Oleh : Imam Gozali

Kemiripannya yaitu keduanya masuk bursa karena suasana politik partai pengusung sedang mengalami “kegundahan” yang luar biasa.
Apabila merunut ke belakang, pada tahun 2003 partai Golkar mengalami kegoncangan psikologis akibat runtuhnya Orde Baru. Soeharto sebagai kekuatan sentral di tubuh Golkar turun secara tidak terhormat.
Sebagai partai pendukung penguasa, Golkar harus membangun kembali kekuatan yang pernah berjaya selama 32 tahun. Salah satu cara yang logis, yaitu melakukan konvensi capres.
Alasan logis melakukan konvensi yaitu karena, pertama, permasalahan intern yang masih krisis kepemimpinan yang kuat seperti Soeharto tidak ada. apalagi ketika pertanggungjawaban Prof BJ Habibie sebagai presiden ditolak oleh MPR, semakin memperkuat Partai Golkar memerlukan capres yang bisa diterima oleh segala kalangan. Kedua, partai Golkar ingin memberi kesan telah benar-benar melepaskan bayang-bayang Orde Baru.
Langkah yang ditempuh melakukan konvensi adalah langkah politik untuk menghilangkan stigma negative tersebut.
Pesan yang diberikan, bahwa Partai Golkar juga menerima secara terbuka tuntutan reformasi sebagai partai terbuka untuk masyarakat sipil menjadi capres. Masuknya, Cak Nur sebagai peserta konvensi sebagai bukti pembenaran sikap keterbukaan Partai Golkar.
Ternyata partai Golkar belum siap 100 persen menerima kehadiran orang luar di tubuh partai Golkar. Konvensi hanya membuka ”sedikit pintu”, dan kemudian menutup kembali kesempatan non-partai menjadi capres.
Bagaimanapun, kekuatan Orde Baru masih belum hilang sama sekali di tubuh partai Golkar waktu itu, dan sikap Golkar seperti itu adalah hal yang wajar. Artinya, dalam keadaan seperti itu, berbuat revolusioner untuk membuka diri atau tidak sama sekali, sama-sama image masyarakat sebagai partai warisan Ode Baru tidak bisa dilupakan dengan mudah. Kenyataan ini akhirnya memutuskan untuk tetap mencalonkan kader Golkar dalam pemilu 2004, apapun risikonya.
Saat ini di 2014 partai Demokrat pun melakukan konvensi capres. Salah satu peserta yang sedang di atas angin yaitu Dahlan Iskan (dulu Cak Nur juga begitu). Jika dilihat komitmen, ada kesamaan, yaitu sama-sama ingin mewujudkan perubahan.
Perbedaannya, Cak Nur lebih sering disebut sebagai “Begawan Abiyasa” yang tempatnya pada tataran ilmu pengetahuan, pemikir dan penggagas pembaharuan yang berlian. Artinya dalam tataran teoritis sangat menguasai konsep negara yang ideal.
Sedangkan, Dahlan Iskan lebih kuat pada tataran praktik, apa yang dikatakan itu yang diperbuat. Karenanya, sering gerakan-gerakan yang dilakukan oleh Dahlan Iskan menimbulkan hentakan-hentakan yang dinilai mengejutkan, yang terkadang ada kesan ingin cepat selesai segala permasalahan tanpa birokrasi yang panjang.
Sebagaimana Cak Nur, Dahlan Iskan harus menghadapi beban psikologis yaitu membangun kembali kepercayaan masyarakat kepada partai Demokrat.
Berbagai permasalahan internal partai berkaitan dengan banyak kader yang kesandung korupsi benar-benar telah meruntuhkan kepercayaan publik. Ibarat sebuah perusahaan yang sedang pailit, Dahlan Iskan diminta untuk membangun kepercayaan karyawan untuk tetap percaya diri dan meletakan landasan strategi baru agar bisa keluar dari krisis yang berkepanjangan.
