur di Inhil, usahanya semakin memprihatinkan, bahkan untuk mengejarkan sewa ruko yang selama ini ditempati diperkirakan akan sangat sulit.
"Wah, tahun depan nampaknya kami akan berjualan di kaki lima jika putaran ekonomi masih seperti sekarang ini, karena tidak akan sanggup lagi menyewa ruko," kata Ocu.
Kondisi serupa juga terjadi pada pedagang busana, khususnya mendekati lebaran ini belum terlihat adanya antusias masyarakat untuk membeli, padahal sudah memasuki minggu kedu Ramadhan seperti dikatakan Riki, seorang pedagang pakaian di Pasar Tembilahan.
"Pembeli masih sepi, belum ada tanda-tanda pembeli akan seramai tahun lalu,"keluhnya. (zulfadli/MRnetwork)
Sumber : halloriau














0 komentar :
Posting Komentar
Terima kasih atas partisipasi anda. Semoga hari ini menyenangkan.