Strategi baru yang diterapkan Dahlan Iskan menggunakan jargon “Demi Indonesia” (DI), kalimat pendek tapi mempunyai arti semangat, progresif, dan mempunyai visi ke depan.
Dahlan Iskan mencoba membangun mindset masyarakat Indonesia, pertama, kesalahan tidak mungkin dihindari dalam mencari kebenaran. Kedua, lebih baik mencoba jatuh daripada tidak mencoba sama sekali.
Ketiga, meratapi masa lalu yang kelam hanya menghabiskan energi dan menimbulkan keputuasaan. Keempat, kesempatan untuk sukses dari keterpurukan terbuka lebar.
Karenanya, Dahlan Iskan tidak suka membicarakan supremasi hukum dan membratas KKN sebagaimana jargon partai Demokrat pada masa lalu.
Pertama, ini hanya menimbulkan kenangan yang kurang baik bagi partai Demokrat, terlalu konvensional, dan bisa jadi menjadi bahan ejekan partai lain yang akan mengecap sebagai jargon asbun (asal bunyi atau asal ngomong).
Kedua, sebenarnya supremasi hukum dan pemberantasan KKN merupakan suatu kebutuhan fundamental, dan tidak perlu dikampanyekan. Artinya, siapapun yang terpilih menjadi pemimpin bangsa ini memang harus menegakan kedua hal tersebut.
Ketiga, Dahlan Iskan ingin menunjukan program orisinil hasil pemikirannya dan ada kemampuan untuk mewujudkannya. Contoh program: kemerdekaan Indonesia dari listrik atau menggali energi alternatif sebagai pengganti BBM, dan teknologi ramah lingkungan.
Ide-ide seperti ini mudah dicerna oleh masyarakat dan terlihat logis serta hal yang dibahas secara langsung menyentuh kebutuhan dasar mereka, apalagi gaya Dahlan Iskan yang terkadang penampilannya lebih ndeso daripada asli orang desa, yang dengan mudah mendekat masyarakat tanpa jarak.
Permasalahan sekarang seandainya dia menjadi capres Demokrat, apakah mungkin mendapatkan kebebasan untuk merealisasikan ide-ide tersebut?
Apakah ia mempunyai kemandirian sebagaimana saat sekarang ini? Saya kira ini perlu diperjelaskan, dan kalau perlu dibuat “akta nikahnya”. Karena bagaimanapun, Dahlan Iskan dilamar, dan dia memerlukan hak dan kewajiban sebagai calon pengantin baru.
Dahlan Iskan tentu tidak ingin waktunya habis gara-gara ada yang “menarik baju” dari belakangnya untuk menuruti kehendak partai.
Saya tidak tahu apakah ini terpikir oleh Dahlan Iskan, atau bahkan bisa jadi ini tidak terpikir sama sekali, apalagi sikap yang tidak suka menggunjing kejelekan orang lain, membuat dia bersikap lurus dan fokus pada tujuan yang dicita-citakan.
Namun kehati-hatian itu juga perlu, karena dalam politik, tidak ada yang tidak mungkin. Paling tidak ada ungkapan ”tidak ada makan gratis”, termasuk dipinangnya Dahlan Iskan tetap ada unsur politik yang terkadang susah diterka dengan kasat mata.
Kejadian yang menimpa Cak Nur sudah menjadi bukti, dan yang terbaru adalah Ibu Risma wali kota Surabaya. Artinya dalam politik, sebuah kebaikan bisa juga dicaci dan dianggap banci, dan kejelekan bisa juga dipuji dan dianggap terpuji. Itulah politik. Waktu yang akan membuktikan. Wassalam.***(ak27)
Imam Gozali
Mahasiswa S3 UIN Suska Riau
















0 komentar :
Posting Komentar
Terima kasih atas partisipasi anda. Semoga hari ini menyenangkan.